Boikot Saja, Nontonnya Nanti Dulu. Eh Apa Enggak Usah?

Tidak semua karya lahir disertai kritik. Tidak banyak karya lahir diikuti reaksi luar biasa di luar suka atau tidak suka. Ada respons bisa jadi sinyal baik. Ya, bisa juga buruk. Apa yang terjadi saat ini terhadap film Kucumbu Tubuh Indahku menurut saya tetap ada hal baik dari sisi mengundang reaksi. Orang tidak serta merta mengelukan suka atau jatuh hati terhadap sebuah karya yang indah. Ya, sebagai sebuah karya seni film ini dikemas dengan baik dari banyak aspek. Banyak pihak menyebut film ini indah.

Ada konsekuensi yang memang harus turut ditanggung. Sebuah gagasan tak selamanya harus dimenangkan dalam satu waktu. Untuk bisa meyakinkan sesuatu, nampaknya memang perlu dibenturkan~saya lupa pernah berbicara dengan siapa dan tentang apa saat itu sampai sempat keluar pernyataan semacam ini. Dibenturkan untuk mengetahui seberapa kokoh, seberapa tangguh dan memang layak.

Kita dihadapkan pada kondisi kebebasan berekspresi. Seorang sutradara bersuara lewat filmnya, sekelompok masyarakat bersuara menyatakan sikap atas film tersebut. Keduanya merupakan wujud dari demokrasi. Dan ini bisa terjadi di ranah seni lainnya. Kabar baiknya, film adalah sebuah karya yang di dalamnya mencakup berbagai cabang seni.

Yang buruk adalah saat muncul suara, ajakan massal memboikot sesuatu lalu mengarah pada aktivitas anarkistis. Pengumpulan massa tapi massa yang terpancing itu tidak tahu benar apa yang sebetulnya mereka lakukan dan mereka suarakan. Parahnya jika tak seorang pun melihat langsung seperti apa filmnya. Hanya atas nama katanya ini buruk, katanya tak sesuai nilai, dan katanya yang lain. Padahal sebuah karya tak mengandung kebenaran tunggal. Ia hadir sebagai cermin entah dari masa lalu, masa kini, bahkan masa depan. Cermin hadir tentu untuk memberikan gambaran terhadap apa yang sebaiknya dapat dilakukan oleh seseorang atau sebuah komune yang dipelajari dari yang sudah dan pernah terjadi, sebagai patokan langkah ke masa depan. Itu idealnya.

Saat kuliah saya sering mendengar karya yang baik itu setidaknya memenuhi unsur dulce et utile kata lainnya sweet and useful, manis dan berguna atau bermanfaat. Karya seperti apa yang bisa masuk kategori ini di saat memaknai sesuatu manis dan berguna saja bisa berbeda-beda sesuai selera dan sudut pandang.

Kritikus Ekky Imanjaya pernah menulis, wajah Indonesia dalam film yang baik seharusnya tampak. Ini di luar apakah menampakkan Indonesia secara utuh atau berupa penggalan suku, agama, kelas sosial tertentu. Namun identitas kultural itu hadir dan terlihat. Film bisa hadir menampilkan wajah masyarakatnya, setidaknya itu cukup sebagai penanda identitas kultural. Sineas pascakemerdekaan sempat berambisi untuk turut melahirkan revolusi Indonesia, melalui film tentu. Mereka ingin film Indonesia punya relevansi yang kuat dengan sosial budaya. Film tak sekadar jadi sarana eskapis, pelarian diri dari kenyataan. Dan perjuangan mencari indentitas film nasional ini berturut-turut dilakukan sejumlah sineas tanah air hingga saat ini. Mungkin penjelasan ini bisa cukup mewakili film yang bisa memenuhi unsur memberikan sesuatu yang bermakna.

