Embara

Ayahku berselingkuh saat aku berusia tiga atau empat tahun. Waktu di mana tiga adikku masih berebut jatah susu pada ibuku. Aku tak mengerti apa yang terjadi kecuali setiap hari kutemukan ibu menangis diam-diam. Entah saat menyiapkan sarapan, seringnya malam hari. Saat ia merasa kami semua sudah terlelap. Dan tentunya tak ada ayah di rumah.

Aku kembali mendengar kabar ini saat sudah usia sekolah. Kabar ayahku main dengan wanita lain semacam jadi hal yang bisa diketahui siapa saja. Dan perlahan aku lihat Ibu sudah tak peduli lagi. Sejak aku sekolah dasar, Ibu selalu bilang, “kalau kamu sudah dewasa hati-hati memilih pasangan. Jangan sampai bertemu seperti ayah. Ibu doakan kamu dijauhkan dari lelaki semacam itu,” lagi-lagi perkataan orang dewasa semacam itu baru bisa kupahami lagi di kemudian hari.

Tapi apakah kamu tahu pengaruhnya? Hingga kini aku sama sekali tak tertarik menjalin hubungan dengan lelaki. Aku bahkan kerap menghindar begitu ada yang mendekat. Padahal aku tahu bukan itu maksud ibuku padaku dulu. Tapi, apa yang dilakukan ayah dan kulihat sendiri membuatku benci padanya juga manusia sejenis ia.

Pernah kuutarakan maksud pada ibu untuk tak menikah. Ibu hanya menatapku lama lalu menangis. Ia lantas mengguncang bahuku. Ia sempat nyaris menamparku, tapi urung. Ia menangis, meraung. Perkataannya beradu dengan tangisan, raungan. Membuat adik bungsuku yang kebetulan ada di rumah ikut nimbrung ke kamar saat itu.

Malamnya, ibu mengumpulkan kami semua. Aku si sulung yang saat itu masih SMA kelas 2, adikku setahun di bawahku, dua adik lainnya masih di bangku SMP. Entahlah, mungkin pernyataanku jadi pemicunya. Malam itu menceritakan detail bagaimana ia mulai mengetahui ayah berselingkuh. Pertama kali diketahui ayah sempat minta maaf dan mengaku khilaf. Adegan meminta maaf sampai aju sumpah ia lakukan di hadapan Ibu yang saat itu sedang menete si bungsu. 

Usia pernikahan baru 7 tahun ujiannya sudah segila itu tutur Ibu. Tak lama, ayah ketahuan lagi. Ada saja cara Tuhan memberi tahu Ibu, demikian kata Ibu. “Selincah-lincahnya lelaki, ia selalu kalah dari insting perempuan,” kata Ibu menerawang. Cerita panjang Ibu dan segala sakit yang ia rasakan selama ini tertuang lengkap. Ditutup sebuah pesan “Ibu bisa saja memilih tak menikah saat itu. Toh ini pernikahan yang diatur, bisa dibilang dipaksakan. Karena pernikahan ini impian Ibu banyak yang harus pupus. Ibu tak melanjutkan sekolah, Ibu mengubur mimpi bisa kuliah, Ibu memenuhi keinginan orang tua. Menikah lelaki yang mereka tentukan. Ibu lahirkan kalian, dan diperlakukan seolah hanya sebuah pabrik anak. Ibu tak mau kalian seperti Ibu, tapi bukan berarti kalian trauma dengan kisah Ibu dan memilih untuk tak menjalani peran sebagai seorang Ibu, seorang istri.”

Ibu mengatakan lelaki brengsek seperti ayah kami mungkin masih ada dan banyak saja di muka bumi ini. Tapi untuk menghapus keberadaan mereka di muka bumi maka harus ada juga Ibu-ibu yang melahirkan lelaki baik, lelaki bertanggung jawab, lelaki yang tak hanya digerakkan nafsu, lelaki yang selalu merasa lebih tinggi dan superior. “Harus ada juga perempuan yang bisa membuktikan kalau lelaki semacam ayahmu itu pada akhirnya tak berguna dan tak akan jadi pilihan para perempuan.”

Ya, hanya perempuan dengan asam garam kehidupan yang bisa membuahkan pikiran seperti ini. Ia menyimpan dendam tapi bukan dibalut amarah tak wajar. Kemarahan, dendam Ibu kupahami sepenuhnya. Ia menyimpan itu dan membalutnya dengan sebuah mimpi besar yang ia titipkan pada kami, empat putrinya. Ah ya, ayah pernah menyalahkan Ibu juga yang dianggap mandul untuk bisa melahirkan anak laki-laki. Ayah tak pernah mau lagi bermain dengan kami semenjak kelahiran si bungsu, semenjak perselingkuhannya diketahui Ibu.

