Dès Vu

Kamis lalu W, seorang kawan mengirim pesan, intinya mengajak kami bertemu untuk makan siang bersama atau botram, istilah akrab di lingkungan kami sejak kecil. Hanya bertiga. Plus anak-anak mereka. Hal ini pernah kami lakukan dua tahun lalu, di rumah D. Ajakan bertemu lagi kali ini diinisiasi D untuk dilakukan di rumah W. Biasanya, tanpa perlu banyak berpikir, saya pasti akan datang, memenuhi ajakan untuk bertemu. Sejauh apapun, selarut apapun. Tapi kondisi beberapa bulan belakangan ini membuat saya memberi jeda untuk berpikir. Apakah saya aman untuk pergi? Bertemu kawan-kawan sejak remaja ini? Apalagi nanti akan ada keponakan-keponakan saya juga di sana. Belum lagi, sejak tahun lalu, akhir pekan jadi waktu yang sering saya nikmati untuk sendirian setelah lima hari sisanya banyak dihabiskan bertemu bermacam orang.

Lagi, pikiran saya berpikir macam-macam. Tapi kangen banget sama mereka. Pertemuan langsung, obrolan ke sana ke mari itu hal yang saya nikmati untuk tahu seperti apa kehidupan kawan-kawan saya sampai saat ini. Ditambah lagi, saya bukan orang yang cukup rajin menghubungi orang satu persatu. Jika ingin mengetahui kabar atau mengobrol, saya lebih suka langsung minta mereka untuk bertemu barang sambil makan atau sekadar minum teh dan kopi. Kalau perlu sampai menginap.

Saya lalu membuka catatan. Telah pergi ke mana saja, bertemu siapa saja, seperti apa kondisinya selama saya berada di luar~saya mencatat hal-hal ini semenjak kembali menemui narasumber atau harus ke kantor. Setidaknya catatan semacam ini jadi perekam harian serta memetakan posisi saya di tengah kondisi pandemi saat ini.

Akhirnya saya putuskan buat datang. Setelah D menuliskan beberapa pesan. Setibanya saya di rumah W, saya langsung bersih-bersih lalu makan 😀 sembari menikmati suara anak-anak bermain di depan rumah. Sembari menikmati suara dua kawan saya bertukar cerita. Cerita saat ini, bagaimana bekerja di rumah sembari tak outus mengurus urusan rumah tangga, anak, lalu melompat pada cerita yang sudah lalu, kisah masa kecil, zaman kami sekolah, ada yang baru dan berulang. Tapi semuanya selalu bisa menghadirkan tawa. Hal seperti ini saja sudah menyenangkan hati. Dan lagi, saya senang melihat mereka semua dalam keadaan sehat.

Momen-momen ini berharga dan tentunya dirindukan banyak orang.

Pertemuan berakhir sore. D dan putri sulungnya pulang lebih dulu. Kali ini kami berpisah tanpa berbagi peluk. Hanya melambaikan tangan dan kata-kata singkat, ‘terima kasih, jaga kesehatan, dan hati-hati.’

Kita selalu tahu, ke mana hati akan terikat. Meski pertemuan senantiasa langka. Pelukan erat demikian jarang kita dapat. Kepada mereka yang kita sebut, rumah. Dan teman adalah salah satunya.

Panggilan Terakhir

Tengah malam, dan ponselnya bergetar. Dia menggapai-gapai ke arah terkuat sumber getaran di atas kasur dalam kondisi kmar gelap gulita. Dapat. “Halo… Ras, sudah tidur?”

Matanya yang masih terpejam perlahan terbuka. Suara yang ia kenal betul bertahun-tahun. Dalam hitungan detik, suara yang sempat begitu akrab lalu resap juga bertahun-tahun itu menariknya ke lemparan waktu lalu. Suara yang sering mengganggunya tanpa kenal suasana. Pernah suara itu tiba-tiba memberondongnya dengan banyak tanya. Dan dia menjawab pendek. “Saya sedang di rumah duka.” Pemilik suara itu hanya ber-oh saja. Lalu mengucapkan kalimat “Aku telpon lagi nanti ya.” Tanpa menunjukkan perhatian seperti: siapa yang meninggal? Bagaimana kondisinya, dan lain-lain. Tapi dia sudah paham benar siapa pemilik suara yang sering mengganggunya itu. Seseorang yang nampaknya tak peduli hal lain di luar dirinya sendiri. Padahal orang yang ditelponnya baru kehilangan satu-satunya orang yang ia percaya dan kasihi.

“Ras… kamu dengar?” Pelan, tapi Ia masih jelas mendengarnya.