Bagi siapa saja yang sempat dan kerap melihat film karya Garin, tentu tak akan sulit mengatakan di sana kita kerap melihat cerminan masyarakat Indonesia. Barat ke timur. Orang di pinggiran atau kelompok perkotaan. Garin memotret begitu banyak kisah kehidupan masyarakat kita. Sesederhana kisah anak-anak yang mencari kehangatan keluarga, atau kisah-kisah personal ibu dan anak, pencarian identitas, sampai pergolakan perjuangan kemerdekaan. Juga kisah cinta. Tidak semua karya Garin otomatis saya sukai karena ada beberapa yang kerap bikin saya pusing, belum nyampe otaknya. Atau mungkin kurang bersepakat. Tapi saya kagum dari cara ia mengemas film, dari cara ia bertutur lewat gambar. Dan reaksi apapun yang kita punya terhadap sebuah karya baiknya bukan menimbulkan kebencian saat tidak begitu menyukainya. Kucumbu Tubuh Indahku ini salah satu filmnya yang sempat membuat saya mengerutkan kening saat melihat beberapa adegan. Ada kengerian yang saya tangkap, ada rasa lain juga yang saya serap. Tapi saya menangkap banyak hal soal perjalanan hidup yang sangat personal.


Tapi ini film tentang LGBT!

Ini film tentang trauma yang dialami seorang anak laki-laki di hampir separuh hidupnya. Anak lelaki yang kehilangan sosok orang tua. Anak lelaki yang dianggap jago menebak kapan seekor ayam akan bertelur dan ia tak segan memasukkan jarinya ke lubang pantat ayam. Anak lelaki yang jarinya ditusuk jarum saat dihukum. Anak lelaki yang ternyata punya bakat menari. Anak lelaki yang perlahan tumbuh menjadi lembut. Ia tumbuh menjadi pria yang bingung dengan dirinya sendiri. Merasakan sesuatu yang berbeda, perjalanannya mencari untuk menemukan sesuatu. Banyak hal yang sebetulnya erat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Melihat dan mencoba memahami sesuatu bukan otomatis mendorong untuk menjadikan kita mendukung sesuatu. Tentu tidak. Bukankah tak ada yang salah dengan memperluas sudut pandang agar bisa perlahan menilai sesuatu lebih adil? Di luar kita tak bersepakat?


Kembali lagi pada urusan boikot. 

Siapapun memang ingin dianggap benar. Memang menyenangkan ya jika bisa memenangkan sebuah diskursus dan berkata ‘argumen saya paling kuat dan benar’. “See? I told you!”

Argumen itu perlu dibekali pemahaman yang utuh, bukan asal melihat banyak yang membela atau mengikuti. Bukan sekadar didorong secara emosi. Alih-alih dianggap keren, kamu akan dianggap sama bodohnya jika masuk dalam 1000 orang yang mengatakan sesuatu yang bodoh. Meski ada 1000 orang yang mengatakan hal serupa. 

Apalagi minus mengetahui tentang apa film ini sesungguhnya. Lalu enteng melontarkan kebencian, asumsi, menanam persepsi yang salah arah. Tanpa sadar diri hanya sedang dibakar api, marah, benci disulut lama-lama kamu habis menjadi abu.

Kritiklah terus sebuah karya dengan kritis. Toh tanggapan-tanggapan yang kritis itu harusnya bisa ikut membangun lahirnya karya yang baik dan makin berkembang. Karya-karya yang bagus tak akan mudah mati dengan penolakan.

Ketidaksepakatan pun tetap bisa ada, perbedaan tetap bisa hadir tanpa harus menutup pintu lebih dulu. Kita harusnya bisa selalu menyediakan teras untuk bertemu, berbincang tentang apa saja di negeri ini tanpa mengeluarkan benci meski beda persepsi.

Advertenties

Arus Muara

“Sejauh aku pergi, saat kembali muaraku ada di sini,” tuturnya sembari melempar pandang. Sang muara yang dimaksud menahan diri untuk tak tersipu. “Kamu sadar?”

“Heh?”

“Selama apapun aku pergi, tak ada komunikasi dalam bentuk apapun, sekalinya aku pulang aku akan selalu menemukan cara bertemu kamu, tanpa janji apapun,” tambahnya.

Muara memasang tampang datar. Kali ini ia berani menatap arus yang katanya telah kembali ke rumah. “Itu memang gampang,” balasnya.

​Kenapa Kita Enggak Boleh Norak?

Belakangan ini sejumlah penumpang Mass Rapid Transportation (MRT) Jakarta yang bersikap tak tertib menjadi viral di media sosial bahkan masuk di sejumlah pemberitaan.

