Jelang Lima Tahunan-bagian 1

Terhitung sejak September 2017 saya masuk dalam tim redaksi berita online di Tempo.co. Perpindahan ini semacam kembali ke titik di mana saya memulai karier sebagai wartawan. Tahun 2013, tepatnya 25 April saya mulai terlibat jadi reporter desk Hiburan-Gaya Hidup. Saya kembali bekerja dengan beberapa orang yang saat itu termasuk dalam daftar orang-orang pertama yang saya kenal di  Tempo.

Mungkin tulisan ini akan jadi semacam refleksi  jelang lima tahun saya jadi wartawan sih. Dan kali ini merasa lagi ada waktu untuk sedikit menuliskan pengalaman saya pribadi. Mungkin akan panjang. Saya sadar kebiasaan saya bercerita lewat tulisan kerap bisa mengalir gitu aja. Alirannya bisa deras atau bahkan kelokannya bisa ke mana-mana. Mumpung ini di blog sendiri jadi ya saya enggak akan batas jumlah karakternya.

 Jakarta, Kamis, 25 April 2013

Kantor redaksi Tempo saat itu masih bertempat di Velbak, Kebayoran. Bli Komang adalah redaktur yang saat itu sempat mewawancarai saya dan dua orang lain, salah satunya Nurul Mahmudah sebelum kami masuk di tim Tempo.co.

Hari pertama bekerja, saya bertemu Mas Anto yang mengantar saya ke ruangan Teco yang waktu itu satu ruang dengan desk Metro, bertetangga dengan desk Olahraga. Di hari pertama, mengingat rute dari lobi ke area ini memusingkan. Padahal kantornya kecil loh. Cuma kayak labirin. Bahkan sebulan pertama di sana beberapa kali saya suka salah naik-turun tangga.

Di ruangan yang lebih dekat dengan pintu keluar dari belakang itu, saya bertemu Mbak Alia, Mbak Hani, Mbak Evieta Fadjar, Mas Juli, Mas Seno, Kong Ali, Mbak Nieke. Saya duduk di samping Mbak Al. Sambil celingukan melihat ruangan yang enggak begitu luas, penuh meja, banyak tumpukan berkas dan koran, meja bersekat, dan juga ada sebuah meja panjang terletak agak di tengah ruangan.

Jujur saat itu saya masih mikir, apakah semua kantor redaksi media kayak gini?

“Aisha, tolong telepon Lula Kamal ya, dia nge-broadcast tuh soal lihat ada anak kecil yang dimarahi gitu di dalam mobil, kayaknya sama pembantunya gitu. Bentar nomornya gue cari dulu,” kata Mbak Al, demikianlah tugas pertama saya sebagai wartawan saat itu.

Ini loh berita pertama saya: https://seleb.tempo.co/read/475767/teruskan-info-teman-lula-kamal-banjir-pertanyaan hahaha

Saya cuma bilang ok, lalu mulai membuka Google sambil nunggu Mbak Al kasih nomor kontak narsum. Begitu nomor dikasih, saya langsung sms, izin mau telepon—waktu itu masih sambil mikir lagi, bener enggak sih gini prosedurnya?

Eh, enggak lama Mbak Al bilang, “telepon aja dia langsung, orangnya baik kok, gampang dikontak biasanya. Sms dulu juga boleh, tapi kalau engak dibalas, telepon aja.”

Setelah menelpon saya buka Word, asal tahu saja waktu itu saya enggak tahu harus nulis apa, even kata pertama yang harus saya tik. Sebetulnya menulis berita bukan pengalaman baru. Di kampus saya pernah terlibat dengan redaksi buletin Padjadjaran Muda, Interval 21. Tapi serius, pas mau menulis berita waktu itu saya jadi membuka beberapa contoh berita online yang sudah ada. Meniru format yang berlaku di Tempo.co khususnya.