Ayah dan Ibu masih terikat pernikahan sampai aku kelas 1 SMP. setelah itu Ibu meminta cerai. Bukan karena tak sanggup lagi menghadapi suami semacam itu. Segala kebusukan ayah perlahan nampak sejak dua-tiga tahun pernikahan. Perselingkuhan dan main wanita semacam jadi lonceng keras bagi Ibu untuk mulai waspadai pernikahannya dan rumah tangganya. Ibu anak yang penurut kepada orang tuanya. Tapi ia juga pribadi yang keras. Perlahan apa yang ia hadapi di fase berumah tangga yang sudah tak ada campur tangan orang tua dan mertua, jadi hal yang ia anggap harus bisa ia kendalikan. Semakin lama Ibu sadar, ayah yang bejad ini tak bisa berlama-lama ada di lingkungan 4 anak perempuannya. Dengan segala keterbatasan perceraian ia ajukan. Dan dasar lelaki hidung belang dan tak mau menanggung beban, ia tak keberatan bahkan terang-terangan mempersilakan Ibu bawa kami semua.

Lewat cerita ini apakah ada yang bersimpati terhadap keberadaan lelaki macam itu?

Kisah hidupku ini juga ternyata masih belum seberapa dibanding kisah lain yang kudengar saat aku beranjak dewasa. Tapi tetap, Ibu adalah wanita paling tangguh dan luar biasa bagiku. Tapi pesan dia untuk menikah, itu benar-benar masih perlu aku pertimbangkan lagi, lebih dalam. Meski berkali-kali Ibu bilang, “mungkin ini cuma Ibu yang tak beruntung. Tapi Ibu tak akan biarkan ini jadi turun menurun.”

Advertenties

Hari 15

Malam itu usai menonton dia menolak untuk melanjutkan obrolan di warung kopi. Tapi obrolan berlangsung dalam perjalanan menuju stasiun. Untungnya saya tak bawa vespa, ia pun tak membawa sepeda.

Di stasiun kami berpisah karena berbeda arah. Saya ke Selatan, dia ke Utara.

Temu kami selanjutnya lebih terprediksi: saat jadwal tepat untuk menonton film bagus di bioskop alternatif–lagi-lagi. Kadang kami saling tukar info acara diskusi, acara musik, apa saja. Kadang artikel yang menarik. Secara selera sebetulnya banyak yang berbeda. Tapi sejak mengenal dia, kami–sebetulnya saya, tak keberatan untuk mencoba menikmati apa yang ia suka. Setidaknya untuk memperluas referensi.

Satu hal yang menarik, ternyata masa kecil kami sama-sama diperdengarkan lagu-lagu komposer Perancis, Paul Mauriat. Di titik temu itu kami bernostalgia. Menyenandungkan aransemen bersama sembarang nada. “Aku enggak pernah tahu judulnya. Tapi kalau dengar aku tahu itu lagu yang mana. Sebelumnya apa… setelahnya apa!” Ujarnya berapi-api.

Saya hanya tergelak. Perasaan yang terwakili tanpa perlu mengulangi ucapan serupa.

Hari 14

“Aku Farraz, kayaknya tempo lalu kita belum kenalan. Iya enggak sih?” Ia menggigit bibir bawahnya.

Saya mengangguk. Dia tersenyum. “Heran juga ya, kayak udah kenal lama aja sampai kenalan aja luput,” timpal saya. Dia tergelak. “Aku juga ngerasa gitu waktu itu. Kayak ketemu temen lalu makan bareng dan ya ngobrol apa aja…” Saya memperbaiki letak kacamata. Dia mengetuk jemari di atas meja. “Aku tahu nama kamu dari broadcast beberapa waktu lalu. Soal petisi…” “Ya, saya sama beberapa kawan menggagas itu. Kadang kantor perlu diperingatkan,” jawab saya sembari mengelus Tolstoy.

Matanya kini tertuju padanya. “Di mana ada cinta di sana Tuhan ada,” ucapnya halus. “Sudah bertemu Ivan?” Tanyanya.

