Mimpi

Kamu percaya terhadap mimpi yang hadir dalam lelapmu?

Mungkin lebih bergantung pada.

Mengapa?

Karena pertama mimpi hadir tak bisa dikendali atau diminta begitu saja. Setidaknya aku tak punya kekuatan untuk melakukan hal itu.
Jadi selama mimpinya baik, menyenangkan hati, aku ingin mencoba percaya kalau itu pertanda yang baik pula. Percaya tak percaya, ya itung-itung mewarnai hidup saja.

Lalu dari sekian mimpi indah, yang mana yang paling kau ingat dan kau suka?

Tak ingin kuceritakan, karena aku takut nanti itu tak jadi nyata.

Jemari itu…

Sementara aku kehilangan senyumnya. Mulutnya yang kadang cerewet melalau tingkah, kini mungkin akan jadi satu yang kurindu. Setidaknya, mulut itu masih fasih berdzikir. Tak lepas setidaknya sampai tidur. Tubuhnya tak sanggup bangkit, ringkih. Tapi selalu ingat dan bertanya kapan waktu salat.

Hari-harinya habis menggelar tubuh di atas lapisan demi lapisan yang senantiasa ia basahi, meringkuk pun bisa lewah baginya. Bagaimana tidak, segala ia rasa tak kuasa ia bagi. Segala menggerogoti senyata usia. Kulitnya yang putih makin pasi. Melekat rangka demikian erat.

Tak ada lagi pipi berisi, gerak lincah, si pemilik tubuh kecil nan gesit rajin mengunjungi tetangga itu kini tak ke mana-mana.

Tiba-tiba, kuingat tangan lincah mengaduk adonan kue. Jemari yang telaten memungut adonan lantas membentuk kembang. Lalu tangan yang sama menggoyang tusuk bambu mengangkat kue cincin, membuncang kembang goyang. Dari tangan-tangan itu, segala penganan tradisional ia bentuk. Mendatangkan pesanan untuk banyak hajatan.

Jemari tangan-tangan ini pula yang tekun mengiris, mengolah, meracik bumbu, membuat masakan terutama nasi goreng untuk para cucu. Jemari-jemari yang telah mengangkat, menggendong, tujuh anak dari rahimnya, lalu cucu-cucunya.

Tangan yang tak henti ingin memberi.

Kemarin, jemari-jemari tangan itulah yang lama kusentuh. Tersisa tulang demikian menonjol. Aku pulang, kusentuh tangannya. Aku pamit, kupinjam lagi jemarinya. “Hati-hati,” ujarnya pelan disela entah rintih, entah wirid, entah apa. Baiknya itu doa.

Aku hanya berharap pulang tanpa penyesalan. Itu yang kini memberatkan.


Sent from Fast notepad

Soal Video

Sebetulnya saya agak deg-degan mau nulis perkara soal yang satu ini. Bisa banget deg-degannya lebih dari pas mau nulis surat misal buat siapa gitu ngarang aja.

Beberapa hari lalu eh apa kemarin ya? Ramai kan tuh soal video Bapak Gubernur DKI yang melontarkan kata-kata dibohongi? Dibodohi? Al-Maidah 51. Ya itulah pokoknya, jadi viral pun demikian sama konfirmasinya yang enggak kalah cepat. Pun dengan ramainya diskusi di media sosial dari yang pro, kontra, atau abstain–pemilu masih jauh sik.

Yes, selama ini saya jarang betul mau komentar soal isu-isu politik yang dikaitkan dengan agama. Masalahnya, saya banyak awamnya, terus males ya terlibat diskusi ke mana-mana–padahal kalau diem aja lebih enak, mungkin jodoh. Kan jodoh enggak ke mana-mana.

Tapi soal yang satu ini mungkin karena saya lihat videonya pagi-pagi, masih segar, udah cukup minum Aqua, sambil sempat mendiamkan pernyataan sebelum diposting–biar diredam dulu bentar–saya pikir ini memang sikap yang harus saya tunjukkan.

Pernyataan Pak Gubernur ini meski diklarifikasi soal bukan Al-Quran yang berbohong atau membodoh-bodohi, tetapi lebih kepada orang yang menggunakan ayat suci sebagai alat untuk membodoh-bodohi atau membohongi masyarakat, menurut saya beliau masih belum tepat.

