Mari Buat Kesepakatan!

Hitungan pergantian tahun mungkin memang sebuah kesepakatan. Sehingga menjadikannya sebagai momen khusus atau tidak, kembali pada pilihan. Menjadikannya spesial atau biasa saja. Seorang kawan bertanya, apa yang saya siapkan dalam tulisan sebagai refleksi akhir tahun? Refleks, saya menggeleng. Rasanya dari saya lahir tahun baru memang bukan momen yang senantiasa saya rayakan. Sebaliknya saya makin merasa terganggu dengan hadirnya kebisingan malam tahun baru. Petasan yang memekakkan telinga, kemacetan jalan raya, dan lainnya. Apalagi saat harus meliput agenda tahunan ini beberapa tahun lalu. Lelah sekali rasanya. Tapi, saat mencoba melihat dari sudut lain, hal semacam ini bisa jadi menyenangkan bagi orang lain. Membayar lelah dan kepenatan dari perjalanan panjang satu tahun dengan melihat langit berhias kembang api beraneka warna dan rupa, menjadi momen berkumpul dengan keluarga atau yang terdekat.

Malam tahun baru 2018, kebetulan saya libur bekerja. Sehari sebelumnya bersama kawan lama sejak kuliah kami merencanakan pertemuan kecil. Mulanya terpikir ada rencana membuka tenda, tapi urung terwujud–untung sudah terbiasa dengan mengangkat, menebar wacana dengan kawanan di grup ini. Berkumpul di sebuah kedai kopi pun akhirnya tak jadi soal. Kami membicarakan segala remeh-temeh. Mengulang beberapa cerita dengan tambahan kisah baru. Berbagi sedikit pengalaman juga sudut pandang. Sebentar tapi cukup menghangatkan sisa hari disertai hujan yang enggan reda.

Bicara soal teman, sebetulnya terhitung sejak dua tahun lalu konsep pertemanan saya cukup berubah. Tanpa saya sadari saya merombak semuanya. Kembali pada lingkaran-lingkaran kecil, terhubung dengan yang sempat terputus, perlahan meninggalkan yang nampaknya sulit disambung, tak perlu dipaksa, atau memang sudah selayaknya usai. Beberapa waktu lalu ada momen juga yang menguatkan hal satu ini.

Seperti tahun lalu, tahun 2018 saya mensyukuri kehadiran beberapa orang dalam lingkaran-lingkaran kecil ini. Yang senantiasa menyempatkan diri untuk hadir berbagi banyak hal. Yang bersedia bertahan karena saya bukan orang yang cukup luwes dalam menjalin relasi.

Saya juga berterima kasih kepada beberapa penulis buku yang karyanya saya baca selama setahun terakhir. Terutama buku yang mengenalkan konsep mengelola, memahami-menenangkan diri–mengingat betapa sulitnya karakter saya untuk bisa berkompromi dengan banyak hal, apalagi cukup bertolak belakang dengan prinsip. Masih ada beberapa buku yang belum tuntas, saya harus makin keras dan disiplin untuk rajin membaca ketimbang bermain jari dan mata di atas ponsel. Saya harus makin giat memberi asupan terbaik yang mendukung kejernihan dan ketenangan pikir, runut menata permasalahan, dan lugas menyampaikan sesuatu serta menuangkannya dalam tulisan yang enak dan perlu 😀

2017 menjadi momen yang sempat membuat saya merasa tertolak dalam banyak hal sampai-sampai ikut menilai betapa banyak ketaklayakan dalam diri sendiri. Di tahun 2018 saya mencoba kembali menata banyak hal, meski tetap ada gagalnya juga. Tapi saya merasa jadi jauh mengenal perempuan taurus ini. Saya semakin melihat banyak kelemahan juga peluang yang harusnya bisa dioptimalkan lagi.

