Pulang

Pesan Ibu kemarin pagi membuat saya refleks melempar ponsel ke kasur, menutup laptop yang masih menyala, menggulung kabel daya, memasukkan semuanya ke dalam tas. Saya kembali meraih ponsel untuk menghubungi kawan. Bersamaan dengan itu Bapak menelpon. Pesan yang diucapkan enggak jauh berbeda dengan apa yang Ibu tuliskan. Emak meninggal.

Beberapa hari lalu, tepat setelah kakak saya pulang ke rumah kami sempat menggosipkan nenek dari pihak Ibu ini. Teteh yang sudah lebih lama tak bertemu bercerita banyak hal. Bagaimana nenek yang sudah tak bisa melakukan banyak hal masih punya banyak ingin. Ingin makan macam-macam dari yang masih bisa diusahakan sampai makanan yang tak mungkin bisa ia makan dalam kondisi saat ini.

Kami beberapa kali tertawa saat bertukar cerita soal pengalaman saat mendampingi beliau. Kami punya satu pandangan yang sama, nenek kami ini orangnya sangat kuat dan kondisi itu membuat kami menyimpulkan kekuatan itu yang membuat beliau bisa bertahan dengan rasa sakit terutama lima bulan terakhir saat ia terjatuh dan tak bisa berjalan lagi.

Keseharian nenek di atas kasur. Segala aktivitas di lakukan di sana dari makan sampai membersihkan badan. Tubuhnya lemah nirdaya. Tapi kalau sudah mendengar ia ingin makan macam-macam seperti keripik, pilus, sedang mengunyah bubur saja sudah repot, siapa yang tak ingin tertawa? Nadanya kadang merajuk seperti anak-anak meminta permen. Atau langsung menolak disuapi begitu permintaannya tak bisa dipenuhi…

Kadang selera makannya baik, porsi bubur yang Ibu masak sudah habis pun itu patut disyukuri. Masalahnya hanya makanan-makanan lembut yang bisa ia makan. Sesekali memenuhi inginnya untuk mengunyah keripik saja ngilu melihatnya. Emak begitu kerepotan menggigit dan mengunyah meski giginya masih kuat. Tapi lagi, ia kadung kehilangan daya.

Meski demikian setiap Emak mengucap ingin makan ini itu, ketika ia bersuara mengatakan apa saja, kami mensyukuri banyak hal. Di usianya menginjak 85 tahun ingatannya masih baik, dalam segala kondisi lemah ia selalu menanyakan soal waktu, memastikan waktu untuk salat, dan mulutnya tak lepas dari dzikir.

Tubuhnya yang kecil berisi makin lama makin tak menyisakan daging. Aku ngilu setiap meraih tangannya untuk menyapa saat pulang atau pamit kala mesti pergi lagi. Tulang-tulang menonjol, telapaknya dingin, tapi ia mencoba merengkuh erat siapapun yang datang. Termasuk saat Ibu bercerita beberapa jam sebelum Emak menghembus nafas terakhirnya.

Menjelang subuh, setelah mengaji bersama Emak, Ibu izin untuk salat. Emak memberi isyarat agar jangan ditinggalkan sendiri. Setelah melakukan sedikit lobi, Emak menurut. Usai salat ibu kembali ke kamar Emak. Membantunya membersihkan diri.

Mungkin Emak menyadari saat itu telah ada yang bertamu untuk menjemputnya. Selepas Subuh Emak akhirnya pulang, Ibu mendampinginya dan Aku gak tahu bagaimana rasanya mendampingi seseorang saat dijemput kematian. Ibu telah berada di posisi itu dua kali. Kemarin dan delapan tahun lalu. Ibu mendampingi kepergian kedua orang tuanya. Mendampingi keduanya membacakan syahadat, mendampingi untuk senantiasa mengingat sang Maha menjelang kepulangan.

Hanya Ibu yang tahu bagaimana rasanya, dan aku hanya bisa diam sembari memeluknya saat ia menceritakan semua begitu aku tiba. Alhamdulillah Emak ada yang nungkulan… Ibu nemenin Emak sampai selesai.

