Terusik Anak yang Berlari

Masih dalam hitungan detik usai imam salat mengucapkan salam. Seorang ibu di deret belakang tiba-tiba berdiri. “Siapa orang tua anak ini?” sergahnya sembari menunjuk seorang anak kecil yang berlarian di area barisan salat jamaah perempuan. Suaranya memang tak kasar. Namun cukup keras. Ia lantas memberondong kalimat-kalimat panjang. “Anak dibiarkan berlari mengganggu orang yang salat. Anak kecil tidak salah yang salah orang tuanya, yang salah orang dewasa yang mendiamkan anaknya berlarian,” tuturnya lagi.

Ia pun mengatakan seharusnya kakak si anak tersebut yang juga tak ikut salat bisa diajak bekerja sama untuk menjaga si adik agar tak terlalu berkeliaran melintasi barisan salat jamaah. Sesaat suasana jadi hening. Yang terdengar hanya suara lantang si ibu dan sedikit gumaman dari yang lain.

Tak terdengar jelas apa pembelaan ibu anak-anak ini. Usai berkata demikian lantang si Ibu itu segera menyambar tasnya. Pergi meninggalkan ruangan sembari menggerutu. Ucapannya tadi diulang kembali dengan suara lebih pelan. Banyak mata mengekor langkahnya. Tak lama beberapa ibu menghentak anak mereka yang banyaknya duduk di belakang barisan. Rata-rata bersegera menyuruh anak mereka yang rata-rata berusia 3-7 tahun itu untuk diam tak berlarian, tak bercanda apalagi tertawa. Beberapa anak mencoba patuh, sisanya diam tapi namanya juga anak-anak masih ada yang berlari. Seorang ibu geram, putranya yang tadi anteng lantas menangis. Ia pun punya PR baru, membawa anaknya ke luar agar tak menambah riuh suasana di dalam masjid.

Dampak sebuah sergahan bisa seperti itu, batin saya. Kalau si ibu yang vokal tadi bertanya dengan nada lebih rendah, pertanyaan lebih halus, apakah dampaknya akan sama? Betapa emosi yang ditransfer lewat kata dan suara satu orang saja dampaknya bisa membuat Ibu lain memarahi anaknya, seorang anak menangis, anak-anak yang riang jadi diam. Apakah Ibu tadi salah? Tidak juga. Cara dan nada yang digunakan mungkin memang sulit berterima, namun apa yang ia katakan ada benarnya. Konsekuensi orang tua membawa anak yang belum baligh, belum paham benar ke tempat ibadah ya mereka harus mencoba menjelaskan kepada si anak soal batas di mana mereka bisa leluasa berlarian, jangan teriak-teriak karena di sana tempat beribadah.

Mungkin ada orang tua yang ingin mengenalkan masjid kepada anak-anaknya sedari dini. Ada juga yang membawa anak ke masjid karena mereka tak bisa ditinggal di rumah. Atau alasan lain yang tidak diketahui karena keterbatasan kita menginderai bermacam kondisi.

Kondisi seperti ini perlu dipahami dari berbagai sudut. Orang tua yang punya anak dan para jemaah yang ingin khusyuk beribadah. Orang tua sebagai bagian jemaah yang beribadah tentu juga ingin ibadahnya tenang. Tak terganggu suara jerit tangis atau rengekan anak.

Beginilah temuan hari ke-19 Ramadan. Ada amarah yang perlu ditekan. Ada kesal yang mudah menular dan jadi berlipat ganda untuk disalurkan. Hati-hati, ada jiwa yang belum paham lantas jadi korban. Tanpa sadar dampaknya bisa panjang.