Sayup suara hewan mengembik terdengar samar menepis sepi malam. Ini bulan-bulan menjelang Idul Adha. Tak jauh dari tempatnya tinggal ada pedagang khusus hewan kurban. Tak hanya suara, sesekali bau ternak-ternak itu ikut menelusup masuk lewat pori-pori di ruang kamar 4×3 meter yang ia tempati tiga tahun terakhir.

“Ras…”

Matanya sudah terbuka dengan tangan kanan memegang ponsel yang menempel di telinga. Ia menarik napas dalam dan menghembuskan ya pelan. Nyaris tak terdengar di seberang sana. “Ya…” Ia memutuskan menjawab suara di seberang.

“Apa kabar?”

Ia enggan berbasa-basi tengah malam begini. Apalagi beberapa hari ini kepalanya penat oleh beberapa pekerjaan dan hal-hal lain yang tak pernah bisa ia ceritakan pada siapa pun, bahkan kipas angin di kamarnya yang kadang agak bising. “Ada apa?”

“Hehehe… ketahuan ya, aku pasti menghubungi kamu kalau ada mau,” ia masih bisa terkekeh.

“Maaf ya, selama ini selalu merepotkanmu dengan macam-macam,” sambungnya lalu menggantungkan kalimat.

“Ras, kamu ingat kan aku sering bilang ingin pergi dari dunia ini. Aku lelah. Dan rasanya sekarang waktu yang tepat. Aku ingat banyak hal kamu sampaikan agar setidaknya ada yang bisa aku syukuri agar bisa menghargai hidup… aku bertahan sejauh ini, Ras.”

Sensor memori di kepalanya mulai menyala. Ingatannya mulai memainkan fragmen-fragmen lama. Kalimat-kalimat klise yang bukan sekali ini baru ia dengar dari mulutnya. Kalimat-kalimat “aku sudah bertahan sejauh ini.”

“Ras, aku ingin menyerah. Boleh kan?” Ia bertanya. Tapi Ia lebih tahu, pertanyaan itu tak meminta respons balik. Maka Ia tak beri jawab.

“Maaf tiba-tiba aku datang lagi ke kehidupan kamu. Setelah bertahun-tahun hilang. Aku bersyukur, kamu enggak pernah mengganti nomor ponselmu. Aku selalu mencatat nomor itu. Meski sempat ragu, tapi rasanya kamu memang tidak akan pernah mengganti nomor itu,” kalimat itu meluncur dan terdengar lemah di kupingnya.

Memangnya kamu… batinnya. Orang yang sering menghilangkan jejak. Mengganti nomor ponsel begitu saja. Mengganti identitas di media sosial sesukanya. Lalu tiba-tiba semua hilang tanpa bekas. Berganti musim, ia bisa hadir lagi seolah tak ada apa-apa. Menghubunginya lagi. Bercerita tentang dirinya lagi. Bercerita soal apa yang ia alami, siapa yang ia temui. Aktivitas baru yang ia geluti. Lain waktu, ia mengeluhkan semuanya. Dunia yang lagi-lagi nampak tak adil baginya. Orang-orang yang merundungnya. Orang-orang yang memanfaatkannya. Orang-orang yang tak mau mendengarnya. Kecuali satu, orang yang selalu bisa ia hubungi kapan saja, sesukanya. Tiba-tiba saja. Seperti malam ini.

“Ras… enggak apa-apa kalau kamu enggak mau bicara lagi sama aku. Seenggaknya aku bisa mendengar suaramu, tadi. Walau pendek, hhhh…” dengusnya pelan. Ia mendengar dengusan itu jelas. Tidak apa-apa yang sesungguhnya berarti apa-apa.

“Aku sudah meninggalkan semuanya, Ras. Semua yang selama ini kukejar, lalu perlahan kudapat. Ternyata tidak selalu bisa memuaskanku…”

Sayup suara mengembik terdengar dari seberang telpon. Ia kaget, suara itu persis terdengar berbarengan tak jauh dari kandang tetangganya. Ia menajamkan pendengaran. Terdengar berbarengan lagi. Kesadarannya makin penuh. Bahkan sedikit diwarnai kecurigaan. Ia mulai menyelidik dari mana dirinya dihubungi. “Kamu di mana?” Tanyanya.

“Enggak penting, Ras. Itu enggak penting lagi sekarang. Jangan mencoba cari aku. Aku cuma ingin ngobrol aja malam ini. Kangen.”

Suara di seberang itu perlahan seperti gema. Memantul terdengar seolah dekat dengan keberadaannya.

“Jangan merasa bersalah, ya. Selama ini kamu sudah mencoba membantuku dengan segala keterbatasanmu. Terus hadir, menemani, mendengarkan, menguatkan. Aku berhutang banyak sama kamu. Mungkin tanpa itu semua harusnya aku sudah lama pergi.”