Akhirnya, tugas pertama selesai. Berita langsung saya tik. Setelah itu saya baru ngeh, lah terus berita ini di kemanain?

“Kamu harus punya akun di TNR (Tempo Newsroom), minta ke sekret ya.”

Dari situ saya mendatangi meja sekretaris yangberada di ruangan yang sama. Saya kenalan sama mbak Kiki, sekret Metro-Teco waktu itu. Saya dibantu Mbak Kiki buat akun TNR, untuk mengakses pemberitaan internal.

Sumpah password akun saya yang dibikinin orang IT alay pisan, dan ini pasti selalu diledek temen-temen yang kebetulan sempat dititipi untuk memasukkan berita ke keranjang matang. Tapi ya sudah enggak minat ganti, udah kebiasaan.

Menjelang siang Mbak Al kasih saya tugas lagi. Tugas kedua ini sih yang bikin saya pengen garuk meja. Dan ini pun jadi cerita yang kerap diingat sama temen deket saya sejak SMA kala saya cerita ke mereka soal pengalaman kerja pertama.

“Sha, kontak Nikita Mirzani ya…bla bla bla…”

What the…

Ya, FYI, dunia artis dan gaya hidup bukan saya banget, demikian kata teman dekat saya. Makanya pas saya cerita soal pengalaman ini ke teman dekat, mereka pasti bakal ketawa puas, enggak percaya tapi kudu percaya kalau saya melakukan hal yang mungkin selama ini enggak pernah saya jamah—enggak minat juga. “Tukang bolos kuliah buat demo sekarang mainnya sama artis?”

Hari pertama saat itu saya hanya ada di kantor. Mengontak beberapa orang dan membuat berita terjemahan. Saya dijelaskan soal jumlah berita yang harus dibuat setiap harinya, dan beberapa hal teknis lainnya.

Sore itu saya berkenalan sama Nurul—sempat bertemu pas wawancara sebetulnya, tapi selewat aja. Nurul baru balik liputan dan bawa goodie bag ke kantor 😀

Besoknya, tugas liputan lapangan saya enggak kalah heboh, liputan pengajian wafatnya Uje ke Bintaro, bareng Nurul.

Luar biasa banget sih liputan yang satu ini. Pertama jauh, iya, kedua macet luar biasa, ditambah lagi jemaah yang datang beneran meluap. Beneran lautan manusia. Parahnya saya enggak bisa berada di tempat yang padat manusia, bawaannya langsung sesak secara psikologis. Tanpa sadar waktu itu saya beneran nempel sama Nurul, malah saya sempat megang pasmina yang Nurul pakai buat menutupi lehernya malam itu.

Jadi, malam itu kalau dibilang ada di tengah lautan manusia itu beneran terjadi. Ini jauh lebih parah dari jumlah massa aksi depan DPR atau Istana Negara yang pernah saya ikutin pas kuliah dulu. Waktu itu aja rasanya udah eungap—makanya kalau aksi saya milih jadi tim dokumentasi biar enggak terjebak dalam barisan massa, biar bisa leluasa gerak juga.

Orang-orang berjalan berdempetan, saling terburu-buru dari pinggir jalan ke arah rumah Uje yang masih masuk lagi. Banyak mobil dan angkutan umum termasuk metromini  yang ikut terparkir di pinggir jalan.

Acara pengajian malam itu ramai juga sama tukang jualan air mineral dan jajanan. Jangan salah, sepanjang pengajia berjalan banyak juga warga yang beli makanan, merokok—ini paling ngeselin juga, bahkan ada yang bawa bekal makan sendiri! Mungkin sudah memprediksi luapan manusia ini. Tapi dari peristiwa itu yang terbayang sama saya adalah ‘keluarga yang ditinggalkan’.