Hal yang mudah Bapak yang tinggal di kawasan Pantai Mutiara ini adalah mengakui kesalahan, itu saja. Bukan berarti karena saya perempuan lalu saya selalu benar loh, Pak, bukan.

Tapi kalau Bapak bersikeras, ya monggo.

Jadi begini Pak. Ayat yang bapak sebut isinya begini:

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰۤى اَوْلِيَآءَ ۘ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ؕ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِنَّهٗ مِنْهُمْ ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin(mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”
(QS. Al-Ma’idah: Ayat 51)

* Via Al-Qur’an Indonesia https://goo.gl/MqhPUj

Orang-orang yang menggunakan dan meyakini ayat ini juga enggak bisa loh Pak seenak hati dikatakan melakukan penipuan, pembodohan, upaya pembohongan. Saya berbaik sangka mereka–meski mungkin tak semua melakukan atas dasar keyakinan dan pemahaman tafsir yang utuh ya–lakukan atas dasar mengingatkan sesama saudara. Mungkin juga mengingatkan saya salah satunya. Enggak bisa disalahkan sekonyong-konyong mereka itu pelaku pembodohan. Dan ya Pak, enggak ada di dalamnya bilang akan masuk neraka. Tuh kan bapak lagi-lagi sompral.

Saya belum begitu dalam Pak, memahami tafsir-tafsir Al-Quran. Sehingga saya masih memanfaatkan orang-orang terpercaya utuk membantu saya menerjemahkan makna di balik bahasa kitab suci. Saya belajar semiotika saat kuliah, pragmatik, linguistik, dan beberapa kajian soal analisis bahasa serta lapis makna. Semuanya mental Pak saat saya pakai buat memahami ayat suci, karena memang bukan dilakukan dengan pendekatan macam itu. Saya belajar agama dari SD, SMP, SMA, berikut juga disekolahkan di madrasah enam tahun. Enggak cukup buat belajar soal agama yang diturunkan nenek moyang di garis keluarga besar saya ini. Mungkin demikian Bapak yang memeluk keyakinan lain.

Balik lagi ke soal surat Al-Ma’idah itu tadi, saya pernah mendengar penjelasan soal larangan muslim memilih pemimpin yang seperti disebutkan. Tapi saya punya alternatif tafsir lain, yaitu larangan tersebut berlaku dalam kondisi sistem pemerintahan seperti apa pula yang diterapkan. Sebagai muslim saya yakin agama saya punya tawaran sistem yang baik untuk kehidupan berbangsa bernegara. Orang ramai mengelukan demokrasi? Monggo, tapi saya tak begitu sehati setelah membaca beberapa referensi. Orang menolak reklamasi? Eh maaf maksudnya demokrasi? Ya silakan, tapi saya pun tak berdiri di sana, saya masih mencari referensi lainnya. Saya cuma lebih berhati-hati soal ambil pilihan karena ini bakal dipertanggungjawabkan Pak di akhirat nanti.

Saya pernah membaca beberapa kisah sejarah penaklukan. Pernah pula baca soal bagaimana Islam memimpin dan menerapkan sistem yang baik pada masanya terdahulu. Sistem Islam berlaku bukan berarti semua masyarakatnya harus Islam dan dipaksa jadi muslim loh, enggak ada paksaan soal keyakinan. Itu dijamin juga kok. Semua masyarakat mendapat hak yang sama, dapat perlindungan juga selama mereka mau patuh dan menjalani sistem yang diterapkan pemerintahan. Tapi ini bukan hal mudah pastinya.

Jadi sementara yang saya pahami, sebagai muslim kami wajib memilih pemimpin muslim tapi tak berhenti di soal di kesamaan keyakinan. Namun perlu dipastikan semangat dan hal apa yang akan ia lakukan sebagai seorang pemimpin? Sistem semacam apa yang akan ia bangun? Apakah ia akan memimpin negara dengan sistem sosialis, kapitalis, hedonis, ya sama aja dengan beli I*hone puluhan juta isinya Hua*ei yang 300ribuan.

Iya, intinya saya pun menolak lah memilih pemimpin muslim tapi cuma kesing, milih preman dibalut sorban pas kampanye doang, dll terus yang dia lakukan di pemerintahan pun non sense, korupsi dijalanin, cawe-cawenya kenceng sama mafia-mafia, dan lain lagi.