Kalimat serupa, mungkin sudah ia dengar puluhan kali hingga saat ini. Ingin rasanya ia bertanya lebih. Kenapa lagi? Ada apa lagi? Tapi kini ia pun sudah lelah. Menghadapi banyak hal di hidupnya, lelah dengan deretan cerita, keluhan, luapan emosi yang ditampung bertahun-tahun tanpa punya muara menumpahkan semuanya.

“Aku enggak bermaksud menyalahkanmu, Ras. Kamu tetap penyelamatku selama ini. Aku bisa bertahan dan mencoba bangkit, aku bertahan lalu mencoba kembali berdiri menunjukkan yang terbaik dariku selama ini. Semuanya, berkat kamu.”

Ini kalimat baru yang ia dengar. Tapi tetap saja, ia belum pernah mendengar kata terima kasih. Bukan, bukan bermaksud pamrih atau apa. Tapi dua kata itu memang benar-benar belum pernah ia terima sebagai pernyataan tulus atas segala hal yang selama ini ia upayakan. Untuk kehadirannya, waktunya, pengorbanannya. Atas segala yang sudah ia relakan itu, dua kata itu bisa jadi melegakan. Tapi pemilik suara itu nampaknya masih cukup angkuh untuk sebatas mengucapkan dua kata yang hanya akan menghabiskan barang satu detik dari hidupnya.

“Ras, maaf kalau tengah malam ini nanti lama-lama aku ngelantur. Aku sudah memikirkan ini lama. Kapan dan bagaimana, itu sudah kuhitung. Termasuk bayangan kemungkinan akan sesakit apa. Makanya aku menghubungimu. Aku tidak ingin terlalu kesepian di akhir-akhir seperti ini. Aku ingin bercerita tanpa dihakimi. Dengarkan saja, jangan tanyai aku apa-apa lagi, ya?” Ia merasa pemilik suara itu cukup susah payah berbiara panjang. Permohonan itu juga sering didengarnya dulu-dulu. Tak ingin ditanyai macam-macam, hanya ingin didengar.

“Ras…” suara embikan terdengar.

“Kamu ada di dekat sini?” Tanyanya menyelidik.

“Aku sudah minta jangan bertanya apapun… tolong, penuhi keinginanku. Ini yang terakhir Ras aku akan mengganggumu. Janji. Aku janji…” Ia nampak kesulitan mengatur napasnya. Ingin menyelidik lebih dalam, namun ia sudah bosan lagi lelah malam itu. Ia berusaha meyakinkan diri, pemilik suara di seberang sana sedang dalam fase seperti dulu lagi. Jatuh, terpuruk, menyesali banyak hal sebanyak menyalahkan dirinya sendiri. Sebanyak membenci segala yang ada.

“Ras… badanku menggigil… dingin, Ras…aku takut…” Rasanya ia sedang benar-benar tak baik. Tapi entah mengapa Ia juga merasa hal serupa. Dadanya berdegup kencang, tubuhnya menggigil hebat. Entah ia masih benar-benar bisa berpikir atau tidak, rasanya berada di tubuh ya sama. Perlahan matanya panas, berair. Pandangannya kabur, gelap. Lebih gelap dari kamarnya malam ini. Ia tak bisa lagi menggerakkan tubuhnya untuk bangun, menyalakan lampu, mengambil minum untuk meredakan degup jantungnya yak makin tak karuan.

“Ras… ter…im….”

Ia sudah tak bisa mendengar apa-apa lagi. Entah kalimat apa yang akan diucapkan suara dari seberang sana yang terdengar melemah dan makin terbata seolah makin hilang daya. Tangannya terlepas begitu saja dari ponsel yang masih menempel di telinga kanannya.

Tak ada suara telpon terputus. Tapi tak ada lagi suara yang terdengar. Sayup beberapa menit kemudian terdengar suara mengembik dari kejauhan. Dari luar jendela kamar kosnya, dari suara telpon di seberang sana.

***

“Aku enggak bisa membayangkan hidup seperti ini…” tutur seorang perempuan yang matanya tak lepas dari koran yang membentang nyaris menutupi seluruh kepalanya.

“Kenapa?” Tanya seorang pria yang duduk di hadapannya sembari menyeruput minuman.

Perlahan ia menurunkan koran tersebut. Melipatnya. “Seorang perempuan ditemukan meninggal di kamar kosannya setelah beberapa hari. Katanya bunuh diri. Minum bermacam-macam obat. Polisi menemukan ada dua ponsel di kamarnya. Setelah dicek, ia sempat menelpon seseorang. Panggilan terakhir yang dilakukannya, ia menelpon dirinya sendiri. Telpon penerima, otomatis merekam percakapan selama puluhan menit. Sisanya sepi… telpon mati sampai pulsanya habis.”

