Adik kecil itu kebingungan. Ditariknya ujung baju orang dewasa di sampingnya. Lalu ia bertanya. “Aku melihat banyak orang di sekelilingmu, yang mana kawanmu?” Tanyanya demikian polos. Orang dewasa itu merasa tak bisa menjawabnya dengan mudah.

“Yang selalu meninggalkan jejaknya di setiap apa yang kau unggah, Namun tanpa kata?”

“Yang selalu mampir meninggalkan komentar dan berbasa-basi soal rindu namun saat temu absen jua?”

“Yang tiba-tiba menghubungimu saat ada perlu lalu menghilang lagi?”

“Yang tak sepakat dengan sikap atau tindakanmu tapi lebih memilih diam? Alih-alih bertanya. Alih-alih mengingatkan.”

“Yang selalu memantau tapi pura-pura tak tahu? Tapi membaginya dengan yang lain?”

“Yang cerewet. Menghubungimu selalu. Bercerita macam-macam tanpa ragu?”

“Kategori macam apa yang kamu buat adik kecil? Semestinya tak perlu banyak pengelompokan seperti itu. Mudahnya, hatimu sendiri yang bisa menakar semua. Memilihnya, menetapkannya. Cari juga yang memang menghadirkan dirinya saat bersama. Sisanya, biarkan saja. Hatimu akan condong sendiri.

“Tak perlu sebanyak itu, Kak?”

“Tak selalu. Kadang itu tak perlu.”

“Lalu aku harus bagaimana?”

“Bermain saja, Dik. Bermain.”

Advertenties

Kisah dari Bulan Ke Lima, 20 Tahun Lalu

Mei dan sejarah Indonesia punya hubungan erat. Kadang tanpa menyebut tahun, frasa ‘peristiwa Mei’ seakan sudah bisa menjurus arahnya sendiri: demonstrasi besar, kerusuhan, penjarahan, pendudukan MPR/DPR, turunnya Soeharto, Tragedi Semanggi. Semua tak terjadi satu waktu. Namun beberapa hal terjadi beriringan. Dalam satu garis peristiwa.

Mahal Biar Awet

Lahir di keluarga dengan kondisi perekonomian yang enggak berlebihan mengajarkan saya sama banyak hal. Terutama enggak menuntut macam-macam. Enggak semua hal bisa dibeli saat keinginan itu muncul. Kamu harus sabar dan kamu harus mulai belajar mengatur keuangan sama menabung.

Pagi ini entah kenapa saya kepikiran soal beberapa cara orang tua membesarkan saya dan kakak–minus adik karena rentang umur kami lumayan jauh.

Saya mengingat keras sewaktu kecil dibelikan mainan apa saja? Enggak banyak yang diingat kecuali telepon plastik karena ada fotonya, lalu boneka–yang enggak begitu yakin ini dibeliin atau dikasih sama saudara. Saya lebih mengingat baju, sepatu yang bapak ibu belikan jelang tahun ajaran baru sekolah atau jelang lebaran.

Model baju dan sepatu yang dibelikan orang tua saya bisa dibilang enggak mengikuti tren. Bisa dibilang kadang modelnya agak kuno atau ya beda dari yang lain lah. Malah pas SMA saya ingat betul kalau sepatu hitam berbahan kulit yang saya pakai dikatain temen sebagai sepatu lele. Alasannya karena bagian depan sepatu seperti kepala lele. Sempet minder, tapi pas curhat sama bapak terus bapak jelaskan soal bahan, jahitan, merk, dan harga, saya jadi lebih percaya diri. “Hey, barang yang gue pakai ini bukan barang murahan!” Tapi jelas ini buat disimpan dalam hati aja. Hari-hari berikutnya saya santai dengan sepatu saya. Malah sumpah nyaman banget sampai saya sempat cari lagi sepatu serupa saat mau kuliah. Tapi ya namanya model lama udah enggak ada lagi. 

Bisa dibilang bapak membiasakan membeli barang berdasarkan kualitas, ya main merk, dan tentu ada harga. Tapi itu semua atas satu alasan ‘kami enggak punya pabrik uang’. Saya ingat beberapa waktu lalu saat seorang staf pemerintahan dipuji atas sepatunya yang katanya mahal. Respons dia terhadap yang muji gini “kan kalau orang yang enggak selalu punya uang biasanya beli yang mahal sekalian, Pak. Biar awet.” Lain waktu dan lebih lama lagi, saya juga ingat kalau Ahok pernah mencetus hal senada. Dia pernah cerita kalau enggak salah ayahnya juga mendidiknya untuk membeli barang yang lebih mahal agar lebih awet dan tahan lama.