Lantas memilih pemimpin non muslim? Secara general saya akan lihat seperti apa prospek janji dan realisasinya. Kan enggak mungkin pemimpin non muslim tapi akan memberlakukan sistem yang tertera dalam Al-Quran. Sadar saat ini tak ada negara yang menerapkan sistem Islam even itu di Arab tempat agama ini diturunkan. Sehingga kalau kata guru spiritual saya tak ada kewajiban untuk itu. Yang jelas umat muslim dituntutnya untuk segera kembali menerapkan sistem kehidupan Islami. Sesuai yang Allah kehendaki. Penerapan ini bukan hanya tugas pemimpin, tapi juga diemban semua masyarakat yang harus segera sadar. Kita dihimpit sistem pemerintahan yang jelas tambal sulam dan banyak celah kotornya. Makanya sampai sekarang dari pertama pegang KTP saya belum pernah ikut Pemilu atau Pilkada. Alasannya jelas, saya belum menemukan sosok pemimpin yang punya janji untuk perbaikan sistem. Karena kalau tak punya visi semacam itu akan sama saja dan memang terbukti, kan? Paling stagnan atau enggak paling nambah jelek ya gitu aja sih. Kamu menyangsikan hal-bal baru dan perubahan yang baik selama ini? Lihat, tapi apakah itu mendasar? Apakah itu mengakar? Tatarannya permukaan semua, bukan prinsip. Lah wong nikah aja perlu pilih lelaki berprinsip kuat #syalalalala

Kembali ke Jakarta lagi ya, dari upaya perbaikan yang bapak gubernur lakukan sejauh ini ya saya apresiasi betul. Cuma belakangan saya benar-benar makin mengikis hormat saking peningnya melihat bapak yang semakin merajalela, ngamuk di mana-mana, ngabalalerang, Pak kalau Bahasa Sundanya. Bapak gede ambeg, gampang marah, sumbu pendek, kade ah Pak bisi teu damang.

Saya kagum kok sama kinerja Bapak selama ini. Upaya membangun Jakarta, upaya memperbaiki banyak hal di Ibu Kota ini. Bapak mungkin lupa, tapi saya masih ingat betul bagaimana bapak yang diam-diam, tanpa pemberitahuan datang ke Pluit saat musim banjir tahun 2014. Saya di sana Pak, dan kebayang enggak Pak saya yang tadinya ngerasa nelangsa liputan pintu air sendiri, jauh-jauh dari Kebayoran ke Pluit dan sekitarnya, terus dari dinas belum ada respons buat lengkapi bahan, eh Bapak datang bawa rambutan–enggak deng. Bapak datang tanpa rombongan. Malah kaget pas tiba-tiba ada bocah nyodorin hp dan minta doorstop. “Kok ini bisa ada wartawan?” Kata bapak, tapi akhirnya mau menjawab beberapa pertanyaan. Tulisan saya jadi aman. Berarti ada sisi bapak yang memang bekerja tanpa citra, ya kadang lah ya.

Sampai akhirnya saya sempat ditugasi untuk liputan di Balai Kota saya juga seneng Pak. Karena penasaran pengen tahu gimana rasanya ngikuti DKI 1. Kekesalan saya pasti jatuh ke DPRD lah waktu Bapak lagi gontok-gontokan soal UPS-USB waktu itu. Tapi semua jadi kenangan yang enggak berkembang. Dicukupkan sampai di situ karena seterus-terusnya rupanya Bapak makin nyata menampakkan muka. Itu sih Pak yang bikin sedih. Semakin bapak banyak omong dan banyak marah, semakin bapak banyak klarifikasi membela diri, itu bikin lelah. Belum lagi ada juga kabar-kabar baru soal keterhubungan bapak dengan pengembang, kabarnya gitu Pak. Namanya politik memang susah ya, saya enggak tahubsesusah apa bapak mengklarifikasi kalau memang semuanya salah, karena buktinya juga ada. Tapi sekali lagi Pak, kecurigaan dan amarah bapak yang meluas ke banyak pihak perlu dijaga. Coba pelan-pelan bapak belajar tenang dan ajak ngobrol diri sendiri, refleksi gitu Pak. Biar adem hati, tenang kepala, santun pula di lisan. Sama Pak itu juga berlaku buat saya. Anggap aja saya menjalankan tugas sebagai warga yang mengingatkan pemimpin dan juga diri sendiri.