Ingatan tentangnya bermunculan sepanjang menempuh jalan pulang. Pekerjaan yang kubawa untuk dituntaskan di perjalanan mesti mengalah oleh lamunan yang tiba-tiba.

Ia tak pernah lupa untuk memberi. Apapun itu. Tangannya demikian terampil membuat banyak kue-kue tradisional. Tak heran seringkali setiap aku main ke rumahnya ia menghabiskan waktu di dapur. Menguleni adonan, meracik bumbu. Dan cucu-cucunya tentu kerap merindukannya dibuatkan sesuatu. Nasi goreng kunyit salah satunya. Kue ali, kue mangkuk, kue apem, dan banyak lagi… semua dibuatnya seolah tanpa takar karena ia sudah hafal hitungan dan menggunakan rasa saat mengolah resep-resep andalannya.

Ia selalu memperlakukan cucu-cucunya seolah tak pernah dewasa. Hingga kuliah kalau aku mampir ke rumahnya selalu ditawari mau makan apa, mau jajanan apa, bahkan kalau aku pamit kembali ke Bandung, Jatinangor, Emak tak pernah lupa menyisipkan lembaran uang, “untuk ongkos,” kata dia sembari kusalami. Kadang ia juga berucap maaf tak bisa memberi. Padahal bukan itu yang kuharap, tapi itulah Emak sedari dulu.

Ia tak pernah absen untuk pergi mengunjungi sesiapa, memberi untuk siapa saja. Hatinya demikian kaya untuk hal semacam itu.

Semalam, setelah pemakaman cerita-cerita kenangan mulai mengalir. Tak ada kenangan buruk, semuanya ingatan soal kebaikan dan kepolosan nenekku yang satu itu. Ibu dari tujuh orang putra putri. Suaminya pedagang, sepanjang pernikahannya hidupnya ia baktikan untuk sang suami. Mendampingi hingga akhir. Kenangan tentangnya tak henti meski tubuhnya sudah di dalam sana. Pusara itu pertanda keberadaannya dan juga kepulangannya. Tapi kenang tentangnya ada dalam benak kami semua sampai nanti kami turut menyusulnya pulang. Semoga Allah berkenan kumpulkan kami kembali dalam surga-Nya. Semoga Allah meridhoi.

Mudah Saja

Kita kerap ditemukan dan diberikan kemudahan. Saat ini apa saja rasanya bisa didapat tanpa banyak susah payah. Segala kebutuhan perlahan penuh tanpa perlu bergerak banyak, cukup dengan permainan jari.

Segala yang nampak dan disodorkan di muka makin memberi nyaman atas banyak hal. Sadarkah apa lantas hilang dan juga kerap terjadi?

Kalau kata kawan diskusi saya tadi pagi, kebutuhan teraih tanpa banyak usaha berarti. Kalau tidak sadar di situ manusia berhenti jadi manusia. Hidup di rimba baru.

Segala yang mudah contohnya saja mau ke mana tinggal pesan transportasi. Mau apa-apa ya tinggal beli, orang duitnya punya saya sendiri. Barang lecet sedikit ganti, padahal fungsinya masih sangat baik.

Mengabaikan hal-hal di luar diri. Yang penting saya dulu. Enggak masalah yang lain. Semua hasil usaha saya, terserah saya mau apa. Suka-suka saya mau kayak gimana.

Kadang saya bisa seperti itu walau kastanya masih rendah 😂
Misal belum lama kepikiran ganti keran air yang kerap meneteskan air meski sudah ditutup. Sampai setiap hari mesti ditadah ember dan bisa penuh semalaman.

Dampaknya? Tagihan kadang naik. Wah rusak nih… Kepikiran gitu sampai sebulan lebih. Sampai akhirnya saat baju yang sudah dibilas tak sengaja saya tumpuk di atas keran, kok airnya enggak menetes ya? Oh.. Kalau diberi beban agak berat ternyata berhenti. Akhirnya saya ikat dengan karet.