Gagal Tidur, Gagal Bahagia

Beberapa hari lalu saya akhirnya menemukan tautan film Architecture 101. Film ini saya cari cukup lama dan entah kenapa baru berjodoh tahun ini setelah dirilis lima tahun lalu. Saya juga baru mengetahui ada film ini sekitar akhir 2014 kalau tak salah. Awalnya karena iseng saja mencari tahu ada film apa saja sih yang tokohnya berprofesi arsitek dan biasanya tokoh itu lawan mainnya berprofesi apa? Arahnya jelas, saya masih mencari tokoh di film yang mempertemukan arsitek dan wartawan. Masih nihil sampai sekarang. Seringnya arsitek sama dokter, duh sempurna amat rasanya 😤

Oke balik lagi ke film Architecture 101 ini. Jujur kelemahan saya dalam mengingat unsur di film Korea adalah nama tokoh dan tempat. Lebih mudah bagi saya menyebut tokoh dengan menggantinya menggunakan referensi film mereka yang lain. Misal di film ini, tokoh perempuannya yang main di Moon Embracing the Sun dan tokoh lelakinya si arsitek itu, dia main di Sassy Girl Choon Hyang. Tapi saat menuliskan ini harusnya saya bisa luangkan sebentar untuk riset barang nama asli mereka kalaupun tak ingat nama yang mereka perankan. Enggak sopan kan ya. Nah ternyata tokoh utama prianya bernama Uhm Tae-Woong dan yang perempuan (duh dia cantik banget dan kusuka lihat parasnya) bernama Han Ga-In. Mereka berperan sebagai Seung-min dan Seo-Yeon di masa dewasa.

Sebenarnya saya agak menyesal menonton film ini tengah malam saat tak bisa tidur. Keisengan yang mulanya dicari untuk memaksakan kantuk hadir malah bikin melek sampai menjelang sahur. Dan menyisakan sesak, duh akhirnya realistis banget sih memang. Tapi sebagai penyuka cerita yang enggak berakhir bahagia  selama-lamanya jujur saya kesal. Karena ini personal banget hahaha. Enggak lagi-lagi mencari tahu film soal arsitek yang kisahnya semacam ini.

Kenapa sih Cha? Nonton aja dulu deh hahaha
Sebenarnya film ini lucu, kadang bikin senyum-senyum lihat kepolosan tokoh pada masa awal perkenalan mereka. Kedekatan dan ketergantungan yang dibangun juga begitu rileks dan personal. Seo-Yeon muda begitu cerewet, kadang bossy, tapi gimana ya Seung-Min yang dasarnya polosm kalem, pendiem ini suka sama dia dari pertama lihat kayaknya. Terus kenalannya juga ngalir gitu aja. Meski di tengah cerita tahu juga alasan Seo-Yeon ini yang kuliah jurusan musik kok bisa mampir ikut duduk di kelas anak-anak arsitektur. Duuh kuingin bisa kayak gitu coba ya dulu… niat gitu dari Jatinangor ke ITB di Bandung buat ikutan kuliah umum mahasiswa arsitektur, bukan buat ngecengin mahasiswanya, tapi buat nyolong ilmunya. Pengen jadi arsitek ya Allah.

(bersambung dulu ya)