Salam,
Mantan anak Balkot beberapa bulan doang.

Kopi dan Teh

Saya memulai Agustus tahun ini dengan segelas teh. Itu pun kecelakaan. Awalnya saya ingin menyeduh kopi Aceh yang sudah lama tak dicicip. Sayang begitu menjerang air, gas mati, aie baru mendidih tapi belum bergejolak layaknya air panas yang saya butuhkan untuk mengoptimalkan aroma kopi keluar. Saya lupa belum beli gas.

Apa daya, donat sudah dipotong-potong untuk sarapan. Membuat cokelat hangat pun saya kehabisan susu kental manis dan susu UHT. Baiklah, masih ada ramuan teh. Kopi tak jadi masih ada teh. Saya tak perlu begitu kecewa, teh masih jadi minuman favorit saya.

Siangnya lepas liputan, kekecewaan kembali menyergap. Rasa yang tak bisa diganti dengan rasa lain. Tak semudah kopi yang bisa diganti teh begitu saja. Kecewa, kaget, dan lagi-lagi… agak buruk sebenarnya kejadian macam ini jadi pengawal pekan. Hanya hidup memang selalu penuh kejutan ya. Dikagetkan itu rasanya jadi bumbu di luar akan memberi rasa enak atau tidak, nyaman atau tidak. Demikianlah. Malam ini saya harus minum kopinatau cokelat hangat, rasanya itu akan baik untuk menutup hari ini : )


Sent from Fast notepad

Lebaran dan Balon-balon di Udara

Ada banyak hal yang kerap bisa saya lihat saat melakukan salat Ied di kampung halaman. Di kampung saya di Sukabumi masih banyak kegiatan salat Ied berlangsung di lapang terbuka, tidak di dalam masjid. Di sebuah lapangan bola, warga dari berbagai dusun berkumpul. Memenuhi lapang yang biasanya ramai saat ada liga antar kampung atau acara tujuh belas Agustusan.

Di deretan belakang, nyaris di tepi lapang, berderet penjual  mainan. Tentu saja ini menarik perhatian bocah-bocah. Apalagi tukang balon gas. Ini salah satu dagangan paling laris sejak saya kecil. Menariknya, sebelum salat Ied dimulai pasti akan ada suara tangis dari anak yang balonnya lepas, terbang. Kian lama kian bertambah. Dari satu tangis anak akan merembet ke dua, tiga tangis lainnya. Susul menyusul seperti balon-balon gas yang mulai meramaikan langit.

Hal itu terjadi sampai sekitar 3 tahun lalu. Dua tahun belakangan saya melihat ada yang berbeda. Balon-balon gas sudah berganti rupa jadi balon-balon plastik beraneka bentuk. Ada tokoh kartun atau hewan lucu yang lebih menarik perhatian lagi. balon-balon lucu ini masih bisa terbang lepas juga ke angkasa. Tapi saya sudah tak mendengar lagi ada jeritan atau tangis anak yang sedih dan kecewa. Mungkin saat balonnya lepas, kini anak-anak segera dirayu atau dijanjikan membeli yang baru.

Berubahnya wujud balon-balon ini turut beriring dengan kebiasaan orang-orang dilapangan selepas salat Ied. Dulu sedari kecil, suasana lepas salat Ied adalah suasana penuh gemuruh. Orang takburu-buru melepas mukena, melipat sajadah, lalu beranjak pulang ke rumah. Selepas khutbah—yang merupakan bagian dari rangkaian salat—selepas merapikan perlengkapan salat, orang tak buru-buru pergi meninggalkan lapangan. Mereka mencari anggota keluarga sambil bersalaman dengan siapa saja yang bisa mereka temui:tetangga, saudara jauh, kawan lama, sampai orang-orang yang mungkin baru ditemui saat itu.

Kini, suasana seperti demikian jarang. Yang saya perhatikan terutama dua tahun terakhir, orang semakin buru-buru pergi. Bahkan ada yang meninggalkan lapangan tak lama begitu salam terakhir salat diucapkan. Ada yang bergegas karena mulutnya tak sabar ingin menghisap asap rokok, ada yang bergegas karena menggendong bayi, ada yang bergegas pergi berziarah, juga bergegas karena urusan-urusan lain yang tak saya ketahui. Bersalaman masih ada, tapi semuanya serba lalu. Bersalaman dan bermaafan tampak tak lagi begitu sakral.