Dan ya lumayan menetesnya enggak banyak lagi. Lagi pula selain itu kerannya masih bagus. Mencoba memperbaiki ini yang kadang luput. Padahal memperbaiki tentu lebih baik dari gampang mengganti. Tinggal beli. Selesai.

Ya uang kadang perlu. Rasanya pasti nyaman saat kebutuhan mendasar terpenuhi utuh. Tapi semoga saya bisa belajar memenuhi berdasar kemampuan dan kebutuhan bukan keinginan. Dan menghindari mencapai segala dengan mudah tanpa memikirkan dampak-dampak di luar hidup sendiri. 

#30harimenulis #tulisapasaja #bukanpuisitentunya #belajardarikranair


Sent from Fast notepad

Tadi pagi spontan mata saya berbinar begitu melihat gerobak pakde penjual sayur yang kerap mampir setiap pagi. Pasalnya beberapa hari belakangan dia absen. Gerobaknya tak pernah datang. Gerobaknya selalu penuh membawa beberapa jenis buah, sehingga enak kalau mau memilih. Gaya bertuturnya pun lucu. Dia suka memberi harga rendah, “ambil untung secukupnya saja kalau kegedean saya rugi, enggak ada yang beli,” tuturnya satu waktu.

Ya tadi pagi pakde kembali hadir. Sayang, alasannya dia selama ini bikin saya masygul. Rupanya istrinya meninggal. Itu sebab beberapa hari ini dia tak berjualan. Pakde mesti pulang ke Pekalongan. Ia bercerita menahan duka. Kabar datang pagi-pagi pukul 08.00 WIB saat itu. Saat itu dirinya sudah menjajakan dagangan. Tubuhnya langsung lemas saat kabar itu tiba. Saya tidak berani bertanya lebih banyak lagi tapi ia lanjut berkisah soal perjalanannya pulang, absen jualan berhari-hari. Sampai akhirnya dia bilang, “ya sekarang udah bisa dagang lagi, kan tetep ada yang harus dikasih makan,” ucapnya datar sembari melayani pembeli. Ia kembali menyunggingkan senyum dan tawa khasnya.

Mimpi

Kamu percaya terhadap mimpi yang hadir dalam lelapmu?

Mungkin lebih bergantung pada.

Mengapa?

Karena pertama mimpi hadir tak bisa dikendali atau diminta begitu saja. Setidaknya aku tak punya kekuatan untuk melakukan hal itu.
Jadi selama mimpinya baik, menyenangkan hati, aku ingin mencoba percaya kalau itu pertanda yang baik pula. Percaya tak percaya, ya itung-itung mewarnai hidup saja.

Lalu dari sekian mimpi indah, yang mana yang paling kau ingat dan kau suka?

Tak ingin kuceritakan, karena aku takut nanti itu tak jadi nyata.

Jemari itu…

Sementara aku kehilangan senyumnya. Mulutnya yang kadang cerewet melalau tingkah, kini mungkin akan jadi satu yang kurindu. Setidaknya, mulut itu masih fasih berdzikir. Tak lepas setidaknya sampai tidur. Tubuhnya tak sanggup bangkit, ringkih. Tapi selalu ingat dan bertanya kapan waktu salat.

Hari-harinya habis menggelar tubuh di atas lapisan demi lapisan yang senantiasa ia basahi, meringkuk pun bisa lewah baginya. Bagaimana tidak, segala ia rasa tak kuasa ia bagi. Segala menggerogoti senyata usia. Kulitnya yang putih makin pasi. Melekat rangka demikian erat.

Tak ada lagi pipi berisi, gerak lincah, si pemilik tubuh kecil nan gesit rajin mengunjungi tetangga itu kini tak ke mana-mana.