Perasaan sedih pasti, tapi terbayang kala harus menyiapkan sebuah pengajian yang begitu besar seperti malam itu, menyediakan ribuan kotak nasi untuk para jemaah yang hadir tak hanya dari kawasan Jakarta tapi luar kota pun ada. Luar biasa ya ketika ada sosok yang punya pengaruh sebesar ini. Sampai saat kematiannya dihantar ribuan orang—berdasarkan cerita Nanda yang liputan prosesi pemakamannya dari Istiqlal-Karet Bivak.

Meliput kematian Uje termasuk salah satu pengalaman liputan cukup berkesan. Mungkin karena ini perdana liputan ke lapangan, ditambah lagi pasca kematian, rangkaian pengajian berhari-hari, setelah itu ada lagi hal-hal yang masih dikejar termasuk soal bagaimana keluarga berbeda pendapat saat akan mengurus makam, dll.

Setelah itu perjalanan saya jadi wartawan dimulai. Saya mulai kenalan sama beberapa wartawan yang udah lebih lama, para senior-senior, sampai akhirnya dimasukkan dalam sebuah grup untuk komunikasi dan juga gosip-gosipan terkait kerjaan atau pun lainnya.

Liputan pagi sampai malam bahkan nyaris menginap di lokasi liputan pun akhirnya dirasakan. Belajar nebeng motor sama wartawan lain–mereka ini baik, tapi asli saya anaknya kan agak buruk dalam bersosialisasi ya, apalagi yang namanya berbasa-basi, ditambah punya rasa takenakan yang sangat tinggi, jadi suka repot sendiri–sampai menginap di kosan teman juga kalau udah kemaleman dan udah sangat lelah (padahal dulu saya enggak gampang nginepan kecuali sama yang udah kenal banget).

Antusias aja sih namanya juga anak baru. Mana ngekos kan, jadi enggak ada yang nyari. Kecuali Widhy, temen SMA-Kuliah-kosan pertama di Jakarta. Dia saban malam sms, ‘Cha kamu di mana? Pulang kapan’.

Ya, mungkin Widhy lah yang ternyata jiwa emak-emaknya kuat yang enggak bosen nanyain posisi saya setiap hari. Nanya kapan saya pulang, lantaran setelah itu kami beneran jadi jarang interaksi meski tinggal sekamar, ya SEKAMAR 😀

Saya pulang Widhy udah tidur, Widhy bangun, saya udah tidur lagi abis subuh. Widhy berangkat kerja, saya baru bangun. Jadi sama sapaan ‘duluan ya, dll’ kami sudah sangat ter-bi-a-sa.

Belum lagi waktu itu saya ngekos di Cawang. Lokasi liputan banyaknya di Jakarta Pusat dan Selatan, kantor di Kebayoran. Perjalanan pulang-pergi setiap harinya bisa memakan waktu 4-5 jam sendiri. Pulang kosan di atas pukul 1 dini hari itu udah biasa. Paling yang nyapa saya satpam area komplek kosan sama Bapak penjual nasi goreng kalau dagangannya belum habis.

Rutinitas setahun pertama jadi wartawan kurang lebih seperti itu. Paginya jalan dari belakang gedung WIKA ke perempatan menuju pemberhentian bus 45 UKI-Blok M. Atau naik Transjakarta dari halte Cawang. Pulangnya ke titik yang sama, maka sejak itu perjalanan malam bisa demikian erat. Dari situ juga mengapa banyak tulisan saya berlatar Jakarta saat malam hari. Saking akrabnya :p

Selama di Jakarta juga saya jadi lebih berani nyeberang jalan. Dulu pas di Jatinangor atau Bandung bisa takut padahal kecepatan mobil enggak segarang Jakarta ya. Teti pernah bilang “kalau di Jakarta lo enggak bisa nyeberang, jangan harap bisa betah.” kurang lebihnya gitu, jadi intinya yang Teti bilang adalah ‘langkah pertama menaklukkan Jakarta adalah dengan menaklukkan kehidupan di jalan rayanya!’ Sadis, tapi kalau kalian hidup di Jakarta sebagai pejalan kaki dan pengguna angkutan umum, yakini hal ini sebagai kebenaran yang HQQ.