Keduanya lantas saling bertatapan. Entah kata apa yang bisa diucapkan setelah membaca, mendengar kisah semacam itu. Si perempuan, melipat lagi koran yang dibacanya menjadi lipatan lebih kecil. Perlahan ia merasa matanya makin panas dan basah.

Pluis, 9 Juni 2020

01:10

Suara Kecil

Dalam sebuah grup percakapan kecil, obrolan-obrolan ringan perlahan memperberat bobotnya seiring waktu. Hanya sebuah cerita masa lalu, tiba-tiba, satu persatu kisah menderas, layak musim penghujung tahun.

Manusia dewasa nampak harus benar-benar sudah rampung dengan dirinya. Apalagi sebelum ia membuka diri untuk berbagi hidup dengan manusia lainnya. Seseorang yang nampak tumbuh tanpa masalah, belum tentu mengalami proses peralihan usia yang mulus tahun demi tahun.

Beberapa cerita yang hadir membuktikannya. Ada seorang pria yang tiba-tiba saja menangis sesenggukan kala melihat anak kecil didekap hangat ibunya. Jiwa kecilnya meronta, mengingat betapa jauhnya jarak antara ia dengan dekap wanita yang meminjamkan rahim sebagai rumah pertamanya. Memori yang nyaris tak pernah membayanginya selama remaja.

Seorang wanita tiba-tiba saja mudah senewen begitu melihat rekan kerjanya mengeluh beban kerja yang tak seberapa. Padahal selama ini ia kerap menjadi pemberi semangat bagi para calon karyawan baru di kantornya. Apa pasal? Memori dianggap remeh dan terlalu banyak tuntutan sejak kecil perlahan membebaninya tanpa pernah ia kisahkan pada siapapun. Segitu saja menyerah, masa gitu aja enggak bisa, tidak ada makan siang sebelum PR selesai, lihat temanmu yang seperti itu saja bisa, masa nilaimu bisa kalah darinya? Dan lainnya. Ia tumbuh baik, menikmati pendidikan tinggi berkat prestasi yang dijaga, bekerja di tempat bergengsi, karier melesat, namun bom itu akhirnya bisa meledak juga.

Seorang wanita lain sesenggukan saat melihat sebuah adegan film Frozen. Perempuan dewasa bisa menangis melihat film animasi? Sesedih apa sih? Sesedih memorinya mengenang betapa buruk hubungan yang terjalin antara ia dengan saudara-saudarinya. Dan saat ia mencoba mengisahkan masa lalu, tangisnya tak kunjung usai. Ia mulai bisa bercerita, namun hatinya belum lega.

Salah satu cara terbaik untuk melepas emosi bawah sadar, memori-memori yang kadung terbenam namun tak tuntas adalah dengan bercerita. Menggalinya perlahan untuk dikeluarkan, dilepas, lalu digenggam agar bisa dikendalikan, proses berdamai dengan silam yang seringnya luput kita dengar.

Fase Ketiga

Dua bulan lebih akhirnya saya menjalani #kerjadikosan atau jamak orang menyebut work from home. Dalam perjalanannya, banyak hal persoal saya alami. Banyak hal yang enggak saya duga juga. Mulanya, saya pikir saya akan bisa selalu tenang dan senang melalui hari demi hari seperti ini. Ternyata, tak semudah itu juga. Satu, dua pekan pertama saya masih merasa baik-baik saja. Segala hal saya lakukan selain melakukan kewajiban bekerja di luar akhir pekan. Sebulan berlalu, rasanya masih aman. Pola baru terbentuk. Tapi pola tidur saya perlahan kembali kacau. Saya tidak bisa lagi tidur sebelum pukul 00.00 WIB. Saya baru bisa tidur di atas pukul 01.00 bahkan 02.00 WIB. Meski masih aman bisa bangun subuh, usai itu saya agak susah kembali tidur. Dan biasanya baru mengantuk sekitar pukul 07.00 dan bisa tidur barang 30 menit atau satu jam.

Durasi tidur saya makin kacau dan pendek. Tapi kondisi itu membuat saya butuh istirahat menjelang sore hari. Setelah itu tubuh biasanya mulai kembali segar dan bisa lanjut bekerja. Saya jalani pola itu sampai akhirnya saya sering merasa sakit kepala dan mulai cepat lelah~padahal enggak ke mana-mana. Lalu, akhir April, usai menelpon narsum pada Rabu sore, tubuh saya demam tinggi. Menjelang magrib badan saya menggigil dan ngilu-ngilu. Gejalanya persis yang saya rasakan ketika typhus tahun lalu. Akhirnya saya menyerah, saya beristirahat begitu meminum pereda nyeri dan penurun panas.