Ternyata hal-hal seperti itu sudah jadi prinsip orang berekonomi pas-pasan ya hahaha… prinsip yang lantas saya pegang juga. Seenggaknya itu berlaku buat sepatu, jaket, hp, jam tangan, dan tas. Beberapa benda itu menurut saya mendasar buat mendukung aktivitas sehari-hari. Kalau baju berhubung saya suka bikin sendiri jadi enggak masuk hitungan karena masih suka cari bahan yang bagus tapi murah dan jasa jahit yang cocok sama kantong.

Saya tumbuh tanpa barang mewah. Perhiasan juga dulu paling banter dinikmati saat SD seperti kalung, anting, dan cincin. Tapi sayanya yang enggak betah sampai akhirnya dilepas dan dijual sama Ibu. Saya menikmati masa-masa saat kecil tanpa dipenuhi banyak barang keinginan. Diajak ke Gramedia atau Gunung Agung udah bahagia banget meski jatah buku yang bisa dibeli juga dibatasi. 

Saya lebih senang main dengan imajinasi lewat buku atau main boneka kertas. Atau gambar-gambar random di buku catatan sekolah. Main kelereng, layangan, dan permainan anak-anak zaman dulu yang cuma bermodal punya tenaga buat lari kencang atau bisa memetakan ruang buat cari persembunyian dan mengatur strategi misal? Itu jauh lebih seru buat saya. Baru lah saat SMA saya mulai keranjingan main games komputer. Lagi-lagi gamesnya ya yang berhubungan sama strategi atau gerak fisik yang menempatkan seolah-olah kamu agen rahasia dan lainnya. 

Balik lagi soal kepemilikan barang, di rumah rasanya enggak ada barang mewah. Kulkas saja usianya udah lebih tua dari adik saya. Elektronik lain yang sudah beberapa kali alami pergantian mungkin televisi. Dari dulu kami tidak pernah punya pemutar CD, VCD, DVD. Cukup dengan radio tape buat memutar kaset-kaset koleksi Bapak, saya, dan teteh. Saya kalau mau nonton biasanya numpang sama saudara. Tinggal bawa kaset dari tempat penyewaan. Keranjingan nonton saat sudah punya komputer dan laptop serta dapat akses buat mendapatkan film-film menarik.

Bercermin dari bagaimana orang tua zaman now dan anak-anak zaman now tumbuh, begitu menyadarkan bahwa waktu benar-benar sudah sangat bergerak cepat dan zaman sudah banyak berubah. Saya enggak yakin sih apakah nanti kalau punya anak bisa dibesarkan dengan cara seperti apa saya besar dan akhirnya bisa bertahan hidup. Hanya saya yakin, nilai adalah hal utama yang patut diajarkan dan ditanamkan. Seperti apapun zamannya berkembang. 

Punya prinsip beli barang berkualitas buat menjaga kestabilan ekonomi dan enggak banyak nyampah di bumi enggak salah juga kan? Patut lebih diingat sih saat merasa banyak hal dalam hidup ini rasanya kurang, di luar sana lebih banyak lagi orang yang hidupnya benar-benar kekurangan. Belum terpikir buat memakai uang guna membeli barang yang bagus agar bisa tahan lama, buat makan aja susah. Kunci segalanya tentu bersyukur kan? Dan semoga Allah melimpahkan banyak rahmat bagi mereka yang bersabar atas ujian hidup yang beragam. Jadi biasanya yang bikin saya gemas adalah ketemu orang yang mengeluhkan kalau enggak punya baju dan sepatu buat pergi ke satu acara padahal di lemari bajunya numpuk, sepatunya berderet. Alasannya semua sudah dipakai, hello… di lemari baju saya rata-rata adalah baju dari zaman kuliah. Kondangan dengan baju yang sama, apa yang jadi masalah? Tapi balik lagi, masalah saya sama orang memang beda. Kadang saya enggak bisa nyalahin mereka juga. Kami tumbuh di lingkungan dan latar berbeda. Bahas soal ini saya ingat kisah lain tentang almarhumah istri kawan dekat Bapak saya yang sangat low profile. Ya mungkin nanti saya mau nulis soal cerita beliau yang sempat dikisahkan Ibu pada satu waktu. Selamat berakhir pekan.