-bersambung-

Advertenties

Hari 7

Saya belajar untuk memahami konsep tak memburu dan berjarak dari terburu-buru~kecuali soal mengejar dan menyelesaikan naskah tulisan setiap harinya.

Pasca pertemuan makan siang, kami nyaris tak bertemu lagi. Tapi setelah itu rasanya tak seperti sebelumnya. Tak ada lagi perasaan ingin bertemu sesegera itu. Bukan karena kehilangan minat. Jujur saya makin tertarik dengan sosok satu itu. Tapi saya ingat tulisan mama pada surat yang tak terkirim dan saya temukan beberapa waktu lalu. Tak memburu, namun juga tak berpangku. Segala yang terjadi lebih organik tentu akan lebih menyenangkan. Kau mengharap sesuatu, tetap mengupayakannya tapi bukan berarti memaksakan semua agar bisa berjalan sesuai kehendakmu saja.

Mama tahu saya cukup ambisius. Ia juga tahu saking ambisiusnya beberapa kali saya jatuh. Baru beberapa tahun terakhir saya mulai menata bahkan merombak banyak konsep yang sebelumnya saya anggap sudah tak bisa diganggu gugat.

Bicara soal hidup bukan soal kepastian. Termasuk yang satu ini. Saya merasa ada kimia yang cukup seirama, tapi terlalu dini untuk disimpulkan bahwa saya menyukai perempuan itu. Inginnya segala rasa yang hadir bisa melampaui yang nampak, melampaui eros. Saya ingin belajar memahami esensi. Berlebihan? Saya cuma berharap kalau itu bisa dipahami semoga bisa menggugurkan banyak. Sekarang saya hanya perlu waktu tepat lebih dulu. Sementara saya ingin menjadi teman baiknya. Ya itu pun kalau memang pintunya terbuka.

@30haribercerita #30haribercerita #30hbc1807 ~mengusirmigrainseharian

Hari 6

Ia kaget, bangunan yang dulu megah dan paling mentereng di kelokan jalan itu kini hanya bersisa puing. Tembok yang masih berdiri sudah penuh ditumbuhi tanaman rambat. Kusam, gelap, tak ada kehidupan. Padahal seingatnya dulu rumah besar itu tak pernah sepi dari orang yang hilir mudik. Nyaris selalu ada pesta. Ke manakah seluruh penghuni termasuk keturunan keluarga paling kaya itu?

Banyak pertanyaan muncul di benaknya. Perjalanan sejauh ratusan kilometer nampak jadi percuma. Upaya menghapus tanda tanya malah menambah tanda baru. “Cari siapa, Neng?” Seseorang perempuan paruh baya menghampirinya setelah sekian lama memperhatikan dari jauh. “Penghuni rumah ini pindah ke mana, Bu?” “Sudah lama kosong dan dibiarkan rusak setelah meninggal,” ucap si Ibu sembari melirik ke bangunan di seberang. “Semuanya meninggal?” “Juragannya sekitar 10 tahun lalu, banyak kasus, Neng. Neng siapa?” Dia lupa menakar jenis pertanyaan agar tak dicurigai. Tapi rupanya sudah terlambat dan pikirannya dengan cepat pun berkata, tak perlu lagi banyak basa-basi atau menyembunyikan macam-macam untuk mendapat titik terang. “Saya dulu sempat tinggal di daerah ini waktu kecil. Sedang mampir dan kaget lihat bangunan ini sekarang,” ucapnya sambil membetulkan posisi ranselnya.