Ramadan berlalu serupa lepasnya balon dari genggaman sang anak yang tak begitu kuat mencengkeram. Terasa tak terasa. Antara manusia dan Ramadan siapa yang sebenarnya begitu tergesa? Seperti tulisan ini saja. Tergesa tapi saya bingung harus lanjut menulis apa :p

Menanak Nasi

Satu hal yang kerap saya heran dan belum sukses dilakukan saat memasak di gunung adalah menanak nasi. Nasi kerap terasa sedikit aron, masih ada bagian yang belum tanak. Atau sebaliknya, sangat matang, kelembekan karena kelebihan air. Dari beberapa pengalaman itu saya belajar juga untuk menyesuaikan proses menanak sesuai wadah yang digunakan. Ternyata hasil nasi yang ditanak di atas nesting ala TNI akan berbeda dengan nesting berbahan lebih tipis saat di dalamnya dituangkan beras dan air dalam komposisi yang sama. Demikian halnya dengan api, pengadukan, dan buka tutup nesting saat memasak–unsur-unsur yang berpengaruh lumayan besar mewujudkan nasi yang tanak sempurna.

Jadi ingat juga soal hal-hal yang dilakukan sepanjang umur dan dirasa masih saja belum purna. Diteliti lagi celah salahnya, celah kurangnya. kan katanya apa yang membedakan hasil adalah proses. Penyesuaian proses pun rupanya akan lain. Saat menyandingkan proses saya dengan yang lain dalam upaya mencapai tujuan sejenis, hasil kami bisa beda meski rasanya proses serupa. Tapi jika manusia berfokus pada sempurna, proses semacam apapun rasanya juga tak akan ada habis. Tuju yang diharap atau apa yang sementara didapat pun sulit buat dianggap berkat.

Duh kenapa saat memikirkan soal menanak nasi bisa-bisanya melipir seperti ini.


Sent from Fast notepad

Nama

Memberi nama katanya wujud ibadah dan hadiah orang tua bagi anaknya. Maka ketika saya mengingat makna di balik nama ini rasanya doa terbaik mereka, ibu dan bapak senantiasa mengiring langkah hidup selama dua puluh delapan tahun.

Amal ibadah soleh hanya kepada Allah. Semoga hidup anak ini ada dalam ridho Allah. Demikian kurang lebih. Sebuah nama dan doa yang diselip beriring lurus sesuai keberadaan hamba yang dititip hadir di dunia menjalani tujuannya sendiri. Hidup untuk beramal dan mengamalkan banyak hal. Tanpa saya tahu berlaku hingga kapan.

Ada Apa dengan Rangga

Waktu yang cukup lama bisa membantu seseorang maju meninggalkan luka, meninggalkan masa lalu. Meski bisa saja ingatan bertahan. Apa kabar dengan kisah Cinta (Dian Sastrowardoyo) dan Rangga (Nicholas Saputra) setelah empat belas tahun berlalu? Masih adakah tanda tanya seperti judul Ada Apa Dengan Cinta? 

Setelah sekian purnama terlewat, semesta pun seolah mendukung pertemuan itu. Pertemuan antara Rangga dan Cinta yang berjarak ribuan kilometer antara New York dan Jakarta. Pertemuan yang—mengutip puisi Aan Mansyur yang digunakan dalam film ini—menerabas rindu yang selama ini jadi batas antara pulau dan seorang petualang gila.

Mungkin petualang gila itu Rangga. Yang menyelesaikan masa Sekolah Menengah Atasnya hingga lanjut kuliah di New York, mengikuti ayahnya. Meninggalkan Cinta di bandara dan tak kembali ke Jakarta cukup lama. Lantas apa yang membuat petualang gila itu lantas kembali? Tanda tanya yang masih berkelindan di kepalanya. Ia ingin menuntaskan hal yang dianggap belum selesai.

Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi dipisahkan kata

Siapa sangka perpisahan itu berlangsung sejak sembilan tahun lalu. Pesan yang dikira puisi romantis tiba-tiba hadir menyentak Cinta. Tapi akhirnya ia melewatinya dan mencoba babak baru dalam hidupnya. Jejak baru dan orang-orang baru. Babak yang Cinta tata pun rupanya mesti goyah. Sang pemberi puisi datang begitu saja. Cinta ingin melangkah tanpa menoleh lagi. Apa daya, masih banyak tanya hadir dalam benak Cinta selama ini sejurus dengan sekian jawaban yang Rangga miliki dan siap dia jawab.

