​Kenapa Kita Enggak Boleh Norak?

Belakangan ini sejumlah penumpang Mass Rapid Transportation (MRT) Jakarta yang bersikap tak tertib menjadi viral di media sosial bahkan masuk di sejumlah pemberitaan.

Ngapain aja mereka? Ada yang bergelantungan, injak kursi, baris tak mengikuti garis batas, sampai menjadikan kawasan MRT plus di dalam MRT sebagai arena piknik sambil menikmati bekal yang dibawa dari rumah.

Selewat mendengar hal itu mungkin sebagian besar orang akan menilai hal itu norak atau katrok, kalau kata Tukul. Enggak sedikit sindiran atau kalimat-kalimat tak mengenakkan dilontarkan terkait hal ini. Enggak punya manner lah, enggak tahu aturan, kampungan banget, dll. Ih gitu…

Bicara soal orang susah diatur, saya inget banget pas kemarin naik ojek, pengemudinya nyeletuk “kan lebih gampang ngatur binatang ya Mbak, ketimbang manusia,” nang ning ning nang ning keung… saya cuma senyum lebar tanpa nunjukin gigi. Komentar pengemudi ojek itu terkait adanya pengaturan lokasi ojek online menjemput penumpang supaya enggak bentrok sama ojek pangkalan.

Ya selintas ini lain soal. Tapi soal manusia dan aturan itu jadi kunci utamanya. Sebelum bahas ke situ, saya juga mau cerita dulu soal pengalaman saya pertama kali naik MRT, di sebuah negeri~ciein jangan? Jangan ah. Jujur, pertama kali nyoba moda satu ini, saya ngerasa norak sendiri. Gumun, kata orang Jawa mah, meski wartawan dilarang gumunan, cuma kan waktu itu saya lagi setengah liburan, setengah liputan~ini tips salah satu atasan kalau ada tugas dinas ke luar negeri. Katanya biar enggak beban, dianggap aja lagi libutan atau lipuran (ini istilah saya plesetin sendiri). Kalau setengah gitu, ya setengah gumun saya pikir boleh lah hahaha

Nah jadi, pertama saya sempet kagum sama stasiunnya yang besar. Petunjuk jalurnya yang jelas, termasuk rute, dan juga bagaimana warga di sana cukup tertib untuk menggunakan jalur untuk diam, atau jalan mendahului. Tertib pakai jalur masuk dan keluar. Jadi meski padat, enggak ada istilah macet kayak di eskalator stasiun Tanah Abang, yang udah mah sempit, orangnya banyak terus di tangganya berdiri sesuka hati. Gemes? Iya.

Di dalam MRT-nya, cukup padat. Ini transportasi umum yang dipakai masyakarat selain bus. Saya juga enggak menemukan ada yang makan dan minum di dalamnya. Tuh, kan… yang dilakukan masyarakat di MRT kita norak ya kan? Eh, bentar dulu.

Tujuan saya nulis ini bukan mau norak-norakin siapa pun. Orang saya juga sama noraknya, meski cuma, deg-degan, takut salah, takut kelihatan baru pertama kali nyoba, dan sejuta perasaan yang dipendam dalam dada. Begitu pun pas pakai toilet umum yang pas selesai pakai kok flushnya otomatis enggak bunyi. Bikin semaput enggak tuh? Apalagi misal antreannya cukup rame. Coba segala cara kok enggak kesiram. Sampai akhirnya pasrah mau minta bantuan yang jaga, bilang flushnya error. Pas buka pintu, eh ada bunyi air deras… BEEN THERE DONE THAT! Itu jantung aing rasanya udah mau copot cuma karena pipis yang enggak bisa disiram. Yang dibayangin gimana kalau waktu itu aku pup? 🙈

Nah, pas baca tulisannya Mbak Kalis, saya amini soal ada yang norak tapi pemalu. Mungkin ya tipe saya ini. Orang kampung, tapi levelnya lebih dusun lagi. Jadi malunya udah ada di depan. Sampai-sampai ya dulu itu memang kalau mau ngapa-ngapain mikirnya yang kelamaan. Pas ada pengalaman nemu hal baru, pengalaman baru, mikirnya udah takut ngerusak, takut salah pakai, dan lain-lain.