Wajahnya sembap. Baru beberapa menit lalu tangisnya reda. Sejak bertemu 2 jam lalu air mata terus membanjiri wajah lancipnya. Matanya yang tak begitu lebar makin menyipit, pipi, hidungnya basah, memerah. “Menangislah,” ucapan pertamaku padanya.

Dan aliran itu pun tak butuh banyak komando lagi. Ia menangis hingga sesak mereda. Ia menangis hingga menyadari nafasnya kian tersengal. 

Menguji Kadar Pertemanan

Seorang kawan membuat sebuah postingan menarik tadi pagi. Soal permainan untuk mengetahui seberapa banyak hal tentang dia yang kita ketahui selama mengenalnya. Ada 10 pertanyaan yang diajukan. Saat saya mencoba, saya berhasil menjawab 9 dari 10. Meski sebetulnya saya bisa menjawab semuanya. Kesalahan yang saya lakukan karena jari terpeleset saat hendak memilih satu jawaban (yang sudah pasti benar) ke pilihan di atasnya. 

Usai menjawab, saya laporan langsung kepada si mpu soal. Tak lama saya coba buat pertanyaan serupa. 10 pertanyaan ringan, soal apa yang saya suka. Teman saya tersebut balik coba jawab, lalu katanya dia cuma mampu menjawab 4 pertanyaan dengan jawaban yang benar.

Lantas apakah kawan saya ini tak begitu mengenal saya? Sebaliknya, saya mengenal baik dia? Hanya lewat 10 pertanyaan saja? Dari nyaris 12 tahun perkenalan kami? Tentu tidak.

Tapi lucu juga, di satu sisi pertanyaan yang saya susun saya kira sangat umum dan siapa pun tanpa harus dekat dulu dengan saya bisa mengira dengan asal. Setidaknya kalau mengetahui saya seorang introvert, tak begitu suka keramaian, senang menyendiri, suka kabur-kaburan, kerap tak terdeteksi, yaaa… dan hidup yang nyaris minim drama apalagi melodrama. Datar benar.

Tapi dari ciri khas itulah saya coba menyimpulkan, “lo yang kayak gitu, makanya hal-hal remeh pun orang bisa luput.” Lalu bagaimana dengan hal besar? Misal? Mimpi lo, Cha? Keinginan terbesar lo, harapan lo? Yang lo suka, ketakutan lo, mungkin? Atau selama ini lo pernah suka sama siapa? Selama ini pernah deket sama siapa? Lo itu mau nikah apa enggak? Dll”

Setidaknya itu pertanyaan yang mungkin ada di benak beberapa orang, tanpa perlu saya sebut namanya. Tapi ada juga pertanyaan yang akhirnya terlontar dengan nada ‘agak takut salah nanya’

Sesungguhnya, pertanyaan-pertanyaan di atas buat saya bukan hal yang sangat pribadi dengan banyak tapi. Tapi?

Tapi saya simpan, tak merasa perlu diceritakan. Perlu atau tidak ditanyakan? Saya kira yang bertanya perlu berkaca, ada kepentingan apa dan punya kedekatan sejauh mana dengan saya :p

Dan pikiran soal ini nampak jadi menemukan sebuah titik simpang menarik saat semalam saya mampir ke Goethe. Menonton sebuah film Itali–jangan tanya kenapa enggak diputar di Pusat Kebudayaan Italia ya–berjudul The Perfect Strangers.

Ini cerita menarik. Sekelompok dewasa melakukan pertemuan, makan malam lalu melakukan sebuah permainan. Menaruh semua ponsel di meja makan. Agar bisa memiliki waktu berkualitas? Total lakukan komunikasi tanpa gadget? Lebih dari itu.

Kalau ada pesan atau telepon masuk harus dibaca dan diperdengarkan dengan lantang ke semua orang. Ini tantangan untuk mengetahui seberapa jauh masing-masing mereka yang katanya sudah kenal lama satu sama lain, bahkan ada yang sudah berteman sejak kecil itu cuek-cuek saja dengan segala pesan yang ada. Sudah seterbuka itukah mereka selama ini?

Sepanjang film penonton dihadapkan pada pertanyaan mendasar: sejauh mana kita berani jujur dan sedalam apa kita menyimpan rahasia dari yang namanya teman dekat, bahkan pasangan hidup sendiri.