Saya berpikir sejenak. “Oh lelaki malang itu…” “Aku suka cerita itu. Judulnya, kisahnya. Mirip dengan Shawsank Redemption enggak sih?” Matanya berbinar. “Ya, ada bagian yang mirip. Lelaki yang harus menanggung hukuman atas hal yang tak dia lakukan sama sekali.” “Itu film bagus. Aku enggak pernah bosan.” “Genre favorit?” Tembak saya. “Aku sebetulnya lebih suka dokumenter. Hal yang real. Tapi kadang beberapa film laga atau drama bisa kunikmati. Ya selama ada hal menarik saja. Kamu?” “Ya… mirip lah. Saya enggak begitu suka cerita alien.” “Pernah nonton District 9? Enggak semua film alien menyebalkan,” senyum setipis itu saja sudah menghadirkan dua lekuk sempurna di wajahnya. “Kalau ada waktu setelah nonton mungkin kita bisa lanjut obrolan ini?” @30haribercerita

Hari 13

Lagi-lagi permainan waktu kalau dipikir-pikir kerap mengasyikan. Sekitar empat meter dari tempat saya duduk sekarang sosok itu berdiri. Mengantre sembari memasukkan kedua tangannya. Tumben headphone tak menggantung di lehernya. Tapi tetap saja, sepasang earphone bertengger di kedua daun telinga.

Saya tutup buku yang sedari tadi saya baca. Menghitung beberapa detik, siapa tahu ia menoleh. 1, 2, 3, 4, 5… saya menghitung sampai 15 detik. Tak ada tanda-tanda. Matanya fokus menatap ke depan barisan. Ah sudahlah, nanti juga kami akan ada di satu ruang bioskop kecil itu. Aku kembali menyapa Tolstoy yang mungkin tadi langsung mendelik kala saya mengalihkan pandangan darinya.Tapi seperti salah satu cerita di dalamnya, Tolstoy Tahu, Tapi Menunggu.

Sejauh ini saya masih jauh lebih tertarik untuk kembali mengikuti kisah dua sahabat yang berziarah ke Yerusalem. Tapi ternyata kehadirannya mengalihkan ketertarikan itu. “Hai, kosong?” Nyata, Tolstoy yang baru kubuka lagi langsung kututup. “Ya, silakan. Ketemu di sini…” ucap saya menggantung. “Iya, kebetulan banget. Tadi dari jauh kok kayak enggak asing, ternyata memang enggak,” jawabnya sembari memperbaiki posisi duduk. “Nama kamu Langit, kan?” Saya mengangguk. Haruskah saya bertanya dia tahu dari mana?

@30haribercerita #30HARIBERCERITA

Hari 12

Saya mengenal Kanya dengan segala kompleksitasnya yang khas. Perempuan dengan sorot mata tajam, enggan menyapa orang, nafasnya kerap memburu setiap mendapati hal yang tak mengenakan hati. Bicaranya lugas, apa adanya. Tapi di balik itu ia rapuh dan sepi. Itu mengapa saya dan Raka akhirnya bisa masuk dalam hidupnya dan dia mau berbagi soal banyak, demikian kami.

Kala bertiga Kanya bisa berubah lebih tenang, lebih kanak-kanak, lebih manja, tapi tetap dia adalah orang yang terlalu banyak berpikir dan menakar segala hal.

Melihat seperti apa ia tumbuh, kami bisa memaklumi. Hidupnya keras. Bebannya berat. Pengalaman hidup atau masalah di keluarga saya rasanya jadi tak ada apa-apanya. Apalagi Raka, dia pernah berseloroh “soal masalah dan beban hidup, Kanya itu ranking satu, Langit ranking dua, saya bontot,” kami terbahak.

Kanya becerita soal masa lalunya setelah tiga tahun kami saling mengenal satu sama lain. Pemicunya saat ayahnya kembali kambuh. Ada penyesalan batin yang tak bisa lepas. Kala semuanya hadir, banyak hal jadi tak terkontrol. Dan Kanya harus bisa menjaga diri agar tetap waras menghadapi semua itu. Saya tempat sampahnya, Raka obat penenangnya. Itulah peran kami dalam hidupnya.

Kanya pernah menyatakan suka kepada saya, tapi saya bilang kondisi kami berdua tak seimbang. Tempat sampah belum tentu bisa jadi tempat bersandar. Kebiasaan dia bercerita dan mencari saya jadi tak bisa dia bedakan. Untung dia segera sadar, kedekatan ini bukan untuk diusik dan dialihkan menjadi lain. Kami harus menjaga semuanya tetap agar antara kami tak ada yang akhirnya pergi. Dan Raka adalah orang yang tepat saat itu. Saya jauh bisa legawa. Sampai saat ini kami masih bisa utuh bertiga. Bisa tetap menikmati martabak telor dini hari setiap Kanya atau Raka pulang dinas luar kota. Sampai tiba pada pembahasan mereka yang kerap mengusik saya. “Ayolah Ngit, ajak siapa agar kita bisa jalan berempat.”

Hari 11

Aku kadung bertemu dengannya. Usai menyapa Mama setelah sekian lama, akhirnya aku luangkan waktu untuk berbincang dengannya. Dalam kondisi aku tak tahu dia punya maksud apa selama ini. “Saya tidak lama di sini, sebentar lagi saya akan pulang. Kalau memang perlu berbicara saya luangkan waktu sedikit,” aku tawarkan itu kepada dia. Dia setuju.