Tiba-tiba, kuingat tangan lincah mengaduk adonan kue. Jemari yang telaten memungut adonan lantas membentuk kembang. Lalu tangan yang sama menggoyang tusuk bambu mengangkat kue cincin, membuncang kembang goyang. Dari tangan-tangan itu, segala penganan tradisional ia bentuk. Mendatangkan pesanan untuk banyak hajatan.

Jemari tangan-tangan ini pula yang tekun mengiris, mengolah, meracik bumbu, membuat masakan terutama nasi goreng untuk para cucu. Jemari-jemari yang telah mengangkat, menggendong, tujuh anak dari rahimnya, lalu cucu-cucunya.

Tangan yang tak henti ingin memberi.

Kemarin, jemari-jemari tangan itulah yang lama kusentuh. Tersisa tulang demikian menonjol. Aku pulang, kusentuh tangannya. Aku pamit, kupinjam lagi jemarinya. “Hati-hati,” ujarnya pelan disela entah rintih, entah wirid, entah apa. Baiknya itu doa.

Aku hanya berharap pulang tanpa penyesalan. Itu yang kini memberatkan.


Sent from Fast notepad

Kopi dan Teh

Saya memulai Agustus tahun ini dengan segelas teh. Itu pun kecelakaan. Awalnya saya ingin menyeduh kopi Aceh yang sudah lama tak dicicip. Sayang begitu menjerang air, gas mati, aie baru mendidih tapi belum bergejolak layaknya air panas yang saya butuhkan untuk mengoptimalkan aroma kopi keluar. Saya lupa belum beli gas.

Apa daya, donat sudah dipotong-potong untuk sarapan. Membuat cokelat hangat pun saya kehabisan susu kental manis dan susu UHT. Baiklah, masih ada ramuan teh. Kopi tak jadi masih ada teh. Saya tak perlu begitu kecewa, teh masih jadi minuman favorit saya.

Siangnya lepas liputan, kekecewaan kembali menyergap. Rasa yang tak bisa diganti dengan rasa lain. Tak semudah kopi yang bisa diganti teh begitu saja. Kecewa, kaget, dan lagi-lagi… agak buruk sebenarnya kejadian macam ini jadi pengawal pekan. Hanya hidup memang selalu penuh kejutan ya. Dikagetkan itu rasanya jadi bumbu di luar akan memberi rasa enak atau tidak, nyaman atau tidak. Demikianlah. Malam ini saya harus minum kopinatau cokelat hangat, rasanya itu akan baik untuk menutup hari ini : )


Sent from Fast notepad

Lebaran dan Balon-balon di Udara

Ada banyak hal yang kerap bisa saya lihat saat melakukan salat Ied di kampung halaman. Di kampung saya di Sukabumi masih banyak kegiatan salat Ied berlangsung di lapang terbuka, tidak di dalam masjid. Di sebuah lapangan bola, warga dari berbagai dusun berkumpul. Memenuhi lapang yang biasanya ramai saat ada liga antar kampung atau acara tujuh belas Agustusan.

Di deretan belakang, nyaris di tepi lapang, berderet penjual  mainan. Tentu saja ini menarik perhatian bocah-bocah. Apalagi tukang balon gas. Ini salah satu dagangan paling laris sejak saya kecil. Menariknya, sebelum salat Ied dimulai pasti akan ada suara tangis dari anak yang balonnya lepas, terbang. Kian lama kian bertambah. Dari satu tangis anak akan merembet ke dua, tiga tangis lainnya. Susul menyusul seperti balon-balon gas yang mulai meramaikan langit.

Hal itu terjadi sampai sekitar 3 tahun lalu. Dua tahun belakangan saya melihat ada yang berbeda. Balon-balon gas sudah berganti rupa jadi balon-balon plastik beraneka bentuk. Ada tokoh kartun atau hewan lucu yang lebih menarik perhatian lagi. balon-balon lucu ini masih bisa terbang lepas juga ke angkasa. Tapi saya sudah tak mendengar lagi ada jeritan atau tangis anak yang sedih dan kecewa. Mungkin saat balonnya lepas, kini anak-anak segera dirayu atau dijanjikan membeli yang baru.