Kisahnya sederhana saja. Berlatar di sebuah rumah, balkon-dapur-meja makan. Dialog yang hadir pun obrolan-obrolan ringan. Kadang ada bobotnya, ada humornya. Dan tentu yang membuat menarik adalah saat satu persatu pesan muncul, telepon berdering. Lebih utama akhir ceritanya sih. Twist plotnya juara. Dan patut kita renungkan kalau kata Ebiet G. Ade.

Tak ada salahnya bercerita dan tak ada salahnya juga menutup beberapa hal hanya untuk diri kita. Kecuali kalau ingin membuatnya sebagai sebuah rahasia. Saya selalu terngiang pernyataan Orwell, jika kau ingin menjaga sebuah rahasia, kau juga harus menyembunyikannya dari dirimu sendiri. Yang berarti ya rahasia itu enggak ada. Atau kecuali, ini murni kuasa langit.

Parameter pertemanan itu benar-benar bisa komplek juga ya. Siapakah teman, kawan, sahabat kita sebenarnya? Berapa banyak idealnya jumlah mereka? Benarkah makin banyak makin baik? Atau sebaliknya? Syarat apa yang layak dipenuhi seseorang untuk bisa masuk dalam lingkaran terdekat di hidupmu? Cuma masing-masing orang yang punya jawabannya. Karena ini berkaitan dengan kebutuhan dan kenyamanan. Di tulisan sebelumnya saya sempat menyinggung juga sih soal ‘pertemanan’ dan di sana tersirat juga soal pertemanan macam apa yang nyaman bagi saya saat ini.

Ah terima kasih hari ini! Di bagian ini saya juga teringat saat Ustad Nouman Ali Khan menyampaikan kuliahnya tadi siang di Istiqlal. Teman yang kita pilih cerminan diri dan juga yang akan memberi pengaruh terhadap diri kita masing-masing. Sedekat apapun kita saat ini, di hari penilaian kelak kita kembali asing. Tapi semoga pertemanan yang terjalin dan terhubung selama ini jadi salah satu pemberat amal baik serta membuka jalan kebaikan agar setelah dinilai, sempat lupa, kita bisa kembali ingat dan dikumpulkan sama-sama di surganya Allah ya :’)
*judulnya diedit biar lebih ringkas 😀

Embara

Ayahku berselingkuh saat aku berusia tiga atau empat tahun. Waktu di mana tiga adikku masih berebut jatah susu pada ibuku. Aku tak mengerti apa yang terjadi kecuali setiap hari kutemukan ibu menangis diam-diam. Entah saat menyiapkan sarapan, seringnya malam hari. Saat ia merasa kami semua sudah terlelap. Dan tentunya tak ada ayah di rumah.

Aku kembali mendengar kabar ini saat sudah usia sekolah. Kabar ayahku main dengan wanita lain semacam jadi hal yang bisa diketahui siapa saja. Dan perlahan aku lihat Ibu sudah tak peduli lagi. Sejak aku sekolah dasar, Ibu selalu bilang, “kalau kamu sudah dewasa hati-hati memilih pasangan. Jangan sampai bertemu seperti ayah. Ibu doakan kamu dijauhkan dari lelaki semacam itu,” lagi-lagi perkataan orang dewasa semacam itu baru bisa kupahami lagi di kemudian hari.

Tapi apakah kamu tahu pengaruhnya? Hingga kini aku sama sekali tak tertarik menjalin hubungan dengan lelaki. Aku bahkan kerap menghindar begitu ada yang mendekat. Padahal aku tahu bukan itu maksud ibuku padaku dulu. Tapi, apa yang dilakukan ayah dan kulihat sendiri membuatku benci padanya juga manusia sejenis ia.

Pernah kuutarakan maksud pada ibu untuk tak menikah. Ibu hanya menatapku lama lalu menangis. Ia lantas mengguncang bahuku. Ia sempat nyaris menamparku, tapi urung. Ia menangis, meraung. Perkataannya beradu dengan tangisan, raungan. Membuat adik bungsuku yang kebetulan ada di rumah ikut nimbrung ke kamar saat itu.