Hai, Kota

Jakarta tak bisa seperti Jatinangor, tempat saya berkuliah dulu. Sebuah kota kecil yang kerap saya nikmati malamnya kadang bersama kadang sendiri dengan berjalan kaki menyusuri gang, tepi jalan, dari kampus ke kosan, dari kosan ke tempat perbelanjaan, warung makan, kosan teman, atau sekadar berjalan tanpa tujuan. Di Bandung pun saya tak seberani itu. Mungkin seperti nyali, saya hanya kuat dengan kota kecil.
Bedanya jelas Jakarta kota besar. Saya hanya mampu berjalan di kawasan tertentu itu pun sambil mengantongi kekhawatiran. Tengah malam, Jakarta yang ramai bisa mendadak sunyi dan itu yang saya temui. Sunyinya mungkin hanya sejenak. Lepas subuh perlahan jalanannya kembali disapa deru kendara berisi penduduk pekerja yang sama-sama mencari dan bertahan hidup. Banyak yang mengejar ambisi dan mengantongi pundi demi kelayakan dan kelas yang kian merangkak. Layaknya gedung yang kian bertambah dan meninggi menantang matahari. Menyisakan kerut di dahi. Sesak di dada.
Seperti apa hakikat kota yang sebenarnya layak untuk manusia huni dan tinggali? Setiap harinya padat dan kemacetan berulang. Maki dan serapah jadi bagian yang menyapa telinga. Kisah pilu di balik bangunan mewah serupa pelengkap kisah. Kelas sosial yang makin melebar dirasa wajar. Kota ini pun terus menghadirkan penjahat. Tanpa menepikan mereka yang kuat menjaga diri agar tak serakah.
Seperti apa layaknya hidup bisa dinikmati oleh manusia yang mampir di kota besar ini? Apalagi oleh manusia tanpa punya mimpi muluk dan mau banyak seperti saya. Nampaknya akan kalah banyak dari mereka yang begitu gigih memenuhi kantongnya.
Empat tahun di kota ini dan tanya belum berganti. Tapi bicara mencari makna selama tak kita temui di dalamnya mungkin memang kitalah yang bisa bahkan harus mengisinya.
Terima kasih Jakarta, kota yang sedari dulu saya hindari nyatanya menjadi ruang baru untuk banyak berkontemplasi. Kau beri banyak cerita, bantu perkaya diri dari pengalaman dan banyak kisah. Kota yang tak bisa dibenci begitu saja. Karena katanya di tempat seperti ini pun kita masih bisa temukan cinta. ~Gambar merupakan bagian tulisan dari Arsitektur yang Lain, Avianti Armand~

Neuron dan Keseragaman

Banyak hal menarik dari diskusi semalam dalam acara Perempuan dan Habitat yang diselenggarakan Rujak. Salah satunya materi yang disampaikan Profesor Pireeni Sundaralingam. Ada miliaran neuron dalam otak manusia. Dan ada sejumlah riset soal itu. Dengan kondisi demikian, sangat memungkinkan untuk siapapun harusnya mampu berpikir di luar kotak. Namun mengapa hal itu tetap saja membuat manusia kerap berpikir seragam.

Saya mengamini hal itu. Kapasitas yang dimiliki otak manusia tentu saja tak menutup kemungkinan bagi setiap orang untuk bisa berpikir kreatif. Mengolah segala hal dari yang terindera. Dan sangat bisa membuat masing-masing punya pandang tersendiri tanpa harus takut merasa berbeda kala hasil penginderaan, pemikiran berbeda dengan yang lain. Kebanyakan merasa nyaman kalau dirinya seragam. Padahal hakikatnya beragam. Betapa kuatnya struktur dalam masyarakat berpengaruh terhadap hal tersebut.

Bukan berarti satu dengan yang lain harus selalu berbeda juga. Tapi setidaknya segala keputusan yang kita pilih memang melalui hasil pemikiran yang dioptimalkan. Jika hasilnya ada kemiripan, serupa dengan pandang orang itu lain soal. Berarti ada model penginderaan dan panduan yang cukup serupa yang dilakukan. Dan lagi, bukan ikut-ikutan.

Tapi apa yang terjadi saat ini ya begitu mudahnya digiring dengan hal yang nampaknya benar padahal kondisinya kita sedang malas berpikir lebih dalam dan serius saja. Merasa cukup dengan paparan orang yang sebetulnya menyimpan agenda sendiri dan tujuannya memang ingin menggiring banyak untuk berpikir serupa. Apa yang terjadi? Bisa dilihat sendiri.

Jakarta sebelum pagi*

Adalah sepi

Namun tak kosong dari mereka yang mencari rezeki
Bisa saja kau temui pencari sampah sudah berkeliling
Penjaja kopi dan rokok masih setia di tepi jalan raya
Para tukang yang membangun jalan dan jembatan
Juga gedung-gedung yang makin berlomba menjunjung langit

Juga tukang sapu jalanan
Ada yang berjalan ada bersepeda
Bertambah hitungan,
Deru deru bus kota mulai nyala
Semakin dini kau bisa mulai mengenal angkutan mana yang bergerak tak kenal waktu

Dan para tua bekerja tak kenal usia
Jangan lupakan juga mereka yang mendorong gerobaknya: nasi dan mi goreng, satai, atau ketoprak yang mungkin kerap mengisi salah satu malammu yang lapar
Atau di beberapa lokasi yang temaram dan sepi

Ada yang bisa kau temui jajai diri. Ditemani pria berkendara roda dua. Berderet berjarak hitungan meter saja. Musik-musik kencang berdentang mengusik sepi di kolong-kolong jembatan. Diputar entah untuk apa.