Balik lagi gaes… apa yang nampak dan jadi pembahasan soal masyarakat ‘kampungan’ di MRT enggak bisa langsung dipukul rata gitu aja. Masyarakat yang majemuk ini beneran terbentuk dari banyak kultur berbeda. Ada yang udah dari lahir diajarkan soal tata tertib dan sederet aturan umum, sampai aturan makan di atas meja mungkin? Tapi kita harus ingat, ada juga yang enggak mengenal itu sama sekali. Tapi bukan berarti hal itu enggak bisa dilahirkan dan dibiasakan.

Misal pas kelas tata boga waktu SMP, guru saya memperlihatkan soal aturan table manner. Lalu pas kuliah sampai ada kelasnya yang diadakan salah satu UKM. Sampai akhirnya saya lihat dan belajar sendiri lewat berselancar sama nonton Youtube. Oke, saya dapat ilmu saya yang satu itu. Tapi begitu pulang ke rumah ya saya makan pakai tangan, enggak ada yang lebih nikmat lagi. Selama kuliah dan sekarang menu sarapan saya buah, bubur, susu atau oatmeal. Atau enggak sarapan sama sekali. Kalau di rumah, pagi-pagi ibu nyediain lontong sama gorengan ya saya makan.

Intinya soal, membuka diri dan menempatkan diri. Saya mencoba membuka diri mengetahui, menjelajahi ada hal apa saja di dunia ini. Ada yang baik untuk diterapkan. Ada yang baik tapi untuk diketahui dan dipikirkan lagi. Ada yang cukup tahu aja. Semua pengetahuan itu lalu perlahan diterapkan sesuai tempatnya.

Sekarang gini, bisa jadi perilaku yang kita hujat yang dilakukan beberapa orang di MRT itu karena mereka belum tahu. Jadi yang sudah tahu, beri tahu mereka. Ini juga jadi PR untuk pihak berwenang memberikan pemberitahuan yang lebih jelas lagi. Ah masa gitu aja enggak tahu…

Jangan salah, saya pernah negur ibu-ibu yang makan sambil nyuapin anaknya (yang sudah agak gede) di KRL. Perilakunya bikin beberapa penumpang bisik-bisik. Berhubung saya berdiri dekat si Ibu, saya bilang ada aturan jangan makan. Saya tunjukin tanda larangannya. Ibu itu bilang terima kasih dan minta maaf karena sebelumnya enggak tahu. Enggak semua orang ngeh sama simbol. Enggak semua orang otomatis paham sama tanda-tanda. Namanya di tempat umum, enggak ada salahnya saling ngingetin, kasih tahu, tapi caranya juga kudu baik. Biar enak gitu diterimanya. Enggak semuanorang setiap harinya naik KRL atau Transjakarta kayak minum obat. Apalagi misal kereta bandara atau MRT yang baru ini. Bagi beberapa pihak, main ke Jakarta dengan naik KRL buat ke Monas atau Kota Tua itu pengalaman berharga!

Selalu butuh proses kok. Dulu kan kita tahu sesumpek apa naik KRL. Sepadet apa isinya selain sama orang karena ada yang bisa bawa masuk barang dagangan, sampai hewan. Adanya aturan perlahan kan kita bisa menikmati bagaimana KRL lebih manusiawi. Jadi inget cerita lain juga soal dulu sebelum bioskop sebanyak sekarang, tempat nonton film satu itu juga dianggap sarana rekreasi sampai ada yang bawa timbel buat dimakan sambil nonton di dalam ruangan.