Malamnya, demam masih tinggi sampai besok pagi. Siang menurun, tapi masuk sore meninggi lagi. Mana makin banyak keluhan muncul seperti mual, tidak bisa mencium sesuatu yang menusuk mau wewangian apalagi sebaliknya. Pusing berputar hebat. Dalam kondisi sendiri rasanya payah sekali. Mau ke dokter tak ada tenaga. Rasanya ingin bisa menghilang lalu tiba-tiba sudah ada di ruang perawatan. Singkat cerita, saya berobat dan menemukan tempat untuk benar-benar rehat selama tiga hari. Minim distraksi. Lega rasanya.

Setelah itu saya pulang lagi ke kosan. Mulai membenahi lagi apa yang terlewat selama berada di sini sampai saya bisa sakit. Padahal rasanya makan cukup terjaga. Ternyata enggak sih, meski yang masuk cukup terkontrol, saya makan semaunya. Seringnya dirapel pagi, siang ke sore. Atau ke malam. Lama-lama tubuh berontak juga, kan? Ditambah aktivitas fisik yang sebelumnya rutin dilakukan tiap pekan pun absen. Dan beberapa hari sebelum sakit, saya sempat membeli makan untuk berbuka di tempat yang memang agak enggak terjamin kebersihannya, wallahualam sih, tapi apapun bisa terjadi.

Ya, setelah itu saya kembali merefleksikan beberapa hal. Tapi rasanya jadi bisa cukup tenang untuk melanjutkan sisa Ramadan di tengah pandemi dengan kenyataan yang harus dihadapi: lebaran sendiri. Beberapa hal saya lakukan dari mulai kembali menonaktifkan akun medis sosial, membatasi komunikasi dengan sejumlah orang, membenahi waktu istirahat, utamanya mengembalikan pola tidur biar lebih baik. Saya juga mulai rutin berkomunikasi dengan kawan yang menurut saya tepat untuk bercerita dan dia memang hadir sih selama ini meski komunikasi kami sempat seadanya saja, tapi belakangan kami makin sering saling menghubungi dan mulai berdiskusi macam-macam.

Saya mulai memetakan agenda beberapa bulan ke depan, rencananya saya ingin mengambil cuti panjang agar bisa pulang sekalian isolasi di rumah. Bayangan ini cukup menyegarkan pikiran karena rasanya saya harus agak berjarak dulu dengan rutinitas pekerjaan.

Di pertengahan Mei saya bisa jauh lebih rileks akhirnya, memasuki akhir Ramadan, sampai akhirnya masuk bulan Juni kepala terasa lebih enteng dari macam-macam pikiran. Ah, ini kayaknya gara-gara di awal saya terlalu memandang enteng dampak WFH. Introvert sejenis saya yang begitu suka ruang sepi, betah berdiam lama di kamar, butuh adaptasi baru juga pada akhirnya. Tapi saya kembali pada titik sadar, ini suasana dan kondisi yang memang saya suka, tapi saya juga tetap butuh berkomunikasi dengan orang-orang yang tepat untuk berbagi beberapa hal. Serta, menghindari distraksi dari sumber-sumber negatif dan tentunya hal tak menyenangkan hati.

Kabar

Seseorang bercerita, pernah ada beberapa kali ia dihubungi untuk mengikuti sejumlah panggilan telepon beregu, atau pertemuan virtual melalui konferensi video. Dalam beberapa kesempatan itu, yang mengajaknya adalah orang yang nyaris sudah lama tak saling bertukar kabar, sekecil apapun.

Kutanya, lantas Lo menerima ajakan itu?

Tidak, jawabnya pendek. Ia merasa tidak ada kepentingan tersendiri untuk bergabung dalam pertemuan virtual itu. Pasalnya, tak ada di antara orang-orang yang akan hadir dalam pertemuan itu cukup berkomunikasi intens dengannya beberapa tahun terakhir. Termasuk yang mengajaknya. Ia pun heran, mengapa dirinya tiba-tiba dihubungi.

Mungkin, karena sudah lama tak ada kabar dari kamu. Makanya terpikir menghubungi. Apalagi ini masa pandemi. Bertemu langsung itu sulit. Memanfaatkan teknologi jadi diutamakan untuk menjaga silaturahim.

Dia tergelak. “Bullshit…” bisiknya pelan. Saya kaget, jarang mendengar ia mengumpat. “Kenapa sih?” terpancing juga rasa penasaran ini. Pasalnya dia jarang bercerita soal hal-hal semacam ini. Biasanya obrolan kami, ya gegayaan membahas isu-isu hangat dari sudut pandang masing-masing. Mungkin suasana WFH atau kerja dari rumah memberi kesempatan lain bagi kami untuk membicarakan hal-hal semacam ini.