Ngapain aja mereka? Ada yang bergelantungan, injak kursi, baris tak mengikuti garis batas, sampai menjadikan kawasan MRT plus di dalam MRT sebagai arena piknik sambil menikmati bekal yang dibawa dari rumah.

Selewat mendengar hal itu mungkin sebagian besar orang akan menilai hal itu norak atau katrok, kalau kata Tukul. Enggak sedikit sindiran atau kalimat-kalimat tak mengenakkan dilontarkan terkait hal ini. Enggak punya manner lah, enggak tahu aturan, kampungan banget, dll. Ih gitu…

Bicara soal orang susah diatur, saya inget banget pas kemarin naik ojek, pengemudinya nyeletuk “kan lebih gampang ngatur binatang ya Mbak, ketimbang manusia,” nang ning ning nang ning keung… saya cuma senyum lebar tanpa nunjukin gigi. Komentar pengemudi ojek itu terkait adanya pengaturan lokasi ojek online menjemput penumpang supaya enggak bentrok sama ojek pangkalan.

Ya selintas ini lain soal. Tapi soal manusia dan aturan itu jadi kunci utamanya. Sebelum bahas ke situ, saya juga mau cerita dulu soal pengalaman saya pertama kali naik MRT, di sebuah negeri~ciein jangan? Jangan ah. Jujur, pertama kali nyoba moda satu ini, saya ngerasa norak sendiri. Gumun, kata orang Jawa mah, meski wartawan dilarang gumunan, cuma kan waktu itu saya lagi setengah liburan, setengah liputan~ini tips salah satu atasan kalau ada tugas dinas ke luar negeri. Katanya biar enggak beban, dianggap aja lagi libutan atau lipuran (ini istilah saya plesetin sendiri). Kalau setengah gitu, ya setengah gumun saya pikir boleh lah hahaha

Nah jadi, pertama saya sempet kagum sama stasiunnya yang besar. Petunjuk jalurnya yang jelas, termasuk rute, dan juga bagaimana warga di sana cukup tertib untuk menggunakan jalur untuk diam, atau jalan mendahului. Tertib pakai jalur masuk dan keluar. Jadi meski padat, enggak ada istilah macet kayak di eskalator stasiun Tanah Abang, yang udah mah sempit, orangnya banyak terus di tangganya berdiri sesuka hati. Gemes? Iya.

Di dalam MRT-nya, cukup padat. Ini transportasi umum yang dipakai masyakarat selain bus. Saya juga enggak menemukan ada yang makan dan minum di dalamnya. Tuh, kan… yang dilakukan masyarakat di MRT kita norak ya kan? Eh, bentar dulu.

Tujuan saya nulis ini bukan mau norak-norakin siapa pun. Orang saya juga sama noraknya, meski cuma, deg-degan, takut salah, takut kelihatan baru pertama kali nyoba, dan sejuta perasaan yang dipendam dalam dada. Begitu pun pas pakai toilet umum yang pas selesai pakai kok flushnya otomatis enggak bunyi. Bikin semaput enggak tuh? Apalagi misal antreannya cukup rame. Coba segala cara kok enggak kesiram. Sampai akhirnya pasrah mau minta bantuan yang jaga, bilang flushnya error. Pas buka pintu, eh ada bunyi air deras… BEEN THERE DONE THAT! Itu jantung aing rasanya udah mau copot cuma karena pipis yang enggak bisa disiram. Yang dibayangin gimana kalau waktu itu aku pup? 🙈

Nah, pas baca tulisannya Mbak Kalis, saya amini soal ada yang norak tapi pemalu. Mungkin ya tipe saya ini. Orang kampung, tapi levelnya lebih dusun lagi. Jadi malunya udah ada di depan. Sampai-sampai ya dulu itu memang kalau mau ngapa-ngapain mikirnya yang kelamaan. Pas ada pengalaman nemu hal baru, pengalaman baru, mikirnya udah takut ngerusak, takut salah pakai, dan lain-lain.