Perempuan paruh baya itu mengernyit. Mungkin di kepalanya mulai berspekulasi soal siapa sosok di hadapannya kini. Namanya di kampung, memang sangat mungkin untuk bisa mengenali hampir seluruh warga. Setidaknya kepala keluarga di masing-masing rumah. Tapi perempuan paruh baya itu menyerah. Ia tak punya bayangan sedikit pun soal sosok perempuan muda yang ada di hadapannya itu dan mengaku pernah tinggal di kampung tersebut. “Neng ini siapa?” “Saya bukan siapa-siapa, Bu. Bukan keluarga dari pemilik rumah itu juga. Saya cuma beberapa tahun saja dulu tinggal di sini. Saya pulang sekalian mau nyekar ke makam mama saya. Kebetulan dimakamkan di kampung ini.” “Mamanya siapa?”

“Diah, kalau ibu pernah dengar. Tapi kami juga pendatang bukan warga asli sini. Ibu saya dulu sempat mengajar di sini.”

Wajah perempuan paruh baya sontak berubah. Ingatannya seakan melesat ke peristiwa 20 tahun lalu. “Kamu anak sulungnya Bu Diah ya?”

“Saya pamit ya, Bu. Mau ke makam dulu sebelum pulang. Mari,” ucapnya halus.

Kanya melangkah ke arah selatan. Ke arah satu-satunya pemakaman umum di kampung tersebut. Langkahnya terasa lebih berat. Ini kali pertama dirinya mengunjungi makam sang mama setelah pemakaman. Setelah sekian lama, akhirnya ia bisa menginjakan kaki di tempat yang telah merekam kejadian buruk untuk masa kecilnya.

Kampung ini cukup banyak berubah. Hanya ada beberapa rumah yang telah direnovasi lebih modern, jalanan yang dulu lengang kini kanan-kirinya sudah cukup padat bangunan. Jalan tak beraspal kini jauh lebih mulus.

Di pemakaman Kanya cukup kebingungan mencari makam mamanya. Ia pun tak yakin apakah makam itu masih ada. Tak ada seorang pun dititipi untuk bisa menjaga makam pasca keluarganya memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. “Makam mama kamu masih ada, di ujung sana, yang ada satu-satunya pohon kenanga tumbuh di atasnya.

Kenanga bunga kesukaan mama. Dulu beberapa pohon kenanga tumbuh di pekarangan rumah kami-batin Kanya.

Kanya berbalik ke sumber suara. Seorang lelaki tinggi besar berdiri sekitar 2 meter dari posisinya kini. Dadanya mendadak bergemuruh. Salah satu keturunan juragan yang baru saja rumahnya ia lihat dari seberang.

@30haribercerita #30haribercerita #30hbc1806

Hari 5

“Hahaha… siapa yang tahu asal-usul ketoprak ini?” Tanyanya. Saya hanya bisa memainkan sendok sambil menatap kerupuk yang sudah makin layu menyerap bumbu kacang. “Beberapa teman dekat, yang paham saja,” jawab saya datar. 

Saya menoleh ke arahnya, ia tengah menatap saya. “Pasti pertemanannya sudah lama ya, bisa menerima wajar cerita-cerita seperti itu,” tanyanya polos. Dan mungkin jujur. “Ketupat, toge, digeprak,” ujarnya tiba-tiba. “Kepanjangan ketoprak?” Dia menggangguk namun ekspresinya ragu. “Katanya gitu, tapi aku lebih suka asal-usul yang tadi. Ada unsur ketaksengajaan, seperti sekarang.” balasnya.

Lantas obrolan kami mulai teralih ke bahasan lain. Tak lupa akhirnya saya menanyakan alasan mengapa dirinya selalu mengalungkan headphone di lehernya, termasuk saat itu. “Pengalihan.” 

Headphone menurutnya jadi penanda ia sedang tak ingin diajak bicara atau sedang fokus dengan apa yang sedang ia kerjakan. Alasan yang dia pakai sebetulnya tak jauh beda dengan alasan saya kalau sedang menyelesaikan tulisan. Tapi selain itu kami punya kesamaan. Memasang headphone atau earphone adalah upaya menghindari keriuhan. “Kamu enggak merasa berlebihan memasang volume kalau sedang mendengar lagu? Waktu itu saya sampai bisa dengar lagu yang kamu putar. Drake,” pertanyaan pamungkas pun akhirnya keluar. 