Malamnya, ibu mengumpulkan kami semua. Aku si sulung yang saat itu masih SMA kelas 2, adikku setahun di bawahku, dua adik lainnya masih di bangku SMP. Entahlah, mungkin pernyataanku jadi pemicunya. Malam itu menceritakan detail bagaimana ia mulai mengetahui ayah berselingkuh. Pertama kali diketahui ayah sempat minta maaf dan mengaku khilaf. Adegan meminta maaf sampai aju sumpah ia lakukan di hadapan Ibu yang saat itu sedang menete si bungsu. 

Usia pernikahan baru 7 tahun ujiannya sudah segila itu tutur Ibu. Tak lama, ayah ketahuan lagi. Ada saja cara Tuhan memberi tahu Ibu, demikian kata Ibu. “Selincah-lincahnya lelaki, ia selalu kalah dari insting perempuan,” kata Ibu menerawang. Cerita panjang Ibu dan segala sakit yang ia rasakan selama ini tertuang lengkap. Ditutup sebuah pesan “Ibu bisa saja memilih tak menikah saat itu. Toh ini pernikahan yang diatur, bisa dibilang dipaksakan. Karena pernikahan ini impian Ibu banyak yang harus pupus. Ibu tak melanjutkan sekolah, Ibu mengubur mimpi bisa kuliah, Ibu memenuhi keinginan orang tua. Menikah lelaki yang mereka tentukan. Ibu lahirkan kalian, dan diperlakukan seolah hanya sebuah pabrik anak. Ibu tak mau kalian seperti Ibu, tapi bukan berarti kalian trauma dengan kisah Ibu dan memilih untuk tak menjalani peran sebagai seorang Ibu, seorang istri.”

Ibu mengatakan lelaki brengsek seperti ayah kami mungkin masih ada dan banyak saja di muka bumi ini. Tapi untuk menghapus keberadaan mereka di muka bumi maka harus ada juga Ibu-ibu yang melahirkan lelaki baik, lelaki bertanggung jawab, lelaki yang tak hanya digerakkan nafsu, lelaki yang selalu merasa lebih tinggi dan superior. “Harus ada juga perempuan yang bisa membuktikan kalau lelaki semacam ayahmu itu pada akhirnya tak berguna dan tak akan jadi pilihan para perempuan.”

Ya, hanya perempuan dengan asam garam kehidupan yang bisa membuahkan pikiran seperti ini. Ia menyimpan dendam tapi bukan dibalut amarah tak wajar. Kemarahan, dendam Ibu kupahami sepenuhnya. Ia menyimpan itu dan membalutnya dengan sebuah mimpi besar yang ia titipkan pada kami, empat putrinya. Ah ya, ayah pernah menyalahkan Ibu juga yang dianggap mandul untuk bisa melahirkan anak laki-laki. Ayah tak pernah mau lagi bermain dengan kami semenjak kelahiran si bungsu, semenjak perselingkuhannya diketahui Ibu.

Ayah dan Ibu masih terikat pernikahan sampai aku kelas 1 SMP. setelah itu Ibu meminta cerai. Bukan karena tak sanggup lagi menghadapi suami semacam itu. Segala kebusukan ayah perlahan nampak sejak dua-tiga tahun pernikahan. Perselingkuhan dan main wanita semacam jadi lonceng keras bagi Ibu untuk mulai waspadai pernikahannya dan rumah tangganya. Ibu anak yang penurut kepada orang tuanya. Tapi ia juga pribadi yang keras. Perlahan apa yang ia hadapi di fase berumah tangga yang sudah tak ada campur tangan orang tua dan mertua, jadi hal yang ia anggap harus bisa ia kendalikan. Semakin lama Ibu sadar, ayah yang bejad ini tak bisa berlama-lama ada di lingkungan 4 anak perempuannya. Dengan segala keterbatasan perceraian ia ajukan. Dan dasar lelaki hidung belang dan tak mau menanggung beban, ia tak keberatan bahkan terang-terangan mempersilakan Ibu bawa kami semua.

Lewat cerita ini apakah ada yang bersimpati terhadap keberadaan lelaki macam itu?

Kisah hidupku ini juga ternyata masih belum seberapa dibanding kisah lain yang kudengar saat aku beranjak dewasa. Tapi tetap, Ibu adalah wanita paling tangguh dan luar biasa bagiku. Tapi pesan dia untuk menikah, itu benar-benar masih perlu aku pertimbangkan lagi, lebih dalam. Meski berkali-kali Ibu bilang, “mungkin ini cuma Ibu yang tak beruntung. Tapi Ibu tak akan biarkan ini jadi turun menurun.”