Balik lagi gaes… apa yang nampak dan jadi pembahasan soal masyarakat ‘kampungan’ di MRT enggak bisa langsung dipukul rata gitu aja. Masyarakat yang majemuk ini beneran terbentuk dari banyak kultur berbeda. Ada yang udah dari lahir diajarkan soal tata tertib dan sederet aturan umum, sampai aturan makan di atas meja mungkin? Tapi kita harus ingat, ada juga yang enggak mengenal itu sama sekali. Tapi bukan berarti hal itu enggak bisa dilahirkan dan dibiasakan.

Misal pas kelas tata boga waktu SMP, guru saya memperlihatkan soal aturan table manner. Lalu pas kuliah sampai ada kelasnya yang diadakan salah satu UKM. Sampai akhirnya saya lihat dan belajar sendiri lewat berselancar sama nonton Youtube. Oke, saya dapat ilmu saya yang satu itu. Tapi begitu pulang ke rumah ya saya makan pakai tangan, enggak ada yang lebih nikmat lagi. Selama kuliah dan sekarang menu sarapan saya buah, bubur, susu atau oatmeal. Atau enggak sarapan sama sekali. Kalau di rumah, pagi-pagi ibu nyediain lontong sama gorengan ya saya makan.

Intinya soal, membuka diri dan menempatkan diri. Saya mencoba membuka diri mengetahui, menjelajahi ada hal apa saja di dunia ini. Ada yang baik untuk diterapkan. Ada yang baik tapi untuk diketahui dan dipikirkan lagi. Ada yang cukup tahu aja. Semua pengetahuan itu lalu perlahan diterapkan sesuai tempatnya.

Sekarang gini, bisa jadi perilaku yang kita hujat yang dilakukan beberapa orang di MRT itu karena mereka belum tahu. Jadi yang sudah tahu, beri tahu mereka. Ini juga jadi PR untuk pihak berwenang memberikan pemberitahuan yang lebih jelas lagi. Ah masa gitu aja enggak tahu…

Jangan salah, saya pernah negur ibu-ibu yang makan sambil nyuapin anaknya (yang sudah agak gede) di KRL. Perilakunya bikin beberapa penumpang bisik-bisik. Berhubung saya berdiri dekat si Ibu, saya bilang ada aturan jangan makan. Saya tunjukin tanda larangannya. Ibu itu bilang terima kasih dan minta maaf karena sebelumnya enggak tahu. Enggak semua orang ngeh sama simbol. Enggak semua orang otomatis paham sama tanda-tanda. Namanya di tempat umum, enggak ada salahnya saling ngingetin, kasih tahu, tapi caranya juga kudu baik. Biar enak gitu diterimanya. Enggak semuanorang setiap harinya naik KRL atau Transjakarta kayak minum obat. Apalagi misal kereta bandara atau MRT yang baru ini. Bagi beberapa pihak, main ke Jakarta dengan naik KRL buat ke Monas atau Kota Tua itu pengalaman berharga!

Selalu butuh proses kok. Dulu kan kita tahu sesumpek apa naik KRL. Sepadet apa isinya selain sama orang karena ada yang bisa bawa masuk barang dagangan, sampai hewan. Adanya aturan perlahan kan kita bisa menikmati bagaimana KRL lebih manusiawi. Jadi inget cerita lain juga soal dulu sebelum bioskop sebanyak sekarang, tempat nonton film satu itu juga dianggap sarana rekreasi sampai ada yang bawa timbel buat dimakan sambil nonton di dalam ruangan.

Tapi masa di era MRT harus kayak KRL dulu? Balik lagi dong? Enggak maju-maju dong? Nah itu bisa diantisipasi sama pemberitahuan yang lebih masif lagi mungkin. Adanya petugas yang ketat untuk mengatur: menjaga di garis-garis tunggu dan masuk, senantiasa mengulang aturan kalau bisa penumpang terdoktrin.

Orang yang mencoba transportasi baru ini kan bukan orang kota semuanya. Yang sudah lebih lama dan cukup akrab dengan berbagai jenis transportasi yang lebih maju. Bisa jadi, yang baru naik MRT ini sehari-harinya cuma mengenal angkot atau bus-bus tua yang sebelumnya juga kita akrabi sebelum ada Transjakarta yang perlahan mengganti.