Berubahnya wujud balon-balon ini turut beriring dengan kebiasaan orang-orang dilapangan selepas salat Ied. Dulu sedari kecil, suasana lepas salat Ied adalah suasana penuh gemuruh. Orang takburu-buru melepas mukena, melipat sajadah, lalu beranjak pulang ke rumah. Selepas khutbah—yang merupakan bagian dari rangkaian salat—selepas merapikan perlengkapan salat, orang tak buru-buru pergi meninggalkan lapangan. Mereka mencari anggota keluarga sambil bersalaman dengan siapa saja yang bisa mereka temui:tetangga, saudara jauh, kawan lama, sampai orang-orang yang mungkin baru ditemui saat itu.

Kini, suasana seperti demikian jarang. Yang saya perhatikan terutama dua tahun terakhir, orang semakin buru-buru pergi. Bahkan ada yang meninggalkan lapangan tak lama begitu salam terakhir salat diucapkan. Ada yang bergegas karena mulutnya tak sabar ingin menghisap asap rokok, ada yang bergegas karena menggendong bayi, ada yang bergegas pergi berziarah, juga bergegas karena urusan-urusan lain yang tak saya ketahui. Bersalaman masih ada, tapi semuanya serba lalu. Bersalaman dan bermaafan tampak tak lagi begitu sakral.

Ramadan berlalu serupa lepasnya balon dari genggaman sang anak yang tak begitu kuat mencengkeram. Terasa tak terasa. Antara manusia dan Ramadan siapa yang sebenarnya begitu tergesa? Seperti tulisan ini saja. Tergesa tapi saya bingung harus lanjut menulis apa :p

Menanak Nasi

Satu hal yang kerap saya heran dan belum sukses dilakukan saat memasak di gunung adalah menanak nasi. Nasi kerap terasa sedikit aron, masih ada bagian yang belum tanak. Atau sebaliknya, sangat matang, kelembekan karena kelebihan air. Dari beberapa pengalaman itu saya belajar juga untuk menyesuaikan proses menanak sesuai wadah yang digunakan. Ternyata hasil nasi yang ditanak di atas nesting ala TNI akan berbeda dengan nesting berbahan lebih tipis saat di dalamnya dituangkan beras dan air dalam komposisi yang sama. Demikian halnya dengan api, pengadukan, dan buka tutup nesting saat memasak–unsur-unsur yang berpengaruh lumayan besar mewujudkan nasi yang tanak sempurna.

Jadi ingat juga soal hal-hal yang dilakukan sepanjang umur dan dirasa masih saja belum purna. Diteliti lagi celah salahnya, celah kurangnya. kan katanya apa yang membedakan hasil adalah proses. Penyesuaian proses pun rupanya akan lain. Saat menyandingkan proses saya dengan yang lain dalam upaya mencapai tujuan sejenis, hasil kami bisa beda meski rasanya proses serupa. Tapi jika manusia berfokus pada sempurna, proses semacam apapun rasanya juga tak akan ada habis. Tuju yang diharap atau apa yang sementara didapat pun sulit buat dianggap berkat.

Duh kenapa saat memikirkan soal menanak nasi bisa-bisanya melipir seperti ini.


Sent from Fast notepad

Nama

Memberi nama katanya wujud ibadah dan hadiah orang tua bagi anaknya. Maka ketika saya mengingat makna di balik nama ini rasanya doa terbaik mereka, ibu dan bapak senantiasa mengiring langkah hidup selama dua puluh delapan tahun.

Amal ibadah soleh hanya kepada Allah. Semoga hidup anak ini ada dalam ridho Allah. Demikian kurang lebih. Sebuah nama dan doa yang diselip beriring lurus sesuai keberadaan hamba yang dititip hadir di dunia menjalani tujuannya sendiri. Hidup untuk beramal dan mengamalkan banyak hal. Tanpa saya tahu berlaku hingga kapan.