Lempar pandang di tepi-tepi toko, ada saja tubuh meringkuk beralas koran ditutup dus lembap. Lelah pun tak perlu menunggu diganjar kasur yang mewah.

Dan ketika ayam bersuara, matari mulai menggamit terang… beberapa berpikir hari barunya tiba.
Udara rasanya berubah seketika. Lainnya berkata aku harus kembali bekerja. Sejenak ingin pejam pun sirna sudah.

Di kota ini kehidupan rasanya memang berjalan tanpa waktu. Dan kita memang tak bisa memperdaya waktu. Waktu akan selalu begitu.

 

 

*meminjam judul novel yang belum lama ini dibaca

Pulang

Pesan Ibu kemarin pagi membuat saya refleks melempar ponsel ke kasur, menutup laptop yang masih menyala, menggulung kabel daya, memasukkan semuanya ke dalam tas. Saya kembali meraih ponsel untuk menghubungi kawan. Bersamaan dengan itu Bapak menelpon. Pesan yang diucapkan enggak jauh berbeda dengan apa yang Ibu tuliskan. Emak meninggal.

Beberapa hari lalu, tepat setelah kakak saya pulang ke rumah kami sempat menggosipkan nenek dari pihak Ibu ini. Teteh yang sudah lebih lama tak bertemu bercerita banyak hal. Bagaimana nenek yang sudah tak bisa melakukan banyak hal masih punya banyak ingin. Ingin makan macam-macam dari yang masih bisa diusahakan sampai makanan yang tak mungkin bisa ia makan dalam kondisi saat ini.

Kami beberapa kali tertawa saat bertukar cerita soal pengalaman saat mendampingi beliau. Kami punya satu pandangan yang sama, nenek kami ini orangnya sangat kuat dan kondisi itu membuat kami menyimpulkan kekuatan itu yang membuat beliau bisa bertahan dengan rasa sakit terutama lima bulan terakhir saat ia terjatuh dan tak bisa berjalan lagi.

Keseharian nenek di atas kasur. Segala aktivitas di lakukan di sana dari makan sampai membersihkan badan. Tubuhnya lemah nirdaya. Tapi kalau sudah mendengar ia ingin makan macam-macam seperti keripik, pilus, sedang mengunyah bubur saja sudah repot, siapa yang tak ingin tertawa? Nadanya kadang merajuk seperti anak-anak meminta permen. Atau langsung menolak disuapi begitu permintaannya tak bisa dipenuhi…

Kadang selera makannya baik, porsi bubur yang Ibu masak sudah habis pun itu patut disyukuri. Masalahnya hanya makanan-makanan lembut yang bisa ia makan. Sesekali memenuhi inginnya untuk mengunyah keripik saja ngilu melihatnya. Emak begitu kerepotan menggigit dan mengunyah meski giginya masih kuat. Tapi lagi, ia kadung kehilangan daya.

Meski demikian setiap Emak mengucap ingin makan ini itu, ketika ia bersuara mengatakan apa saja, kami mensyukuri banyak hal. Di usianya menginjak 85 tahun ingatannya masih baik, dalam segala kondisi lemah ia selalu menanyakan soal waktu, memastikan waktu untuk salat, dan mulutnya tak lepas dari dzikir.

Tubuhnya yang kecil berisi makin lama makin tak menyisakan daging. Aku ngilu setiap meraih tangannya untuk menyapa saat pulang atau pamit kala mesti pergi lagi. Tulang-tulang menonjol, telapaknya dingin, tapi ia mencoba merengkuh erat siapapun yang datang. Termasuk saat Ibu bercerita beberapa jam sebelum Emak menghembus nafas terakhirnya.