Kita boleh bangga dengan diri yang taat aturan, tata tertib, patuh aturan main. Tapi harus ingat, kita semua enggak memulai semua itu di titik pemahaman dan penerimaan yang sama. Biar sama-sama enak, coba saja perlahan ambil peran jadi orang yang mau bantu, mau mengingatkan, tujuannya untuk kenyaman bersama di area publik. Yang sudah bisa dan terbiasa, dijaga aja agar jangan sampai tergoda buat serobot antrean, pakai fasilitas umum seenaknya, sampai merugikan orang. Yha kaaaan…

Oia, saya sepakat sama pandangannya Mbak Elisa Sutanudjaja, Direktur Rujak Center for Urban Studies soal aktivitas piknik di MRT. 

Jujur Atau Tidak

Ada seorang karyawan yang untuk pertama kalinya menjalani perjalanan bisnis ke luar negeri. Ia sudah menyusun rencana dan janji dengan pimpinan perusahaan yang akan menjalin kerja sama dengan tempatnya bekerja saat ini.

Sayangnya, jetlag membuat si karyawan kebablasan istirahat begitu tiba di negara tujuan. Ia bangun kesiangan lewat beberapa menit dari jam yang dijanjikan untuk melakukan pertemuan. Tentu dia panik. Ia segera menghubungi calon rekan bisnis perusahaannya itu. Meminta maaf karena kecerobohannya, alarm yang tak terdengar, bangun terlambat. Ia meminta maaf, menyatakan semua hal tanpa ditutupi atau mencoba cari alasan lain. Ia mencoba mengatur jadwal baru.

Apa yang terjadi?
Si karyawan ini malah disuruh tenang. Ia diyakinkan kalau apa yang dialaminya sesuatu yang wajar. Mengingat ia baru saja melewati perjalanan cukup panjang. Ia pun mendapat ucapan terima kasih atas kejujurannya. Dan malah sikapnya dianggap terlalu sopan, begitu jujur. Ia disuruh lanjutkan istirahat. Dan mulai kembali rancang pertemuan di waktu lain. Satu hal yang penting, ia dititipi pesan bahwa ada banyak hal dalam hidup ini yang lebih penting untuk diperhatikan, untuk dipikirkan, dan dikerjakan. Rileks, santai.

Si karyawan pun menyampaikan kesembronoannya kepada bosnya. Sikap bosnya tak beda jauh. Tak ada yang dimarahi atau dianggap tak bertanggung jawab. Semua bisa dibicarakan, bisa diatur ulang.

Lalu ada cerita dari karyawan lainnya. Dari perusahaan dan bidang yang berbeda.

Si karyawan ini merasa belakangan tak enak badan. Tapi semua masih bisa dikontrol sehingga ia masih bisa bekerja. Satu hari saat ia menyiapkan pekerjaan, ia ketiduran karena kondisi badan yang sedang tak begitu baik. Padahal ia harus mengikuti rapat dan mewakili tim melakukan sedikit persentasi kerja saat itu. Bukan rapat yang penting mengambil keputusan. Saat waktunya tiba, atasannya menghubunginya. Ia terbangun, namun telepon sudah terputus. Ia kaget segera mengecek ponsel untuk memastikan rapat. Persentasi sudah siap diambil alih. Akhirnya ia hubungi atasannya, meminta maaf atas kondisinya yang tiba-tiba tertidur karena kurang enak badan.

Apa yang terjadi?
Pesan cukup pedas tentu ia terima. Dianggap tak punya pola koordinasi yang baik, tak bertanggung jawab, dan semua itu diminta untuk diperbaiki dengan membawa unsur penilaian kinerja. Si karyawan menerima semua itu karena sadar ia salah.

Tidak selamanya kejujuran bisa berbuah manis. Dan tidak semua orang bisa memberi toleransi atas kejujuran. Dampak respons itu bisa memberi pengaruh yang cukup signifikan pada manusia.

Dan ya, satu terjadi di Eropa, satunya di Asia. 