“Gue dihubungi beberapa kali dalam kondisi berbeda-beda. Pertama, saat sedang berduka. Lalu saat sedang dirawat. Dan tidak ada sekali pun saat permintaan itu datang, kabar yang ditanyakan. Selalu langsung: “Hei, ayok video conference, ini linknya. Join ya. Kita kangen-kangenan, tukar kabar… ndasmu!” serunya, lha bahasa aslinya keluar. Lalu ia tertawa dan menenggak minumannya. “Pernah juga saat sedang bekerja. Bayangin gue dikontak pas baru nyalain laptop siap-siap mau meeting. Enggak paham juga seluwes apa jam kerja yang lain. Gue sih cuma pindah tempat aja. Sedangkan waktu dan load kerjaan ya sama kayak biasanya!” ia mulai mendengus saat itu.

Sejenak saya merasa, kok jadi teringat pengalaman lalu-lalu. Tapi setelah sempat menceritakannya saya pikir cukup. Lalu kembali ingat pada komitmen diri, fokus pada hal yang bisa saya kendalikan, termasuk mau kesal atau tak ambil pusing soal hal semacam itu.

Hal semacam ini sebetulnya jadi pelajaran juga, ketika mengalami hal serupa itu, dan merasa tak nyaman diperlakukan seperti itu, rasanya jangan sampai saya melakukan hal yang sama. Minim kontak tak apa, tapi masa sudah lama tak menghubungi, bertanya kabar saja luput. Inginnya kebutuhannya langsung dipenuhi saja 😀

“Lo, gimana? Ada pengalaman mirip?” tanya dia. Saya cuma tersenyum. “Lo juga tadi belum nanyain kabar gue loh…” jawab saya pendek. “Ini kan gue bisa liat lo langsung lewat video. Lo terima panggilan dan terlihat baik, udah memberi kabar kalau lo di sana baik-baik aja,” kelitnya lagi. “Hahaha… iya, gue baik-baik aja, kok. Berkat doa lo dan yang selalu mendoakan gue selama ini,” jawaban normatif sebetulnya hahaha.

Ya, kabar. Memang sesederhana dan sependek itu susunan hurufnya. Tapi dalam kondisi seperti ini, sadarkah kalau kata itu lebih sering kamu dengar? Pengalaman saya, demikian. Lewat telpon, panggilan video, komentar di media sosial, atau pesan-pesan pendek dari beberapa kawan kalimat “Apa kabar, lo?”, “Sehat, kan?”, dll itu lebih sering saya dengar dan juga saya lempar balik. Dan rasanya itu bukan hanya basa-basi.

Untuk mengetahui kabar seseorang memang tidak selalu harus dengan kalimat tanya serupa. Bentuknya bisa beda-beda. Sesuai kedekatan kita sama orang yang kita tanya sih. Karena memang, enggak ada kaidah bakunya juga. Cuma, menurut saya lugas menanyakan juga perlu, agar tujuan yang kita ingin juga tercapai. Misal dalam sebuah percakapan kita mulai dengan menanyakan perkembangan pekerjaan di kawan, lalu dia bercerita seperti apa dia di tempat kerjanya kini, bagaimana hubungannya dengan atasa, rekan kerja, dan lain-lain. Di satu sisi kita bisa dapat cerita bagaimana luwesnya ia di lingkungan pekerjaan, hubungannya dengan siapa saja di kantornya. Tapi hal itu belum tentu memberimu informasi lebih, misalnya tentang kondisinya yang lebih personal lagi. Sehatkah ia? lahir dan batinnya. Ada saja yang tidak akan bercerita kalau tidak ditanya, ya itu sih contohnya saya sendiri. Untungnya, di lingkaran saya, orang-orangnya rajin menanyakan kabar. Paling luput sedikit lah 😀

Ya, bertanya lah sesekali tanpa memaksa. Perlahan saya menjadikan pertanyaan ini salah satu bagian dari paket berkomunikasi, sesingkat apapun. Maaih ada beberapa pesan luput juga. Tapi ketika mendapat respons berikutnya, di situ saya memutuskan tanya kabar atau enggak 😀

Tanya saja kalau memang ingin tahu da memastikan. Agar, satu waktu nanti enggak kagetan saat mendengar sebuah kabar yang mengejutkan dan mungkin kamu sudah enggak punya banyak kesempatan lagi sekadar menyapa singkat atau mengetahui kabarnya. Saya enggak mau menyesali hal-hal semacam ini satu waktu nanti.

Boundary


Seberapa jelas kamu menciptakan batas antara dirimu dan orang lain? Antara urusanmu dan orang lain? Ya, orang lain: keluarga, kawan, bahkan orang asing. Menciptakan batas itu perlu sedemikian nyata. Untuk menghargai diri sendiri dan juga yang lain. Dan rasanya penciptaan batas yang cukup jelas, akan memberi ruang saling menghargai. Ketika ada pihak menerabas batas itu, bahayanya bukan orang yang kamu kenal dekat~pun sebaliknya, apa yang akan kamu lakukan? 