Mungkin awalnya Cinta berupaya berpikir seperti ini, untuk tegap melangkah ke depan maka jejak di belakang perlu bisa dipastikan berakhir dengan titik, tak lagi tanda tanya. Sebagaimana orang dewasa yang coba meluruskan masalah Keduanya lantas coba menyejajar langkah tak lagi di Ibu Kota, Jakarta. Tapi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kota yang lebih menyuguhkan ketenangan dan kekayaan seni seolah tepat dijadikan tempat rekonsiliasi.

Empat belas tahun sudah dari masa Cinta dan Rangga masih berseragam putih abu. Obrolan yang kadang terdengar sok dewasa bagi anak sekolahan, kini tak ada lagi. Keduanya benar-benar telah dewasa. Sang sutradara, Riri Riza masih ingin keduanya berbahasa cukup baku: saya dan kamu. Tapi tak mengurangi rasa yang masih keduanya simpan rapi, sadar tak sadar. Serba salah tingkah, luap marah dan lontar maaf, ekspresi orang jatuh cinta pada umumnya yang tak mengenal usia.

Emosi meletup, impulsif ala Cinta remaja berganti rupa. Masih ada tekanan tapi beberapa kali Cinta seolah sadar untuk tak termakan amarahnya sendiri. Atau mungkin ingat sendiri terhadap pesan yang sempat ia buat untuk Rangga dulu saat mengembalikan buku Aku-nya Sumandjaya: Bila emosi mengalahkan logika, terbukti banyak ruginya. Waktu tak menghapus angkuh dan sinisnya Rangga, tapi kini wajah dinginnya kerap beberapa kali dihias senyum yang lebih sering hadir. Rangga pun tak terlalu keras terhadap dirinya sendiri. Ia memberi ruang untuk bisa memaafkan masa lalunya sendiri. Keduanya memberi dan membuka ruang maaf. Ada ketegangan, kecewa, marah, tawa yang berkelindan, berulang. 

Atau senyummu dinding di antara aku dan ketidakwarasan.

Ada Apa Dengan Cinta 2 menyuguhkan sebuah kondisi baru. Masih soal Cinta dan Rangga namun dalam spektrum lebih matang. Pemikiran jangka panjang dan rahasia-rahasia lama. Kisah ini kental drama namun tetap menghadirkan gelak lewat aksi dan celotehan Mily (Sissy Precilia), Mamet (Dennis Adhiswara) bahkan kekonyolan yang juga bisa dilakukan Cinta sendiri. Meski kadang saat berulang lucunya tak terasa sama lagi. Kemasan drama kadang tak menarik hati karena seolah pernah hadir dalam kisah lain, untungnya itu bukan jadi poin utama. Konflik-konflik yang hadir tak sepadat di cerita dulu. Ada konflik kekerasan dalam rumah tangga, bully, isu politik, semua terasa diramu padat.

Apa kabar hari ini?

Kali ini, konflik diramu beda. Isu keluarga tetap ada, politik selewat saja, utamanya tetap pada bagaimana menjernihkan segala yang samar selama ini. Nicholas Saputra sukses menghadirkan Rangga sebagai pria dengan banyak beban hidup yang tergambar di wajahnya. Karmen yang tomboy pun punya peran lebih tak hanya sebagai anak perempuan yang berani menantang untuk menghajar orang yang menyakiti sahabatnya.

Puisi yang digunakan Riri dan Mira dalam film ini lebih dalam. Menggambarkan sosok Rangga yang lebih matang. Puisi Batas karya Aan Mansyur—penyair asal Makassar—seolah merangkum seluruh inti kisah yang berlanjut setelah melewati ratusan purnama tersebut.

Lihat tanda tanya itu jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi.