Dia terperangah. “Serius? Tapi jadi bisa menghibur kan ya?” Jawabnya sembari menunjukkan senyum membentuk lengkung. Saya hanya mengangguk-angguk. “Balik ke kantor?” Tanya saya. Ia mengangguk lagi. “Biasanya jalan. Kalau angkot nanggung cuma lewat satu belokan dan beberapa gang.” Setelah membayar kami pun berjalan menuju kantor. Saat itu rasanya ingin sekali memperpanjang jarak agar banyak hal bisa kami obrolkan. 

“Kamu kalau liputan gitu naik angkutan umum?” Tanyanya begitu gerbang kantor sudah terlihat. “Astaga! Saya tadi bawa vespa. Kamu duluan enggak apa-apa?” “Ya ampun…” ucapnya tak kalah kaget. “Aku juga tadi bawa sepeda,” jawaban yang tak kalah membuat kami berdua tersenyum geli. Kami memutar arah menuju tempat Kang Ruslan, ketika sudah dekat dari tempat duduknya terlihat samar wajah Kang Ruslan geleng-geleng kepala. 

@30haribercerita #30haribercerita #30hbc1805

Hari 4

Katanya, sebuah jawaban akan hadir kala kita sudah pasrah. Siang itu, saat saya sudah tak berharap banyak dan masih harus mampir ke kantor, akhirnya saya membelokan vespa sebentar ke tukang ketoprak langganan yang berjarak beberapa gang. Usai beberapa jam sejak pagi menemui beberapa narasumber, rasanya saya perlu mengisi perut sebelum menjahit bahan tulisan. “Ketoprak, Kang Ruslan kayak biasa. Pedes tapi jangan dikaretin,” ujar saya kepada si pedagang yang mengaku berasal dari Tasik itu. “Siap, kerupuknya diancurin terus tambah kecap kan? Ke mana aja, Mas baru mampir lagi,” ujarnya memberondong tanya dan sapa. “Biasa, kangen ketoprak jadi mampir,” jawab saya sembari menarik satu kursi plastik dekat gerobak. Tak lama makanan penggugah selera itu pun tiba di tangan. Bumbu kacang dan tahu goreng yang masih manas ikut meruap. Uapnya menyerobot memasuki hidung. Kebiasaan saya kalau menghadapi makanan adalah mencium baunya dulu. Lalu perlahan tangan ini mulai mengaduk bumbu dengan kerupuk yang sudah dihancurkan itu. “Udah jadi, Pak?” suara seorang perempuan menghampiri gerobak. Tak lama Kang Ruslan segera bangkit dari bangku kayunya. Mengambil piring yang ditutupi kertas nasi cokelat di bagian atas gerobak. “Ke mana atuh tadi? Pesennya pas mau makan aja jangan sms segala. Da cepet bikinnya,” ucap Kang Ruslan. “Biar pas saya sampe bisa langsung dimakan, kan udah enggak begitu panas lagi tahu gorengnya. Tambah kecap dong, Pak,” aku menoleh, perempuan itu.

Tanpa sadar saya menggeser mundur posisi duduk. Memberi ruang baginya untuk duduk di bangku plastik persis di sebelah kanan. “Permisi,” ujarnya pelan. Tangan yang mengaduk ketoprak pun jadi agak salah tingkah. Tapi untungnya semua itu bisa segera diatasi. Saya mulai menikmati ketoprak perlahan. Pun dengan dia. “Sering makan di sini?” Ya Tuhan, pertanyaan ini keluar begitu spontan.

Ia menoleh lalu mengangguk pelan. ” Hampir tiap makan siang kalau di kantor,” jawabnya sembari tertawa. “Pantas sudah bisa pre-order ya,” balas saya.