Saat itulah aku berondong dia dengan beberapa pertanyaan, mengapa merawat makam mama, kenapa dia mengirimiku pesan kaleng selama ini, dan kenapa dia seolah mengawasiku sampai tahu di mana aku tinggal. Jujur aku bilang saja kalau aku merasa terteror.

Dia minta maaf. Dia cerita segala yang dia lakukan selama ini upaya membayar dosa ayah dan pamannya. Dosa keluarganya yang telah menghancurkan keluargaku. Kamu tahu kan, seperti apa masa kecilku dulu. Tidak ada memori menyenangkan setelah aku menginjak usia 8 tahun. Keluarga tak utuh. Kakak yang tak mau pulang, ayah yang sakit, adik yang harus kujaga jiwanya. Mama yang memutuskan hidup. Kami korban dari pelaku kejahatan yang bisa sewenang-wenang karena penguasa tanah. Ayahku seorang pengambil keputusan terburuk bahkan untuk hidupnya sendiri.

Ya, lelaki itu mungkin tak punya salah, secara langsung. Tapi dalam tubuhnya turut mengalir darah orang jahat. Dia bilang begitu, dia minta maaf, malah katanya kalau nyawanya bisa ditukar dengan penerimaan maaf dariku, akan dia beri. Apakah dia pikir nyawanya bisa mengembalikan segala kehilangan yang aku rasakan selama ini? Konyol.

Dia terobsesi padaku sejak dulu. Untung dia tak sebejat orang-orang di sekitarnya. Tapi dia jadi sakit karena itu. Apakah aku jadi simpati? Tidak juga. Aku berterima kasih dia sudah merawat makam Mama, menanami kenanga di atasnya, walau aku tak yakin apakah menjelang mati Mama masih berharap ada yang menaruh kenanga di makamnya?

Dan ada satu hal yang ia katakan dan menurutku cukup jadi kunci yang seharusnya semua ini bisa tertunda atau malah tak usah terjadi. Dia menyaksikan peristiwa hari itu.

Hari 10

Kalau dibilang kami nyaris tak bertanya soal nama saat itu saya pikir ada kemungkinan yang terbuka. Pertama soal perasaan sudah mengenal lama, kedua tanpa saya sadari saya memang sudah tahu namanya hanya saja belum mengkonfirmasi.

Saat itu ada agenda wawancara untuk karyawan baru di beberapa divisi.

Dari penampilannya ia tak mencolok seperti yang lain: merias wajah, menggunakan pakaian formal seperti kemeja dan rok untuk sebagian besar perempuan. Berhubung saya orang yang jarang melihat wajah atau segala yang setara dengan kepala, maka lantai, aspal jalan, kaki manusia jadi hal yang lebih sering mendapat perhatian selama ini.

Maka di sanalah semua dimulai. Usai kelas evaluasi dan bersiap menemui narasumber, saya melihat sepasang kaki bersilang dibalut ankle boots klasik di antara barisan heels. Baru sejak itu mata mulai naik mencari tahu pemiliknya. Perempuan yang asyik membaca komik Harlem Beat. Mengenakan cardigan saddle brown, menutupi blouse putih tulang.

Sebuah label nama menempel di dada kanan atas agak terhalang rambutnya yang jatuh karena ia duduk cukup menunduk. Saya hanya melihat huruf ‘AZ’ di bagian ujung.

Tapi ingatan itu tak lama. Setelah itu saya tak ingat dua huruf yang menjadi kunci kesatuan sebuah nama lagi. Dan saya pun nyaris lupa dengan sosok perempuan itu. Hanya ada kesan, sepatunya mengingatkanku pada salah satu koleksi boot Mama.

Ada sebuah momen kebetulan yang sebetulnya andai saya ambil sedikit keberanian ya nama itu bisa diketahui jua. Di satu sore, usai menyelesaikan tulisan rasanya saya malas pulang. Isenglah belok ke sebuah teater alternatif. Kebetulan juga judul film yang akan diputar petang itu menarik, Searching for Sugar Man dan saya tak menyesal menonton film itu. Luar biasa.

Harusnya film bagus ini bisa jadi bahan obrolan menarik kalau sebelum pemutaran saya menghampiri dia, basa-basi duduk di kursi kosong sebelahnya. Tapi tentu itu tak mewujud.

Dan satu hal yang tak bisa kita atur, waktu. Ternyata sampai juga masa bagi saya melengkapi puzzle nama itu. Saat saya mengisi daftar pengambilan paket di resepsionis. Tepat setelah ia mengambil paketnya terlebih dahulu. Farraz.