*kalimat bercetak miring merupakan petikan puisi Batas

Judul : Ada Apa Dengan Cinta 2
Sutradara: Riri Riza
Produser : Mira Lesmana
Skenario : Mira Lesmana dan Prima Rusdi
Pemain : Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Adinia Wirasti, Sissy Precilia, Titi Kamal, Dennis Adhiswara, Ario Bayu
Produksi : Miles Films dan Legacy Pictures

Berceritalah Ia, si Anak Hilang

Setiap anak sekolah, atau kebanyakan pasti ada pengalaman pernah punya geng, at least temen deket. Saya ngalamin itu SMP, SMA, kuliah, sampai sekarang. Melihat hal itu ternyata saat saya menyadari diri saya introvert, kesadaran untuk bisa masuk dalam pergengan menempatkan diri saya sebagai ambivert dalam sebuah kelompok.

Tapi sekarang saya bukan mau cerita soal gimana saya sama geng-gengan atau kelompok pertemanan ini. Saya cuma mau refleksi soal cerita pertemanan saya sama temen-temen SMA pasca baca novel AADC dan nonton filmnya.

Saya enggak punya geng kayak Cinta yang populer. Saya anak bahasa yang notabene kebanyakan orang bilang ini kelas anak buangan. Enggak cukup nilai masuk IPA dan IPS. Atau anak-anak enggak layak IPA tapi ogah masuk IPS, atau enggak masuk IPS apalagi IPA lol! Saya? Enggak cukup nilai masuk IPA karena kurang point 0,5 aja buat matpel matematika. Pupus cita-cita kuliah arsitektur, tapi sangat ogah kalau ke IPS karena enggak suka guru ekonomi dan akuntansi pas kelas 1. Ada opsi pindah sekolah, tapi dari dulu saya punya prinsip enggak mau meninggalkan sesuatu yang rasanya enggak tuntas atau nyimpen misteri.

Jadi anak bahasa enggak mudah, karena saya harus menghadapi lebih banyak murid perempuan–lelaki langka, kurang dari 10 seiring waktu ada yang keluar juga. Makanya saya sebut kelas ini majority of minority class–abaikan kalau ada kesalahan grammar, maklum anak SMA bau kencur. Di kelas ini pula pertama kalinya saya yang biasanya dapat posisi sekretaris atau bendahara kelas–dari SD, SMP–Eh bisa-bisanya diamanatkan jadi seksi keamanan! Berasa preman banget kan? Belum lagi Gita yang gambarin organigram saat itu, saya digambarkan perempuan rambut pendek, diiket ngasal, terus tindikan😀 tapi itu seru, meski nyatanya saya enggak pernah ngamanin apa-apa, kecuali pas jadi ketua pentas seni kelas yang harus nahan emosi, coba dengerin banyak suara yang saat itu sempat pecah karena ada beberapa masalah–balik lagi ini kelas mayoritas perempuan, hal sepele bisa gede, hal yang simpel bisa berasa rumit.

Yaaa berjalan waktu, akhirnya di kelas ini saya bertemu dengan beberapa orang yang cocok aja, buat main, cerita, becanda, macem-macem. Saya lupa sejarahnya sampai akhirnya kelompok ini punya nama Buzosa, singkatan dari budak zomblo bahasa–entah waktu itu jomblo semua apa gimana. Dan sering disingkat BZS. Terdiri dari tujuh perempuan, tiga laki-laki. Dan tentu kisah geng ini enggak kayak gengnya Cinta yang besar di kota besar kayak Jakarta. Ini geng anak SMA daerah tapi enggak kuper-kuper banget juga. Saya cuma mau cerita soal beberapa orang yang interaksinya lebih dekat dan personal.

Di geng ini enggak ada sosok kayak Cinta yang jadi sentral. Karakter-karakter dominan pun enggak. Lucunya kadang saya nilai temen-temen di BZS ini ada yang tomboi tapi feminin kayak Widhy tapi tanpa disadari dia bisa lebih ngayomi kami, bocah tapi bisa dewasa dan pengalaman banget soal urusan percintaan kayak Hana ‘Nonk’. Pinter, cuek, tau porsi kayak Dientha. Ekspresif, sensitif, centil, penyayang kayak (almh) Djihan. Tapi rata2 mereka rajin soal pelajaran, saya udah pemales banget anaknya. Itu penilaian saya pas SMA. Dan saya kagum sama perubahan mereka setelah kami lulus, pisah, meski tiap tahun kami selalu usahakan buat ketemu :’)

Sama Widhy dan Dientha interaksi saya pas kuliah masih cukup kejaga karena kami kuliah satu kampus, satu fakultas, beda jurusan–kalau mau kami bisa bikin kamus edisi tiga bahasa😀 malah pernah dititipin ayahnya Dientha buat saling ngingetin pas kami awal-awal menjejak di Jatinangor, meski perjalanannya pas masa kuliah kami banyak masing-masing sama fase kehidupan baru.