Kalau sudah waktunya

Seseorang berkata dalam balutan candanya. Sudah saatnya ada yang menikmati segala masakanku, ada yang menemaniku melakukan segala hal kesenangan selama ini. Ya, aku tahu arahnya. Namun satu hal, segala yang kulaku selama ini tentu bukan untuk orang lain. Membiasakan diri memasak tak lain guna memenuhi kebutuhan dan menjaga alokasi keuangan agar bisa terkontrol-tak terbuang lantaran banyak membeli makan di luar ditambah kita tak tahu ada apa saja yang terkandung di dalamnya.

Kawan melakukan kesenangan? Ya, tentu saja itu akan menyenangkan. Meski aku kerap menarik diri dari banyak ruang bingar karena kesenangan yang paling senang kulakukan adalah berdiam di dalam kamar, membaca, menggambar, atau menulis. Kalau pun ada kawan yang mau menemani, kubersedia berbagi ruang. Tapi untuk beberapa hal, kutakbisa berbagi suara. Semoga kawan itu punya kesenangan sendiri yang bisa ia bawa lalu kami nikmati dalam ruang yang sama. Tapi, jauh sebelum itu tiba atau bahkan tidak sama sekali, aku sangat menikmati segala macam kesenangan yang kucipta untuk diriku sendiri. Barang berjalan kaki, menghitung langkah, melihat kendaraan, merentang tangan untuk merasakan udara, dan lainnya. Dan lagi, semua kulakukan, semua kujalani bukan untuk siapa-siapa selain diri sendiri.

Kalau nanti ada yang mau ikut jalan, ayok. Asal tahan 😀

Dan tulisan ini akan kulanjutkan kalau aku merasa ada yang bisa dituliskan lebih banyak lagi.

Namanya juga mimpi

Setiap kali bermimpi saya kerap bertanya kenapa misal ada orang itu yang hadir padahal inget aja enggak pernah, kepikiran aja enggak sama sekali. Padahal teorinya kalau kata Freud mimpi itu singkatnya represi dari alam sadar-alam bawah sadar. Entah isi ketakutan, keinginan, banyak hal yang bahkan terkait emosi-emosi yang tak disadari.

Belakangan ini saya jadi sering bermimpi lagi. Dan seringnya bermimpi tentang orang asing, orang yang dikenal tapi tak dekat, orang yang diketahui tapi belum pernah berkenalan sama sekali. Kata bantunya: strangers.

Tapi dalam mimpi-mimpi itu kami bisa berinteraksi. Mengobrol lebih lama dan panjang ketimbang di kehidupan nyata–bagi yang sempat ada momennya. Lebih dalam, atau hanya bercanda seenteng mungkin tapi memancing gelak cukup panjang.

Ketika bangun saya hanya bisa mengingat kembali lalu memikirkan ulang semuanya, betapa menyenangkannya. Tapi mengapa seolah hanya jadi ilusi?

Saya bahkan melihat betapa saya bisa sebahagia itu dalam mimpi sendiri bahkan dengan orang asing. Sungguh rasanya bukan saya di kehidupan nyata yang kerap merasa aneh berada di tengah suasana asing. Orang asing? Apalagi kecuali memang memiliki karakter yang asyik untuk jadi kawan bicara selewatan.

Kabar baiknya, saya tertolong bangun pagi dalam kondisi nyaman. Bahagia saja rasanya. Lebih enteng meski beberapa waktu kemudian kala harus segera cek ponsel, grup, email, kepala otomatis jadi penuh. Setidaknya saya dapat energi baru yang hadir lewat mimpi yang seru. Bukan lagi mimpi buruk.

Dan saya jadi merindukan hal tak pasti. Siapa orang asing itu? Bisakah benar-benar bertemu dan menjadi kawan senyatanya? Atau setidaknya untuk yang sudah dikenal tapi kami sama-sama belum saling mengetahui. Ah tapi saya ragu kesenangan dalam mimpi akan mudah terwujud sama bentuknya di kehidupan nyata. Baiklah, perlunya kita beri batas antara mimpi dan yang lebih nyata. Jika dalam mimpi saya bisa sebahagia itu dengan yang belum tentu ada, mengapa saat ini saya tidak bisa mewujudkannya bersama yang benar-benar ada? Kita perlu bahagia tapi tak usah berlebih. Namun saya tak keberatan senantiasa bermimpi seperti semalam, malam-malam sebelumnya di malam-malam berikutnya!