Tapi masa di era MRT harus kayak KRL dulu? Balik lagi dong? Enggak maju-maju dong? Nah itu bisa diantisipasi sama pemberitahuan yang lebih masif lagi mungkin. Adanya petugas yang ketat untuk mengatur: menjaga di garis-garis tunggu dan masuk, senantiasa mengulang aturan kalau bisa penumpang terdoktrin.

Orang yang mencoba transportasi baru ini kan bukan orang kota semuanya. Yang sudah lebih lama dan cukup akrab dengan berbagai jenis transportasi yang lebih maju. Bisa jadi, yang baru naik MRT ini sehari-harinya cuma mengenal angkot atau bus-bus tua yang sebelumnya juga kita akrabi sebelum ada Transjakarta yang perlahan mengganti.

Kita boleh bangga dengan diri yang taat aturan, tata tertib, patuh aturan main. Tapi harus ingat, kita semua enggak memulai semua itu di titik pemahaman dan penerimaan yang sama. Biar sama-sama enak, coba saja perlahan ambil peran jadi orang yang mau bantu, mau mengingatkan, tujuannya untuk kenyaman bersama di area publik. Yang sudah bisa dan terbiasa, dijaga aja agar jangan sampai tergoda buat serobot antrean, pakai fasilitas umum seenaknya, sampai merugikan orang. Yha kaaaan…

Oia, saya sepakat sama pandangannya Mbak Elisa Sutanudjaja, Direktur Rujak Center for Urban Studies soal aktivitas piknik di MRT. 

Advertenties

Jujur Atau Tidak

Ada seorang karyawan yang untuk pertama kalinya menjalani perjalanan bisnis ke luar negeri. Ia sudah menyusun rencana dan janji dengan pimpinan perusahaan yang akan menjalin kerja sama dengan tempatnya bekerja saat ini.

Sayangnya, jetlag membuat si karyawan kebablasan istirahat begitu tiba di negara tujuan. Ia bangun kesiangan lewat beberapa menit dari jam yang dijanjikan untuk melakukan pertemuan. Tentu dia panik. Ia segera menghubungi calon rekan bisnis perusahaannya itu. Meminta maaf karena kecerobohannya, alarm yang tak terdengar, bangun terlambat. Ia meminta maaf, menyatakan semua hal tanpa ditutupi atau mencoba cari alasan lain. Ia mencoba mengatur jadwal baru.

Apa yang terjadi?
Si karyawan ini malah disuruh tenang. Ia diyakinkan kalau apa yang dialaminya sesuatu yang wajar. Mengingat ia baru saja melewati perjalanan cukup panjang. Ia pun mendapat ucapan terima kasih atas kejujurannya. Dan malah sikapnya dianggap terlalu sopan, begitu jujur. Ia disuruh lanjutkan istirahat. Dan mulai kembali rancang pertemuan di waktu lain. Satu hal yang penting, ia dititipi pesan bahwa ada banyak hal dalam hidup ini yang lebih penting untuk diperhatikan, untuk dipikirkan, dan dikerjakan. Rileks, santai.

Si karyawan pun menyampaikan kesembronoannya kepada bosnya. Sikap bosnya tak beda jauh. Tak ada yang dimarahi atau dianggap tak bertanggung jawab. Semua bisa dibicarakan, bisa diatur ulang.

Lalu ada cerita dari karyawan lainnya. Dari perusahaan dan bidang yang berbeda.

Si karyawan ini merasa belakangan tak enak badan. Tapi semua masih bisa dikontrol sehingga ia masih bisa bekerja. Satu hari saat ia menyiapkan pekerjaan, ia ketiduran karena kondisi badan yang sedang tak begitu baik. Padahal ia harus mengikuti rapat dan mewakili tim melakukan sedikit persentasi kerja saat itu. Bukan rapat yang penting mengambil keputusan. Saat waktunya tiba, atasannya menghubunginya. Ia terbangun, namun telepon sudah terputus. Ia kaget segera mengecek ponsel untuk memastikan rapat. Persentasi sudah siap diambil alih. Akhirnya ia hubungi atasannya, meminta maaf atas kondisinya yang tiba-tiba tertidur karena kurang enak badan.