Sama Hana, komunikasi pasca SMA sangat longgar, malah sempat ilaaang banget. Padahal pas SMA lumayan deket apalagi cuma dia yang tahu siapa gebetan saya pas SMA😀 dia yang tahu lengkap kenapa saya nolak cowok yg pernah nembak berulang kali. Urusan kayak gitu, Hana yang pegang. Bahkan kami suka tuker2an file cerita dengan password di disket yang cuma kami aja yang tahu.

Nah sama Djihan, dia temen sebangku. Dia lumayan buat dicontekin tugas Bahasa Jepang buat dibarter sama tugas lain. Rumah Djihan iu basecamp geng kami bahkan sampai kami lulus SMA, kuliah, lulus kuliah, sampai beberapa waktu sebelum dia meninggal. Sama dia saya paling sering berantem dan diem-dieman, tapi enggak tahan lama, abis itu ya deket lagi, becanda lagi, maen lagi. Enggak bakal tahan marah lama sama dia karena mukanya lucu.

Pertemuan kami H+2 lebaran biasanya sangat dirindukan. Ketemu sehari, tuker kabar, mengingat masa lalu itu nyuntik kebahagiaan. Sampai akhirnya satu persatu menemukan jalan hidup masing-masing, bekerja, menikah, punya anak. Temu-temu makin langka, tapi saya pribadi enggak mau kehilangan momen sama mereka. Meski akhirnya sering hanya lewat tegur sama di media sosial, beberapa waktu lalu tiba-tiba dibikin juga grup wa–kenapa enggak dari dulu juga enggak ngerti yaa hehehe. Saya dulu mungkin sempat jadi anak hilang, di saat teman-teman saya ini masih bisa komunikasi di BBM, sedang saya enggak punya :p jadi lewat sms2. Widhy di semester2 awal sering saya inepin kosannya. Masuk akhir-akhir kuliah saya lebih sering interaksi sama Dientha, sempet sekosan, sering satronin kosannya juga pas dia S2 di Bandung dan saya masih skripsian di Nangor 🙈

Menemui satu persatu dalam momen berbeda, membuat saya menyadari hal lain lagi mereka benar-benar sudah bertransformasi lebih dewasa. Dari sikap, kata-kata, time flies. Widhy, Dientha, Djihan sejatinya sudah jadi perempuan yang kalau kata orang umum bilang ‘utuh’. Hana juga karena sekarang lagi hamil muda. Bahkan Djihan meninggal setelah melahirkan Gavin, anak pertamanya.

Perjalanan hidup masing-masing kami ini menempa jadi personal yang lebih terbentuk. Dari obrolan sama Widhy, Dientha belakangan ini saya melihat mereka beneran terbentuk lewat proses. Juga kalau dengar cerita soal beberapa teman lain yang saya pribadi terputus sejak lulus SMA. Saya nikmati benar saat memori berlarian mengingat cerita-cerita lampau. Kebodohan kekonyolan kami, suka duka kami, bocah-bocahnya kami.

Pertemanan yang awet itu memang modalnya tulus, dan saya rasakan itu dari mereka. Dan ketika Rangga bilang ke Cinta soal tanggapannya yang selama ini salah ke gengnya, di situ juga saya makin sadar kalau saya beruntung dipertemukan dengan orang-orang ini saat melewati masa remaja hingga sekarang. Pemakluman mereka terhadap saya yang suka ilang-ilangan, terus nongol lagi. Dalam geng kami enggak ada cerita yang tersentralisasi semuanya organik hadir, berkembang, hilang, berganti, begitu saja. Cuma satu yang pengen saya pertahanin, apa yang sudah kami bentuk tanpa ikrar, inginnya bisa bertahan sampai kapanpun. Apalagi saat kami sudah kehilangan Djihan.

Ini tulisan kangen-kangenan, saya sadar bentar lagi saya PMS makanya bisa nulis panjang lebar, ke mana-mana, dan agak sensitif meski banyak yang ditahan buat ditulis😀


Slipi-Matraman, 25 April 2016