Sepekan kerja di Kosan Ngapain Aja?

Enggak banyak hal berbeda buatku pribadi saat kantor mengeluarkan protokol bekerja dari rumah. Kecuali ya akhirnya melakukan semua hal yang biasanya dilakukan di luar kosan seperti menghubungi narasumber, riset bahan, nulis berita. Hal ini cukup mengganggu di awal karena biasanya kosan adalah satu-satunya tempat yang tidak tersentuh hal-hal berbau pekerjaan. Ya di luar ada koordinasi sama atasan atau tim lewat WhatsApp, atau melakukan sedikit riset sambil menunggu jadwal wawancara. Selebihnya, segala hal tentang bekerja saya selesaikan sebelum sampai kosan. Ya pernah juga beberapa kali kecolongan selesaikan tulisan atau transkrip wawancara di kosan, tapi biasanya itu karena kondisi badan kurang fit atau terlalu larut kalau memaksa selesaikan semua pekerjaan di luar rumah.

Bahkan, beberapa teman saya pantau cukup mengalami perubahan gaya hidup lantaran bekerja dari rumah. Apakah saya juga? Rasanya enggak. Tapi ketika tadi pagi saya selonjoran, terus merhatiin kamar lebih teliti saya sadar, selama bekerja di rumah tingkat kepedulian saya meningkat buat membersihkan dan menjaga kamar tetap rapi. Saya menyapu kamar bisa sehari dua kali (biasanya sekali bahkan bisa 3 hari sekali :D). Terus saya juga bisa ngepel setiap hari. Padahal ini cuma ruangan 3 x 3,5 meter. Belum lagi ganti sprei, itu dilakukan dua kali sepekan. Jadi selama WFH ini saya sudah ganti sprei sekali.

Ini saya sudah pasang sprei yang baru diganti akhir pekan lalu, eh awal pekan lalu? Sudah pernah ganti sama yang motif kotak, kini ganti sprei cream lagi

Selain bebersih, intensitas cuci baju yang biasanya bisa tiga kali dalam sepekan, kini hanya dilakukan dua kali saja, saya baru nyuci sprei Jumat sama beberapa baju tadi pagi. Lantaran setiap hari saya cuma pakai daster, kaos dan celana basket. Dalam sepekan saya cuma pakai tiga set pakaian yang baru saya cuci tadi pagi sama satu set pakaian yang saya pakai pas reportase ke Thamrin Kamis lalu. Tapi saya mandi setiap hati, masih sehari dua kali juga.
Dan ya, saya jadi lebih rajin mandi! Jauh lebih pagi dari biasanya. Kemarin-kemarin saya mandi itu biasanya 1-2 jam sebelum liputan atau ke kantor. Sekarang, biasanya saya sudah mandi di bawah pukul 10 pagi.

Saya juga sempet kembali rapikan lemari pakaian. Memilah baju yang sudah enggak dipakai dan memisahkannya untuk dibawa pulang atau disumbangkan. Dan sisanya tinggal baju-baju yang selama ini saya pakai bekerja dan berkegiatan lain (biar kesannya punya aktivitas selain kerja gitu kan).

Lemari baju yang didominasi hitam, putih, abu, denim, sedikit cokelat. Yang biasanya agak berwarna itu kerudung. Kaos aja 90 persen hitam. Yang berwarna cuma kaos Liverpool

Menyusun dan melap debu-debu yang sudah nempel di buku-buku. 

Lalu beresin peralatan makan dan nyetok beberapa sayuran berhubung enggak bisa masak di kosan karena enggak ada dapur.

Terus sayurannya digimanain? Hampir setiap hari saya makan salad. Sarapan dengan muesli dan susu atau yoghurt. Agak siang saya bikin salad (stau biasanya buat makan malam). Kurang lebih seperti ini. 

Lalu makan nasi kapan? Saya biasanya beli nasi dan lauk-pauk siang, itu untuk sekaligus makan dua kali (siang dan sore, atau siang dan malam. Tuker-tukeran sama salad, mengingat sayuran juga enggak bisa tahan lama karena saya enggak punya kulkas. Dengan pengalaman sepekan seperti ini dan melihat perkembangan Covid-19 yang masih akan berlangsung lama, saya kayaknya harus punya magic com buat masak atau rebus-rebus sayur. Biar enggak makan sayuran mentah terus. Oia saya lebih bisa mengukur kadar air minum yang saya konsumsi setiap harinya. Selain itu…

Durasi yoga tiap pagi lebih lama karena semua aktivitas berlangsung di ruangan yang sama. Nunggu narsum balas pesan bisa melipir ke matras buat ngeplank lah apa lah 😀

Kegiatan ini dilakukan karena saya enggak banyak melakukan aktivitas fisik seperti biasanya kan. Misal jalan kaki, bahkan sepekan kemarin belum melakukan lari yang biasanya dilakukan dua kali sepekan. Dan tentunya…

Skinkeraaaan! Hahaha

YA! Kalau biasanya maskeran seingetnya aja atau biasanya akhir pekan, kini dalam sepekan bisa tiga kali maskeran. Tetap rajin bersihin muka meski tak terpapar polusi dan rutin spray-spray dan tepuk-tepuk serum 😀 

Netflix and chill

Ya nonton juga tapi biasanya ini dilakukan malam menjelang tidur. Atau sorean  biasanya lagi-lagi sambil mantau bahan atau nunggu konfirmasi narasumber. Selingan sama baca buku.