Apa yang terjadi?
Pesan cukup pedas tentu ia terima. Dianggap tak punya pola koordinasi yang baik, tak bertanggung jawab, dan semua itu diminta untuk diperbaiki dengan membawa unsur penilaian kinerja. Si karyawan menerima semua itu karena sadar ia salah.

Tidak selamanya kejujuran bisa berbuah manis. Dan tidak semua orang bisa memberi toleransi atas kejujuran. Dampak respons itu bisa memberi pengaruh yang cukup signifikan pada manusia.

Dan ya, satu terjadi di Eropa, satunya di Asia. 

Kalau sudah waktunya

Seseorang berkata dalam balutan candanya. Sudah saatnya ada yang menikmati segala masakanku, ada yang menemaniku melakukan segala hal kesenangan selama ini. Ya, aku tahu arahnya. Namun satu hal, segala yang kulaku selama ini tentu bukan untuk orang lain. Membiasakan diri memasak tak lain guna memenuhi kebutuhan dan menjaga alokasi keuangan agar bisa terkontrol-tak terbuang lantaran banyak membeli makan di luar ditambah kita tak tahu ada apa saja yang terkandung di dalamnya.

Kawan melakukan kesenangan? Ya, tentu saja itu akan menyenangkan. Meski aku kerap menarik diri dari banyak ruang bingar karena kesenangan yang paling senang kulakukan adalah berdiam di dalam kamar, membaca, menggambar, atau menulis. Kalau pun ada kawan yang mau menemani, kubersedia berbagi ruang. Tapi untuk beberapa hal, kutakbisa berbagi suara. Semoga kawan itu punya kesenangan sendiri yang bisa ia bawa lalu kami nikmati dalam ruang yang sama. Tapi, jauh sebelum itu tiba atau bahkan tidak sama sekali, aku sangat menikmati segala macam kesenangan yang kucipta untuk diriku sendiri. Barang berjalan kaki, menghitung langkah, melihat kendaraan, merentang tangan untuk merasakan udara, dan lainnya. Dan lagi, semua kulakukan, semua kujalani bukan untuk siapa-siapa selain diri sendiri.

Kalau nanti ada yang mau ikut jalan, ayok. Asal tahan 😀

Dan tulisan ini akan kulanjutkan kalau aku merasa ada yang bisa dituliskan lebih banyak lagi.

Namanya juga mimpi

Setiap kali bermimpi saya kerap bertanya kenapa misal ada orang itu yang hadir padahal inget aja enggak pernah, kepikiran aja enggak sama sekali. Padahal teorinya kalau kata Freud mimpi itu singkatnya represi dari alam sadar-alam bawah sadar. Entah isi ketakutan, keinginan, banyak hal yang bahkan terkait emosi-emosi yang tak disadari.

Belakangan ini saya jadi sering bermimpi lagi. Dan seringnya bermimpi tentang orang asing, orang yang dikenal tapi tak dekat, orang yang diketahui tapi belum pernah berkenalan sama sekali. Kata bantunya: strangers.

Tapi dalam mimpi-mimpi itu kami bisa berinteraksi. Mengobrol lebih lama dan panjang ketimbang di kehidupan nyata–bagi yang sempat ada momennya. Lebih dalam, atau hanya bercanda seenteng mungkin tapi memancing gelak cukup panjang.

Ketika bangun saya hanya bisa mengingat kembali lalu memikirkan ulang semuanya, betapa menyenangkannya. Tapi mengapa seolah hanya jadi ilusi?

Saya bahkan melihat betapa saya bisa sebahagia itu dalam mimpi sendiri bahkan dengan orang asing. Sungguh rasanya bukan saya di kehidupan nyata yang kerap merasa aneh berada di tengah suasana asing. Orang asing? Apalagi kecuali memang memiliki karakter yang asyik untuk jadi kawan bicara selewatan.

Kabar baiknya, saya tertolong bangun pagi dalam kondisi nyaman. Bahagia saja rasanya. Lebih enteng meski beberapa waktu kemudian kala harus segera cek ponsel, grup, email, kepala otomatis jadi penuh. Setidaknya saya dapat energi baru yang hadir lewat mimpi yang seru. Bukan lagi mimpi buruk.

Dan saya jadi merindukan hal tak pasti. Siapa orang asing itu? Bisakah benar-benar bertemu dan menjadi kawan senyatanya? Atau setidaknya untuk yang sudah dikenal tapi kami sama-sama belum saling mengetahui. Ah tapi saya ragu kesenangan dalam mimpi akan mudah terwujud sama bentuknya di kehidupan nyata. Baiklah, perlunya kita beri batas antara mimpi dan yang lebih nyata. Jika dalam mimpi saya bisa sebahagia itu dengan yang belum tentu ada, mengapa saat ini saya tidak bisa mewujudkannya bersama yang benar-benar ada? Kita perlu bahagia tapi tak usah berlebih. Namun saya tak keberatan senantiasa bermimpi seperti semalam, malam-malam sebelumnya di malam-malam berikutnya!

Mari Buat Kesepakatan!

Hitungan pergantian tahun mungkin memang sebuah kesepakatan. Sehingga menjadikannya sebagai momen khusus atau tidak, kembali pada pilihan. Menjadikannya spesial atau biasa saja. Seorang kawan bertanya, apa yang saya siapkan dalam tulisan sebagai refleksi akhir tahun? Refleks, saya menggeleng. Rasanya dari saya lahir tahun baru memang bukan momen yang senantiasa saya rayakan. Sebaliknya saya makin merasa terganggu dengan hadirnya kebisingan malam tahun baru. Petasan yang memekakkan telinga, kemacetan jalan raya, dan lainnya. Apalagi saat harus meliput agenda tahunan ini beberapa tahun lalu. Lelah sekali rasanya. Tapi, saat mencoba melihat dari sudut lain, hal semacam ini bisa jadi menyenangkan bagi orang lain. Membayar lelah dan kepenatan dari perjalanan panjang satu tahun dengan melihat langit berhias kembang api beraneka warna dan rupa, menjadi momen berkumpul dengan keluarga atau yang terdekat.

Malam tahun baru 2018, kebetulan saya libur bekerja. Sehari sebelumnya bersama kawan lama sejak kuliah kami merencanakan pertemuan kecil. Mulanya terpikir ada rencana membuka tenda, tapi urung terwujud–untung sudah terbiasa dengan mengangkat, menebar wacana dengan kawanan di grup ini. Berkumpul di sebuah kedai kopi pun akhirnya tak jadi soal. Kami membicarakan segala remeh-temeh. Mengulang beberapa cerita dengan tambahan kisah baru. Berbagi sedikit pengalaman juga sudut pandang. Sebentar tapi cukup menghangatkan sisa hari disertai hujan yang enggan reda.

Bicara soal teman, sebetulnya terhitung sejak dua tahun lalu konsep pertemanan saya cukup berubah. Tanpa saya sadari saya merombak semuanya. Kembali pada lingkaran-lingkaran kecil, terhubung dengan yang sempat terputus, perlahan meninggalkan yang nampaknya sulit disambung, tak perlu dipaksa, atau memang sudah selayaknya usai. Beberapa waktu lalu ada momen juga yang menguatkan hal satu ini.

Seperti tahun lalu, tahun 2018 saya mensyukuri kehadiran beberapa orang dalam lingkaran-lingkaran kecil ini. Yang senantiasa menyempatkan diri untuk hadir berbagi banyak hal. Yang bersedia bertahan karena saya bukan orang yang cukup luwes dalam menjalin relasi.

Saya juga berterima kasih kepada beberapa penulis buku yang karyanya saya baca selama setahun terakhir. Terutama buku yang mengenalkan konsep mengelola, memahami-menenangkan diri–mengingat betapa sulitnya karakter saya untuk bisa berkompromi dengan banyak hal, apalagi cukup bertolak belakang dengan prinsip. Masih ada beberapa buku yang belum tuntas, saya harus makin keras dan disiplin untuk rajin membaca ketimbang bermain jari dan mata di atas ponsel. Saya harus makin giat memberi asupan terbaik yang mendukung kejernihan dan ketenangan pikir, runut menata permasalahan, dan lugas menyampaikan sesuatu serta menuangkannya dalam tulisan yang enak dan perlu 😀

2017 menjadi momen yang sempat membuat saya merasa tertolak dalam banyak hal sampai-sampai ikut menilai betapa banyak ketaklayakan dalam diri sendiri. Di tahun 2018 saya mencoba kembali menata banyak hal, meski tetap ada gagalnya juga. Tapi saya merasa jadi jauh mengenal perempuan taurus ini. Saya semakin melihat banyak kelemahan juga peluang yang harusnya bisa dioptimalkan lagi.

2018 dipenuhi beberapa perjalanan baru. Saya mengunjungi banyak tempat yang hampir semuanya sempat terlontar di tahun 2017 dan dengan caranya sendiri Allah mengabulkan semuanya, tanpa terkecuali! Meski imbang dengan momen liputan. Jadi semakin gigih melontarkan banyak keinginan lagi 🙂

Tahun 2018 sebetulnya saya masih belum bisa lepas dari masalah tidur tepat waktu. Saya masih bermasalah untuk bisa mendapatkan kualitas istirahat yang optimal. Masih sering tidur larut, pulang malam, kurang olah raga. Tapi perlahan saya sudah bisa mengatur soal asupan makanan. Hasilnya, tahun 2018 saya sukses enggak ke rumah sakit. Eh pernah sebatas ke klinik sih, karena keluhan sakit kepala juga belum sepenuhnya teratasi. Tahun 2019 harus lebih rajin olah raga nih. Rajin cuci muka sama maskeran karena sering jerawatan lagi hahaha

Bagaimana pun, tahun 2018 adalah tahun yang menyenangkan. Saya tetap menutupnya dengan beberapa momen campur-aduk dan tunggakan beberapa bahan tulisan. Tapi jauh lebih membahagiakan ketimbang sebelumnya. Saya lebih punya banyak waktu mengobrol dengan diri sendiri, membuka ruang temu lebih banyak dengan beberapa kawan, berkontemplasi, tukar pikiran, tapi saya tetap berhutang untuk bisa banyak meluangkan waktu untuk pulang, membersamai ibu-bapak, apalagi tahun depan bapak mulai pensiun. Semoga di 2019 ini bisa terpenuhi. Selama bapak enggak lagi menanyakan kapan saya akan menikah, sungguh problematik hal yang satu ini.

Tahun 2019 saya ingin buat kesepakatan baru dengan diri saya. Kesepakatan yang menyenangkan dan juga tentunya senantiasa membawa diri ini jauh lebih baik dalam banyak hal. B banget ya? Gapapa lah Hahahaha. Ya inilah akhirnya tulisan pertama yang saya buat untuk tahun ini!

Kedalaman

Di mana kau akan menumpahkan segala cerita, sejuta puisi, dan segala tetek bengek yang kerap melompat, tengkurap di kepala? Kawan cerita? Aku kerap berpikir tak mau membebani kepala mereka juga atau sekadar meminta jatah kotak untuk bantu menampung tanpa ditumpahkan lagi. Cukup egois ya? Tapi yang dibagi memang bukan untuk terbagi lagi apalagi sampai tak diketahui. Maka kutumpah semua pada diri dan berjalan dengan segala kegontaian lantaran berat ini nisbi.