Menjelang subuh, setelah mengaji bersama Emak, Ibu izin untuk salat. Emak memberi isyarat agar jangan ditinggalkan sendiri. Setelah melakukan sedikit lobi, Emak menurut. Usai salat ibu kembali ke kamar Emak. Membantunya membersihkan diri.

Mungkin Emak menyadari saat itu telah ada yang bertamu untuk menjemputnya. Selepas Subuh Emak akhirnya pulang, Ibu mendampinginya dan Aku gak tahu bagaimana rasanya mendampingi seseorang saat dijemput kematian. Ibu telah berada di posisi itu dua kali. Kemarin dan delapan tahun lalu. Ibu mendampingi kepergian kedua orang tuanya. Mendampingi keduanya membacakan syahadat, mendampingi untuk senantiasa mengingat sang Maha menjelang kepulangan.

Hanya Ibu yang tahu bagaimana rasanya, dan aku hanya bisa diam sembari memeluknya saat ia menceritakan semua begitu aku tiba. Alhamdulillah Emak ada yang nungkulan… Ibu nemenin Emak sampai selesai.

Ingatan tentangnya bermunculan sepanjang menempuh jalan pulang. Pekerjaan yang kubawa untuk dituntaskan di perjalanan mesti mengalah oleh lamunan yang tiba-tiba.

Ia tak pernah lupa untuk memberi. Apapun itu. Tangannya demikian terampil membuat banyak kue-kue tradisional. Tak heran seringkali setiap aku main ke rumahnya ia menghabiskan waktu di dapur. Menguleni adonan, meracik bumbu. Dan cucu-cucunya tentu kerap merindukannya dibuatkan sesuatu. Nasi goreng kunyit salah satunya. Kue ali, kue mangkuk, kue apem, dan banyak lagi… semua dibuatnya seolah tanpa takar karena ia sudah hafal hitungan dan menggunakan rasa saat mengolah resep-resep andalannya.

Ia selalu memperlakukan cucu-cucunya seolah tak pernah dewasa. Hingga kuliah kalau aku mampir ke rumahnya selalu ditawari mau makan apa, mau jajanan apa, bahkan kalau aku pamit kembali ke Bandung, Jatinangor, Emak tak pernah lupa menyisipkan lembaran uang, “untuk ongkos,” kata dia sembari kusalami. Kadang ia juga berucap maaf tak bisa memberi. Padahal bukan itu yang kuharap, tapi itulah Emak sedari dulu.

Ia tak pernah absen untuk pergi mengunjungi sesiapa, memberi untuk siapa saja. Hatinya demikian kaya untuk hal semacam itu.

Semalam, setelah pemakaman cerita-cerita kenangan mulai mengalir. Tak ada kenangan buruk, semuanya ingatan soal kebaikan dan kepolosan nenekku yang satu itu. Ibu dari tujuh orang putra putri. Suaminya pedagang, sepanjang pernikahannya hidupnya ia baktikan untuk sang suami. Mendampingi hingga akhir. Kenangan tentangnya tak henti meski tubuhnya sudah di dalam sana. Pusara itu pertanda keberadaannya dan juga kepulangannya. Tapi kenang tentangnya ada dalam benak kami semua sampai nanti kami turut menyusulnya pulang. Semoga Allah berkenan kumpulkan kami kembali dalam surga-Nya. Semoga Allah meridhoi.

Memento

Melupakan itu bukan hal mudah dalam banyak aspek. Melingkupi banyak kondisi. Tak semudah berkata, aku akan segera melupakan ini semua. Sekuat apa diri mampu? Bergantung pada yang melekat dan memberat di baliknya. Tapi yang jelas aku sadar aku yang ada di balik kemudi. Kamu, minggir.

Mudah Saja

Kita kerap ditemukan dan diberikan kemudahan. Saat ini apa saja rasanya bisa didapat tanpa banyak susah payah. Segala kebutuhan perlahan penuh tanpa perlu bergerak banyak, cukup dengan permainan jari.

Segala yang nampak dan disodorkan di muka makin memberi nyaman atas banyak hal. Sadarkah apa lantas hilang dan juga kerap terjadi?