Selain itu ada lagi yang sempat saya garap sambil WFH: Ngegambar dan lanjutin draft cerita. Saya nysris enggak pernah melakukan video call sama teman atau keluarga. Komunikasi sama Ibu masih sebatas chat WA karena kami memang enggak terbiasa telponan gitu hahaha. Rapat kantor dialihkan jadi video conference sebetulnya, tapi dari dua rapat yang sudah digelar saya belum pernah join. Oia, baru tadi malam kami sempat ada conference lagi untuk redaksi secara umum. Kami diskusi soal bagaimana prosedur liputan di tengah isu Covid-19 saat ini.

 Ya kurang lebih itu sih apa yang dilakukan sepekan terakhir. Bagaimana dengan pekan berikutnya sampai 2 April nanti? Mungkin saya rekap lagi, pekan berikutnya. Stay safe, stay healty yaaa!

Koran Minggu

Saya selalu suka dengan konten-konten koran Minggu beberapa media sejak dulu. Pasalnya isinya lebih banyak memuat cerpen lengkap dengan ilustrasinya, puisi, cerita gaya hidup, naskah-naskah feature yang bikin rileks setelah rentetan hari sebelumnya koran-koran berisi berbagai berita keras semacam politik, ekonomi, dan perkotaan.

Dulu, membeli dan membaca Koran Minggu Tempo jadi kewajiban saya.  Kalau koran hariannya biasanya saya baca nebeng di sekre BEM. Saat pernah terlintas ingin kerja jadi wartawan, yang saya bayangkan adalah menggarap berita perkotaan atau koran minggu ini. Dan alhamdulillah dua-duanya pernah saya coba. Seru memang.

Koran minggu Pikiran Rakyat, memberi momen penting buat saya. Media Jawa Barat ini jadi tempat pertama yang memuat cerpen saya pas jadi pengangguran 😀 seneng banget rasanya bisa melawan rasa tak yakin selama kuliah kalau kirim tulisan ke media. Padahal kalau dilakukan nekad pas kuliah, misal dimuat bakal dapat nilai A dari beberapa dosen. Pikiran ‘emang bakal dimuat?’ bikin saya enggak pernah mengirim naskah apapun saat itu. Barulah pas udah lulus, masih kekeuh enggak pengen kerja terikat perusahaan, iseng ngabisin beberapa jam nulis cerpen lalu random dikirim ke Pikiran Rakyat. Kenapa PR yang saya pilih? Karena nuansa Sunda yang saya pakai di dalam cerpen. Lokalitas yang menurut saya lebih cocok saya tes ombak ke media yang berkantor di dekat titik nol Bandung–meski ambil honornya di kantor yang lebih deket sama terminal Leuwi Panjang 😀
Enggak berharap waktu itu, makanya setelah kirim naskah ya saya nyaris lupa. Eh pekan depannya, sore-sore gitu temen saya sms. “Cie cerpennya dimuat di PR.” Lalu saya langsung online, cek di situsnya. Eh kudu langganan 😂 Sempet minta temen di Bandung fotoin dan beliin korannya. Tapi sampai sekarang belum jadi ketemu buat ambil koran itu hahaha… 

Pengalaman kecil yamg berharga. Tapi sampai sekarang saya masih jarang aja bikin cerpen buat dikirim lagi ke media. Terus kemaren, di grup kantor temen saya bagikan foto ini:

Aduh sedih rasanya. Ini patah hati kedua setelah Koran Minggu Tempo juga mundur dari peredaran dan berubah jadi Koran Tempo Akhir Pekan. Tapi ini memang hal yang perlahan bakal terjadi di dunia media cetak. Senjakala katanya. Namun, sekoga konten-konten pengisi jiwa semacam yang ada di koran-koran Minggu ini tak hilang saat media perlahan memasuki digitalisasi secara total. Dan hmmm… saya pengen banget lebih teratur nulis cerpen lalu nyoba lagi ngirim ke media. Liat nama saya di akhir kalimat cerita. Meski ya, sekarang berseliweran tapi di belakang kalimat berita.

%d bloggers liken dit: