Kopi dan Teh

Saya memulai Agustus tahun ini dengan segelas teh. Itu pun kecelakaan. Awalnya saya ingin menyeduh kopi Aceh yang sudah lama tak dicicip. Sayang begitu menjerang air, gas mati, aie baru mendidih tapi belum bergejolak layaknya air panas yang saya butuhkan untuk mengoptimalkan aroma kopi keluar. Saya lupa belum beli gas.

Apa daya, donat sudah dipotong-potong untuk sarapan. Membuat cokelat hangat pun saya kehabisan susu kental manis dan susu UHT. Baiklah, masih ada ramuan teh. Kopi tak jadi masih ada teh. Saya tak perlu begitu kecewa, teh masih jadi minuman favorit saya.

Siangnya lepas liputan, kekecewaan kembali menyergap. Rasa yang tak bisa diganti dengan rasa lain. Tak semudah kopi yang bisa diganti teh begitu saja. Kecewa, kaget, dan lagi-lagi… agak buruk sebenarnya kejadian macam ini jadi pengawal pekan. Hanya hidup memang selalu penuh kejutan ya. Dikagetkan itu rasanya jadi bumbu di luar akan memberi rasa enak atau tidak, nyaman atau tidak. Demikianlah. Malam ini saya harus minum kopinatau cokelat hangat, rasanya itu akan baik untuk menutup hari ini : )


Sent from Fast notepad

Lebaran dan Balon-balon di Udara

Ada banyak hal yang kerap bisa saya lihat saat melakukan salat Ied di kampung halaman. Di kampung saya di Sukabumi masih banyak kegiatan salat Ied berlangsung di lapang terbuka, tidak di dalam masjid. Di sebuah lapangan bola, warga dari berbagai dusun berkumpul. Memenuhi lapang yang biasanya ramai saat ada liga antar kampung atau acara tujuh belas Agustusan.

Di deretan belakang, nyaris di tepi lapang, berderet penjual  mainan. Tentu saja ini menarik perhatian bocah-bocah. Apalagi tukang balon gas. Ini salah satu dagangan paling laris sejak saya kecil. Menariknya, sebelum salat Ied dimulai pasti akan ada suara tangis dari anak yang balonnya lepas, terbang. Kian lama kian bertambah. Dari satu tangis anak akan merembet ke dua, tiga tangis lainnya. Susul menyusul seperti balon-balon gas yang mulai meramaikan langit.

Hal itu terjadi sampai sekitar 3 tahun lalu. Dua tahun belakangan saya melihat ada yang berbeda. Balon-balon gas sudah berganti rupa jadi balon-balon plastik beraneka bentuk. Ada tokoh kartun atau hewan lucu yang lebih menarik perhatian lagi. balon-balon lucu ini masih bisa terbang lepas juga ke angkasa. Tapi saya sudah tak mendengar lagi ada jeritan atau tangis anak yang sedih dan kecewa. Mungkin saat balonnya lepas, kini anak-anak segera dirayu atau dijanjikan membeli yang baru.

Berubahnya wujud balon-balon ini turut beriring dengan kebiasaan orang-orang dilapangan selepas salat Ied. Dulu sedari kecil, suasana lepas salat Ied adalah suasana penuh gemuruh. Orang takburu-buru melepas mukena, melipat sajadah, lalu beranjak pulang ke rumah. Selepas khutbah—yang merupakan bagian dari rangkaian salat—selepas merapikan perlengkapan salat, orang tak buru-buru pergi meninggalkan lapangan. Mereka mencari anggota keluarga sambil bersalaman dengan siapa saja yang bisa mereka temui:tetangga, saudara jauh, kawan lama, sampai orang-orang yang mungkin baru ditemui saat itu.

Kini, suasana seperti demikian jarang. Yang saya perhatikan terutama dua tahun terakhir, orang semakin buru-buru pergi. Bahkan ada yang meninggalkan lapangan tak lama begitu salam terakhir salat diucapkan. Ada yang bergegas karena mulutnya tak sabar ingin menghisap asap rokok, ada yang bergegas karena menggendong bayi, ada yang bergegas pergi berziarah, juga bergegas karena urusan-urusan lain yang tak saya ketahui. Bersalaman masih ada, tapi semuanya serba lalu. Bersalaman dan bermaafan tampak tak lagi begitu sakral.

Ramadan berlalu serupa lepasnya balon dari genggaman sang anak yang tak begitu kuat mencengkeram. Terasa tak terasa. Antara manusia dan Ramadan siapa yang sebenarnya begitu tergesa? Seperti tulisan ini saja. Tergesa tapi saya bingung harus lanjut menulis apa :p

Menanak Nasi

Satu hal yang kerap saya heran dan belum sukses dilakukan saat memasak di gunung adalah menanak nasi. Nasi kerap terasa sedikit aron, masih ada bagian yang belum tanak. Atau sebaliknya, sangat matang, kelembekan karena kelebihan air. Dari beberapa pengalaman itu saya belajar juga untuk menyesuaikan proses menanak sesuai wadah yang digunakan. Ternyata hasil nasi yang ditanak di atas nesting ala TNI akan berbeda dengan nesting berbahan lebih tipis saat di dalamnya dituangkan beras dan air dalam komposisi yang sama. Demikian halnya dengan api, pengadukan, dan buka tutup nesting saat memasak–unsur-unsur yang berpengaruh lumayan besar mewujudkan nasi yang tanak sempurna.

Jadi ingat juga soal hal-hal yang dilakukan sepanjang umur dan dirasa masih saja belum purna. Diteliti lagi celah salahnya, celah kurangnya. kan katanya apa yang membedakan hasil adalah proses. Penyesuaian proses pun rupanya akan lain. Saat menyandingkan proses saya dengan yang lain dalam upaya mencapai tujuan sejenis, hasil kami bisa beda meski rasanya proses serupa. Tapi jika manusia berfokus pada sempurna, proses semacam apapun rasanya juga tak akan ada habis. Tuju yang diharap atau apa yang sementara didapat pun sulit buat dianggap berkat.

Duh kenapa saat memikirkan soal menanak nasi bisa-bisanya melipir seperti ini.


Sent from Fast notepad

Nama

Memberi nama katanya wujud ibadah dan hadiah orang tua bagi anaknya. Maka ketika saya mengingat makna di balik nama ini rasanya doa terbaik mereka, ibu dan bapak senantiasa mengiring langkah hidup selama dua puluh delapan tahun.

Amal ibadah soleh hanya kepada Allah. Semoga hidup anak ini ada dalam ridho Allah. Demikian kurang lebih. Sebuah nama dan doa yang diselip beriring lurus sesuai keberadaan hamba yang dititip hadir di dunia menjalani tujuannya sendiri. Hidup untuk beramal dan mengamalkan banyak hal. Tanpa saya tahu berlaku hingga kapan.

Ada Apa dengan Rangga

Waktu yang cukup lama bisa membantu seseorang maju meninggalkan luka, meninggalkan masa lalu. Meski bisa saja ingatan bertahan. Apa kabar dengan kisah Cinta (Dian Sastrowardoyo) dan Rangga (Nicholas Saputra) setelah empat belas tahun berlalu? Masih adakah tanda tanya seperti judul Ada Apa Dengan Cinta? 

Setelah sekian purnama terlewat, semesta pun seolah mendukung pertemuan itu. Pertemuan antara Rangga dan Cinta yang berjarak ribuan kilometer antara New York dan Jakarta. Pertemuan yang—mengutip puisi Aan Mansyur yang digunakan dalam film ini—menerabas rindu yang selama ini jadi batas antara pulau dan seorang petualang gila.

Mungkin petualang gila itu Rangga. Yang menyelesaikan masa Sekolah Menengah Atasnya hingga lanjut kuliah di New York, mengikuti ayahnya. Meninggalkan Cinta di bandara dan tak kembali ke Jakarta cukup lama. Lantas apa yang membuat petualang gila itu lantas kembali? Tanda tanya yang masih berkelindan di kepalanya. Ia ingin menuntaskan hal yang dianggap belum selesai.

Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi dipisahkan kata

Siapa sangka perpisahan itu berlangsung sejak sembilan tahun lalu. Pesan yang dikira puisi romantis tiba-tiba hadir menyentak Cinta. Tapi akhirnya ia melewatinya dan mencoba babak baru dalam hidupnya. Jejak baru dan orang-orang baru. Babak yang Cinta tata pun rupanya mesti goyah. Sang pemberi puisi datang begitu saja. Cinta ingin melangkah tanpa menoleh lagi. Apa daya, masih banyak tanya hadir dalam benak Cinta selama ini sejurus dengan sekian jawaban yang Rangga miliki dan siap dia jawab.

Mungkin awalnya Cinta berupaya berpikir seperti ini, untuk tegap melangkah ke depan maka jejak di belakang perlu bisa dipastikan berakhir dengan titik, tak lagi tanda tanya. Sebagaimana orang dewasa yang coba meluruskan masalah Keduanya lantas coba menyejajar langkah tak lagi di Ibu Kota, Jakarta. Tapi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kota yang lebih menyuguhkan ketenangan dan kekayaan seni seolah tepat dijadikan tempat rekonsiliasi.

Empat belas tahun sudah dari masa Cinta dan Rangga masih berseragam putih abu. Obrolan yang kadang terdengar sok dewasa bagi anak sekolahan, kini tak ada lagi. Keduanya benar-benar telah dewasa. Sang sutradara, Riri Riza masih ingin keduanya berbahasa cukup baku: saya dan kamu. Tapi tak mengurangi rasa yang masih keduanya simpan rapi, sadar tak sadar. Serba salah tingkah, luap marah dan lontar maaf, ekspresi orang jatuh cinta pada umumnya yang tak mengenal usia.

Emosi meletup, impulsif ala Cinta remaja berganti rupa. Masih ada tekanan tapi beberapa kali Cinta seolah sadar untuk tak termakan amarahnya sendiri. Atau mungkin ingat sendiri terhadap pesan yang sempat ia buat untuk Rangga dulu saat mengembalikan buku Aku-nya Sumandjaya: Bila emosi mengalahkan logika, terbukti banyak ruginya. Waktu tak menghapus angkuh dan sinisnya Rangga, tapi kini wajah dinginnya kerap beberapa kali dihias senyum yang lebih sering hadir. Rangga pun tak terlalu keras terhadap dirinya sendiri. Ia memberi ruang untuk bisa memaafkan masa lalunya sendiri. Keduanya memberi dan membuka ruang maaf. Ada ketegangan, kecewa, marah, tawa yang berkelindan, berulang. 

Atau senyummu dinding di antara aku dan ketidakwarasan.

Ada Apa Dengan Cinta 2 menyuguhkan sebuah kondisi baru. Masih soal Cinta dan Rangga namun dalam spektrum lebih matang. Pemikiran jangka panjang dan rahasia-rahasia lama. Kisah ini kental drama namun tetap menghadirkan gelak lewat aksi dan celotehan Mily (Sissy Precilia), Mamet (Dennis Adhiswara) bahkan kekonyolan yang juga bisa dilakukan Cinta sendiri. Meski kadang saat berulang lucunya tak terasa sama lagi. Kemasan drama kadang tak menarik hati karena seolah pernah hadir dalam kisah lain, untungnya itu bukan jadi poin utama. Konflik-konflik yang hadir tak sepadat di cerita dulu. Ada konflik kekerasan dalam rumah tangga, bully, isu politik, semua terasa diramu padat.

Apa kabar hari ini?

Kali ini, konflik diramu beda. Isu keluarga tetap ada, politik selewat saja, utamanya tetap pada bagaimana menjernihkan segala yang samar selama ini. Nicholas Saputra sukses menghadirkan Rangga sebagai pria dengan banyak beban hidup yang tergambar di wajahnya. Karmen yang tomboy pun punya peran lebih tak hanya sebagai anak perempuan yang berani menantang untuk menghajar orang yang menyakiti sahabatnya.

Puisi yang digunakan Riri dan Mira dalam film ini lebih dalam. Menggambarkan sosok Rangga yang lebih matang. Puisi Batas karya Aan Mansyur—penyair asal Makassar—seolah merangkum seluruh inti kisah yang berlanjut setelah melewati ratusan purnama tersebut.

Lihat tanda tanya itu jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi.

*kalimat bercetak miring merupakan petikan puisi Batas

Judul : Ada Apa Dengan Cinta 2
Sutradara: Riri Riza
Produser : Mira Lesmana
Skenario : Mira Lesmana dan Prima Rusdi
Pemain : Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Adinia Wirasti, Sissy Precilia, Titi Kamal, Dennis Adhiswara, Ario Bayu
Produksi : Miles Films dan Legacy Pictures

Berceritalah Ia, si Anak Hilang

Setiap anak sekolah, atau kebanyakan pasti ada pengalaman pernah punya geng, at least temen deket. Saya ngalamin itu SMP, SMA, kuliah, sampai sekarang. Melihat hal itu ternyata saat saya menyadari diri saya introvert, kesadaran untuk bisa masuk dalam pergengan menempatkan diri saya sebagai ambivert dalam sebuah kelompok.

Tapi sekarang saya bukan mau cerita soal gimana saya sama geng-gengan atau kelompok pertemanan ini. Saya cuma mau refleksi soal cerita pertemanan saya sama temen-temen SMA pasca baca novel AADC dan nonton filmnya.

Saya enggak punya geng kayak Cinta yang populer. Saya anak bahasa yang notabene kebanyakan orang bilang ini kelas anak buangan. Enggak cukup nilai masuk IPA dan IPS. Atau anak-anak enggak layak IPA tapi ogah masuk IPS, atau enggak masuk IPS apalagi IPA lol! Saya? Enggak cukup nilai masuk IPA karena kurang point 0,5 aja buat matpel matematika. Pupus cita-cita kuliah arsitektur, tapi sangat ogah kalau ke IPS karena enggak suka guru ekonomi dan akuntansi pas kelas 1. Ada opsi pindah sekolah, tapi dari dulu saya punya prinsip enggak mau meninggalkan sesuatu yang rasanya enggak tuntas atau nyimpen misteri.

Jadi anak bahasa enggak mudah, karena saya harus menghadapi lebih banyak murid perempuan–lelaki langka, kurang dari 10 seiring waktu ada yang keluar juga. Makanya saya sebut kelas ini majority of minority class–abaikan kalau ada kesalahan grammar, maklum anak SMA bau kencur. Di kelas ini pula pertama kalinya saya yang biasanya dapat posisi sekretaris atau bendahara kelas–dari SD, SMP–Eh bisa-bisanya diamanatkan jadi seksi keamanan! Berasa preman banget kan? Belum lagi Gita yang gambarin organigram saat itu, saya digambarkan perempuan rambut pendek, diiket ngasal, terus tindikan😀 tapi itu seru, meski nyatanya saya enggak pernah ngamanin apa-apa, kecuali pas jadi ketua pentas seni kelas yang harus nahan emosi, coba dengerin banyak suara yang saat itu sempat pecah karena ada beberapa masalah–balik lagi ini kelas mayoritas perempuan, hal sepele bisa gede, hal yang simpel bisa berasa rumit.

Yaaa berjalan waktu, akhirnya di kelas ini saya bertemu dengan beberapa orang yang cocok aja, buat main, cerita, becanda, macem-macem. Saya lupa sejarahnya sampai akhirnya kelompok ini punya nama Buzosa, singkatan dari budak zomblo bahasa–entah waktu itu jomblo semua apa gimana. Dan sering disingkat BZS. Terdiri dari tujuh perempuan, tiga laki-laki. Dan tentu kisah geng ini enggak kayak gengnya Cinta yang besar di kota besar kayak Jakarta. Ini geng anak SMA daerah tapi enggak kuper-kuper banget juga. Saya cuma mau cerita soal beberapa orang yang interaksinya lebih dekat dan personal.

Di geng ini enggak ada sosok kayak Cinta yang jadi sentral. Karakter-karakter dominan pun enggak. Lucunya kadang saya nilai temen-temen di BZS ini ada yang tomboi tapi feminin kayak Widhy tapi tanpa disadari dia bisa lebih ngayomi kami, bocah tapi bisa dewasa dan pengalaman banget soal urusan percintaan kayak Hana ‘Nonk’. Pinter, cuek, tau porsi kayak Dientha. Ekspresif, sensitif, centil, penyayang kayak (almh) Djihan. Tapi rata2 mereka rajin soal pelajaran, saya udah pemales banget anaknya. Itu penilaian saya pas SMA. Dan saya kagum sama perubahan mereka setelah kami lulus, pisah, meski tiap tahun kami selalu usahakan buat ketemu :’)

Sama Widhy dan Dientha interaksi saya pas kuliah masih cukup kejaga karena kami kuliah satu kampus, satu fakultas, beda jurusan–kalau mau kami bisa bikin kamus edisi tiga bahasa😀 malah pernah dititipin ayahnya Dientha buat saling ngingetin pas kami awal-awal menjejak di Jatinangor, meski perjalanannya pas masa kuliah kami banyak masing-masing sama fase kehidupan baru.

Sama Hana, komunikasi pasca SMA sangat longgar, malah sempat ilaaang banget. Padahal pas SMA lumayan deket apalagi cuma dia yang tahu siapa gebetan saya pas SMA😀 dia yang tahu lengkap kenapa saya nolak cowok yg pernah nembak berulang kali. Urusan kayak gitu, Hana yang pegang. Bahkan kami suka tuker2an file cerita dengan password di disket yang cuma kami aja yang tahu.

Nah sama Djihan, dia temen sebangku. Dia lumayan buat dicontekin tugas Bahasa Jepang buat dibarter sama tugas lain. Rumah Djihan iu basecamp geng kami bahkan sampai kami lulus SMA, kuliah, lulus kuliah, sampai beberapa waktu sebelum dia meninggal. Sama dia saya paling sering berantem dan diem-dieman, tapi enggak tahan lama, abis itu ya deket lagi, becanda lagi, maen lagi. Enggak bakal tahan marah lama sama dia karena mukanya lucu.

Pertemuan kami H+2 lebaran biasanya sangat dirindukan. Ketemu sehari, tuker kabar, mengingat masa lalu itu nyuntik kebahagiaan. Sampai akhirnya satu persatu menemukan jalan hidup masing-masing, bekerja, menikah, punya anak. Temu-temu makin langka, tapi saya pribadi enggak mau kehilangan momen sama mereka. Meski akhirnya sering hanya lewat tegur sama di media sosial, beberapa waktu lalu tiba-tiba dibikin juga grup wa–kenapa enggak dari dulu juga enggak ngerti yaa hehehe. Saya dulu mungkin sempat jadi anak hilang, di saat teman-teman saya ini masih bisa komunikasi di BBM, sedang saya enggak punya :p jadi lewat sms2. Widhy di semester2 awal sering saya inepin kosannya. Masuk akhir-akhir kuliah saya lebih sering interaksi sama Dientha, sempet sekosan, sering satronin kosannya juga pas dia S2 di Bandung dan saya masih skripsian di Nangor 🙈

Menemui satu persatu dalam momen berbeda, membuat saya menyadari hal lain lagi mereka benar-benar sudah bertransformasi lebih dewasa. Dari sikap, kata-kata, time flies. Widhy, Dientha, Djihan sejatinya sudah jadi perempuan yang kalau kata orang umum bilang ‘utuh’. Hana juga karena sekarang lagi hamil muda. Bahkan Djihan meninggal setelah melahirkan Gavin, anak pertamanya.

Perjalanan hidup masing-masing kami ini menempa jadi personal yang lebih terbentuk. Dari obrolan sama Widhy, Dientha belakangan ini saya melihat mereka beneran terbentuk lewat proses. Juga kalau dengar cerita soal beberapa teman lain yang saya pribadi terputus sejak lulus SMA. Saya nikmati benar saat memori berlarian mengingat cerita-cerita lampau. Kebodohan kekonyolan kami, suka duka kami, bocah-bocahnya kami.

Pertemanan yang awet itu memang modalnya tulus, dan saya rasakan itu dari mereka. Dan ketika Rangga bilang ke Cinta soal tanggapannya yang selama ini salah ke gengnya, di situ juga saya makin sadar kalau saya beruntung dipertemukan dengan orang-orang ini saat melewati masa remaja hingga sekarang. Pemakluman mereka terhadap saya yang suka ilang-ilangan, terus nongol lagi. Dalam geng kami enggak ada cerita yang tersentralisasi semuanya organik hadir, berkembang, hilang, berganti, begitu saja. Cuma satu yang pengen saya pertahanin, apa yang sudah kami bentuk tanpa ikrar, inginnya bisa bertahan sampai kapanpun. Apalagi saat kami sudah kehilangan Djihan.

Ini tulisan kangen-kangenan, saya sadar bentar lagi saya PMS makanya bisa nulis panjang lebar, ke mana-mana, dan agak sensitif meski banyak yang ditahan buat ditulis😀


Slipi-Matraman, 25 April 2016

Anies Baswedan dan Rumahnya

membangun rumah di kawasan padat penduduk dan tak ada tempat publik, membuat Anies menyediakan ruang publik di atas rumahnya.

Penikmat The Lord of The Ring pasti sudah tak asing dengan rumah Frodo Baggins, rumah beratap rumput dan seolah rumahnya berada di bawah tanah. Demikian yang terbersit saat berkunjung ke kediaman Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Rasyid Baswedan di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Terletak di kawasan padat penduduk, rumah tanpa pagar pembatas, hamparan rumput hijau, dan sebuah joglo di tengah terlihat dari tepi jalan. Selintas seolah rumah utama memang joglo tersebut. Tapi siapa sangka, begitu melangkah lebih dalam, baru kita tahu kalau rumah utama ada di bawah joglo tersebut. “Saya ingin membuat rumah jadi public space,” ujar Anies saat kami mengunjungi kediamannya Jumat lalu.

Menurut Anies saat rumah belum dibangun di atas tanas seluas 1600 meter persegi ini, tanah kerap dijadikan tempat bermain anak-anak di lingkungan tersebut. “Kami merasa ini tempat masyarakat jadi coba tetap memberi ruang untuk masyarakat,” tuturnya.

Maka area atas dan joglo sengaja dibuat jadi tempat untuk bisa digunakan masyarakat secara bebas. Kawasan sengaja tak diberi pagar, joglo pun jadi tempat kumpul pemuda, bermain anak-anak, tempat pengajian, pertemuan warga, termasuk jadi tempat pemeriksaan kesehatan bagi manula, dan juga jadi area pernikahan warga.

Sedikit berputar ke belakang joglo, barulah mulai terlihat bagaimana wujud rumah ini. Joglo terlihat berdiri sebagai lantai dua dari rumah tersebut. Sedang bagian lantai dasar adalah rumah yang dihuni anggota keluarga. Maka terlihat bagaimana rumah ini seolah punya dua dunia. Bagian atas bagi masyarakat sekitar yang memanfaatkan ruang, bagian bawah adalah area untuk para penghuni rumah utama.

Setelah berkeliling di area atas dan kawasan joglo, Anies mengajak kami memasuki rumah utama lewat tangga di dalam joglo. Barulah terlihat ada kehidupan lain di dalam sana. Sebuah rumah bernuansa kayu dengan langit-langit tinggi. Lantai dari semen bisa membuat kaki terasa adem jika bersentuhan langsung. Nuansa minim warna mencolok, hanya terdiri dari tiga unsur warna putih, cokelat, dan abu, serta nuansa hijau.

Sepasang pintu tinggi besar dari kayu terbuka lebar, menjadi area masuk utama jika memasuki rumah dari arah garasi. Sebuah ruang belajar terletak di sampingnya berdampingan dengan bagian teras. Rumah pun tak terasa berada di bawah bangunan lain. Dari arah ruang keluarga dan meja makan, hamparan rumput hijau pun masih terlihat saat melempar pandang ke arah teras.

Kamar terbagi dalam lima ruang. Satu kamar tidur utama dengan kamar mandi di dalamnya, satu kamar tidur untuk putri sulung, Mutiara Annisa Baswedan (19 tahun), dan sebuah kamar dengan ruang berbentuk persegi panjang, terdiri dari tiga buah ranjang di dalamnya untuk tiga orang putranya, Mikail Azizi Baswedan, Kaisar Hakam Baswedan, dan Ismail Hakim Baswedan. Di kamar itu ada sekat yang bisa ditarik dan mempartisi kamar jadi kamar pribadi. Menurutnya rumah pun harus bisa jadi sesuatu yang tumbuh. Tak ada kamar mandi pribadi bagi keempat anaknya. Anies sengaja menyediakan dua kamar mandi di luar kamar tidur agar tak tercipta suasana individualis.

Anies bercerita jika rumah yang dibangun sejak 2013 itu merupakan karya tiga orang seniman. Adi Purnomo (arsitek) selaku arsitek utama, Danang (seniman kayu dari Blitar) yang menyumbang rumah joglo serta menyediakan kayu-kayu kebutuhan rumah, serta Paulus Mintarga (arsitek dan desainer pemilik Rumah Rempah Karya di Solo) yang menyatukan semua konsep. Semua struktur bangunan, kusen-kusen, serta furniture murni dibuat oleh para tukang, tak ada bahan pabrikan.

***

Di atas adalah  ilustrasi tempat tinggal Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Anies Baswedan. Kesempatan itu saya peroleh saat janjian dengan Mas Menteri–demikian Pak Anies ingin dipanggil di lingkungan kantornya–untuk wawancara untuk rubrik majalah.

Rumah yang hangat dan penuh unsur filosofis.Tak henti sebagai rumah sebagai tempat bernaung dan berlindung. Tapi bagaimana rumah bisa menjadi sarana aktivitas, bermanfaat tak hanya bagi anggota keluarga, dan rumah bisa menjadi sebuah tempat yang diperbincangkan hingga ke sudut-sudutnya.

Demikian filosofisnya Anies untuk tempat tinggalnya dengan keluarga, mencerminkan juga betapa bapak empat anak ini juga punya banyak nilai filosofis yang dipegang sebagai prinsip hidupnya. Entahlah, saya suka mendengar atau membaca tulisan bapak menteri satu ini. Tuturnya runut teratur, pemilihan diksinya enak berpadu, dan konteksnya juga menarik. Bukan hanya bicara bermanis-manis atau melontar kosa kata yang kaya, hebat, wah tapi minim makna.

Kehangatan ia sebagai kepala keluarga juga terlihat jelas. bagaimana mengajak anak berbicara. Bersikap kepada sang ibu–saat itu kebetulan sang ibunda sedang berkunjung dari Jogja. Ia tak ragu memperkenalkan semua anggota keluarganya kepada kami. Beliau sosok yang menarik dan jelas berkharisma.

Cita-citanya membangun pendidikan Indonesia yang lebih baik sempat ia paparkan. Ia pun sempat menjelaskan soal konsep pelatihan guru sebagai sosok pembelajar tiada putus. Ini jelas jadi peengalaman menarik bagi saya saat itu. Kagum dan bangga negara saya masih punya sosok yang menyimpan perhatian tinggi terhadap pendidikan di negerinya. Dan ia punya karakter yang kuat dan memegang banyak nilai yang bisa terlihat dari apa yang ada di sekitarnya.

Physical Paralized

Physical Paralized

Ini hanya semacam mewakili, 

Apa yang dilakukannya, kukatakan sebuah konsistensi luar biasa. 
Sebuah (mewakili banyak tindakan) sikap yang jauh dari pamrih–ia tak mengharap balas. 

Ia lakukan semua dalam diam 
memantau dari jauh, 
memahami lebih cepat dan selalu tepat. 

Berharap ingatannya takkan hilang–padahal ini adalah satu kepastian, ia akan menghadapi satu hal ini. 

Sebuah katastrof baginya dan segala yang telah ia laku dan rancang. 
Sialnya, ia kehilangan dan semakin hilang, sampai ia temu satu kesempatan: seolah terlahir kembali, menjadi baru dan memulai dari awal, walau pada akhirnya ia sadar. Sedari mula ia merasa telah jatuh cinta pada asing yg sesungguhnya telah ia kenal dari masa lampau. Ia sempat temu sebelum mati tuk kedua kali.


Pindahan dari notes FB

Pertanyaan Pertama

***

Aku sudah membalaskan dendammu. Bisakah kita berkawan sekarang?

Kanya terpekur menatap layar ponselnya. Pesan pendek tanpa identitas menusuk malam itu. Dendam apa yang membuatnya tertunda untuk berkawan? Sehingga ada yang susah payah mau membalaskan dendam agar bisa menjalin hubungan prkawanan? Kanya berpikir keras. Dendam. Satu-satunya dendam yang ia punya hanya tanda tanya. Siapa yang menghancurkan keluarganya sejak lima belas tahun silam? Siapa yang telah mengoyak harga diri ibunya, membuat depresi ayahnya, membuat status adiknya dipertanyakan, membuat kebahagiaannya terhadap sebuah keluarga hancur. Dendam yang takbisa ditanggung dengan mudah oleh seorang anak saat itu.

Apakah dendam itu yang dimaksud pengirim pesan? Lantas siapa dia? Siapa yang bertanggung jawab dan siapa yang membalaskan dendam itu? Berarti kecurigaannya selama ini cukup beralasan. Ada orang yang memang layak untuk dibalaskan dendam, meski ia tak tahu siapa. Dan ada yang mengetahui rentetan peristiwa itu sendiri.

Bertahun-tahun Kanya hidup dalam dendam tak bermuara. Kepalanya terus bertanya tapi ia tak tahu harus mencari tahu ke mana. Bertanya kepada siapa.

***