Ia pun terbahak. “Ini salah satu ketoprak enak yang aku temui di Jakarta, makanya nagih ke sini.” “Kamu tahu asal-usul ketoprak?” 

@30haribercerita #30haribercerita #30hbc1804

Hari 3

Beberapa malam terakhir layar ponselnya meninggalkan jejak panggilan tak terjawab dari nomor yang tak dimunculkan.

Di hari kelima ia menerima sebuah pesan pendek dari nomor tak dikenal. “Aku sudah membalaskan dendammu. Bisakah kita berkawan sekarang?” Kanya terpekur menatap layar ponselnya. Pesan pendek tanpa identitas menusuk malam itu. Dendam apa yang membuatnya tertunda untuk berkawan?

Sehingga ada yang susah payah mau membalaskan dendam agar bisa menjalin hubungan pwrkawanan? Kanya berpikir keras. Dendam. 

Satu-satunya dendam yang ia punya hanya tanda tanya. Siapa yang menghancurkan keluarganya sejak dua puluh tahun tahun silam? Siapa yang telah mengoyak harga diri ibunya, membuat depresi ayahnya, membuat status adiknya dipertanyakan, membuat kebahagiaannya terhadap sebuah keluarga hancur. Dendam yang takbisa ditanggung dengan mudah oleh seorang anak saat itu.

Apakah dendam itu yang dimaksud pengirim pesan? Lantas siapa dia? Siapa yang bertanggung jawab dan siapa yang membalaskan dendam itu? Berarti kecurigaannya selama ini cukup beralasan. Ada orang yang memang layak untuk dibalaskan dendam, meski ia tak tahu siapa. Dan ada yang mengetahui rentetan peristiwa itu sendiri.

Bertahun-tahun Kanya hidup dalam dendam tak bermuara. Kepalanya terus bertanya tapi ia tak tahu harus mencari tahu ke mana. Bertanya kepada siapa.

@30haribercerita #30haribercerita #30hbc1803

Hari 2

Kadang atau bahkan seringnya sengaja menunggu sesuatu tiba memang menyengsarakan. Kita kerap tak bertemu dengan apa yang berkelindan di bayangan dan berharap itu jadi nyata.

Seperti saat saya berharap bisa bertemu lagi dengan perempuan yang tak sengaja mengenalkan saya pada sebuah lagu baru. Hampir dua pekan setelah mendengar lagu itu saya tak melihat dia.

Enam tahun bekerja di perusahaan ini, baru kali ini saya menyadari ada sosok yang satu itu. Entah karena dia memang baru atau benar-benar selama ini saya kerap pasang kacamata kuda.

Kondisinya dengan kerja lebih banyak di lapangan saya tak bisa melulu mampir ke kantor. Tapi setiap kesempatan mampir mendorong saya sedikit memunculkan harap bisa melihat atau bertemu dengannya lagi. Ya, dapat momen baru saja.

Kalau melihat saat itu dia berhenti di lantai empat, kemungkinannya dia bekerja di divisi litbang. Divisi yang cukup wajar untuk jarang menemukan orang-orangnya terus ada di dalam kantor. Agak mirip bagian redaksi, mereka punya jam terbang di lapangan cukup besar lantaran kerap melakukan penelitian atau survey lapangan bahkan sering ke luar kota. Sedang saya, wartawan yang mentok keliling kawasan perkotaan. Paling-paling perjalanan luar kota dilakukan saat menjalankan penugasan ke kota-kota satelit.

Menggelikan juga sebetulnya. Perlahan memunculkan harapan terhadap sesuatu yang tak jelas macam ini. Sesuatu menarik perhatian pun tanpa diduga. Datang secara tiba. Tapi entah mengapa ada saja yang mendorong diri ingin mencoba lengkap dengan konsekuensi: tak mengharap banyak.

Pekan depan, saya ada jadwal piket di kantor. Siapa tahu. Ya siapa tahu.

@30haribercerita #30haribercerita #30hbc1802