Kalau kata kawan diskusi saya tadi pagi, kebutuhan teraih tanpa banyak usaha berarti. Kalau tidak sadar di situ manusia berhenti jadi manusia. Hidup di rimba baru.

Segala yang mudah contohnya saja mau ke mana tinggal pesan transportasi. Mau apa-apa ya tinggal beli, orang duitnya punya saya sendiri. Barang lecet sedikit ganti, padahal fungsinya masih sangat baik.

Mengabaikan hal-hal di luar diri. Yang penting saya dulu. Enggak masalah yang lain. Semua hasil usaha saya, terserah saya mau apa. Suka-suka saya mau kayak gimana.

Kadang saya bisa seperti itu walau kastanya masih rendah 😂
Misal belum lama kepikiran ganti keran air yang kerap meneteskan air meski sudah ditutup. Sampai setiap hari mesti ditadah ember dan bisa penuh semalaman.

Dampaknya? Tagihan kadang naik. Wah rusak nih… Kepikiran gitu sampai sebulan lebih. Sampai akhirnya saat baju yang sudah dibilas tak sengaja saya tumpuk di atas keran, kok airnya enggak menetes ya? Oh.. Kalau diberi beban agak berat ternyata berhenti. Akhirnya saya ikat dengan karet.

Dan ya lumayan menetesnya enggak banyak lagi. Lagi pula selain itu kerannya masih bagus. Mencoba memperbaiki ini yang kadang luput. Padahal memperbaiki tentu lebih baik dari gampang mengganti. Tinggal beli. Selesai.

Ya uang kadang perlu. Rasanya pasti nyaman saat kebutuhan mendasar terpenuhi utuh. Tapi semoga saya bisa belajar memenuhi berdasar kemampuan dan kebutuhan bukan keinginan. Dan menghindari mencapai segala dengan mudah tanpa memikirkan dampak-dampak di luar hidup sendiri. 

#30harimenulis #tulisapasaja #bukanpuisitentunya #belajardarikranair


Sent from Fast notepad

Pakde

Tadi pagi spontan mata saya berbinar begitu melihat gerobak pakde penjual sayur yang kerap mampir setiap pagi. Pasalnya beberapa hari belakangan dia absen. Gerobaknya tak pernah datang. Gerobaknya selalu penuh membawa beberapa jenis buah, sehingga enak kalau mau memilih. Gaya bertuturnya pun lucu. Dia suka memberi harga rendah, “ambil untung secukupnya saja kalau kegedean saya rugi, enggak ada yang beli,” tuturnya satu waktu.

Ya tadi pagi pakde kembali hadir. Sayang, alasannya dia selama ini bikin saya masygul. Rupanya istrinya meninggal. Itu sebab beberapa hari ini dia tak berjualan. Pakde mesti pulang ke Pekalongan. Ia bercerita menahan duka. Kabar datang pagi-pagi pukul 08.00 WIB saat itu. Saat itu dirinya sudah menjajakan dagangan. Tubuhnya langsung lemas saat kabar itu tiba. Saya tidak berani bertanya lebih banyak lagi tapi ia lanjut berkisah soal perjalanannya pulang, absen jualan berhari-hari. Sampai akhirnya dia bilang, “ya sekarang udah bisa dagang lagi, kan tetep ada yang harus dikasih makan,” ucapnya datar sembari melayani pembeli. Ia kembali menyunggingkan senyum dan tawa khasnya.

Mimpi

Kamu percaya terhadap mimpi yang hadir dalam lelapmu?

Mungkin lebih bergantung pada.

Mengapa?

Karena pertama mimpi hadir tak bisa dikendali atau diminta begitu saja. Setidaknya aku tak punya kekuatan untuk melakukan hal itu.
Jadi selama mimpinya baik, menyenangkan hati, aku ingin mencoba percaya kalau itu pertanda yang baik pula. Percaya tak percaya, ya itung-itung mewarnai hidup saja.

Lalu dari sekian mimpi indah, yang mana yang paling kau ingat dan kau suka?

Tak ingin kuceritakan, karena aku takut nanti itu tak jadi nyata.