2018 dipenuhi beberapa perjalanan baru. Saya mengunjungi banyak tempat yang hampir semuanya sempat terlontar di tahun 2017 dan dengan caranya sendiri Allah mengabulkan semuanya, tanpa terkecuali! Meski imbang dengan momen liputan. Jadi semakin gigih melontarkan banyak keinginan lagi 🙂

Tahun 2018 sebetulnya saya masih belum bisa lepas dari masalah tidur tepat waktu. Saya masih bermasalah untuk bisa mendapatkan kualitas istirahat yang optimal. Masih sering tidur larut, pulang malam, kurang olah raga. Tapi perlahan saya sudah bisa mengatur soal asupan makanan. Hasilnya, tahun 2018 saya sukses enggak ke rumah sakit. Eh pernah sebatas ke klinik sih, karena keluhan sakit kepala juga belum sepenuhnya teratasi. Tahun 2019 harus lebih rajin olah raga nih. Rajin cuci muka sama maskeran karena sering jerawatan lagi hahaha

Bagaimana pun, tahun 2018 adalah tahun yang menyenangkan. Saya tetap menutupnya dengan beberapa momen campur-aduk dan tunggakan beberapa bahan tulisan. Tapi jauh lebih membahagiakan ketimbang sebelumnya. Saya lebih punya banyak waktu mengobrol dengan diri sendiri, membuka ruang temu lebih banyak dengan beberapa kawan, berkontemplasi, tukar pikiran, tapi saya tetap berhutang untuk bisa banyak meluangkan waktu untuk pulang, membersamai ibu-bapak, apalagi tahun depan bapak mulai pensiun. Semoga di 2019 ini bisa terpenuhi. Selama bapak enggak lagi menanyakan kapan saya akan menikah, sungguh problematik hal yang satu ini.

Tahun 2019 saya ingin buat kesepakatan baru dengan diri saya. Kesepakatan yang menyenangkan dan juga tentunya senantiasa membawa diri ini jauh lebih baik dalam banyak hal. B banget ya? Gapapa lah Hahahaha. Ya inilah akhirnya tulisan pertama yang saya buat untuk tahun ini!

Advertenties

Kedalaman

Di mana kau akan menumpahkan segala cerita, sejuta puisi, dan segala tetek bengek yang kerap melompat, tengkurap di kepala? Kawan cerita? Aku kerap berpikir tak mau membebani kepala mereka juga atau sekadar meminta jatah kotak untuk bantu menampung tanpa ditumpahkan lagi. Cukup egois ya? Tapi yang dibagi memang bukan untuk terbagi lagi apalagi sampai tak diketahui. Maka kutumpah semua pada diri dan berjalan dengan segala kegontaian lantaran berat ini nisbi.

Suhay Salim Nikah di KUA dan Perkara Eksistensi Lainnya

Kabar pernikahan salah satu beauty vlogger tanah air, Suhay Salim sejak tadi pagi cukup meramaikan beranda media sosial. Terlebih ada sekitar 10 akun teman saya di Instagram yang mengunggah Insta-story foto Suhay Salim bersama suaminya yang hanya melakukan pernikahan di Kantor Urusan Agama.

Langkah sederhana yang diambil Suhay Salim dan suaminya jadi istimewa memang kalau dilihat dari kecamata bagaimana dominan masyarakat Indonesia, menilai kalau sebuah pernikahan itu harus dirayakan. Dan sebuah perayaan identik dengan pesta, berkumpulnya banyak tamu, berlimpahnya makanan, ada hiburan, serta dekorasi aneka warna dan bunga. Kini, semuanya bakal bersarang di unggahan dan album foto di media sosial. Potret pernikahan seperti itu menjadi umum. Sehingga, ketika mendapati kabar seorang influencer terkenal hanya menikah di KUA tanpa gaun dan riasan yang bikin pangling, netizen lagi-lagi geger.

Kenapa? Entah mengapa citra seorang influencer, beauty vlogger akhirnya erat dengan sesuatu yang glamor. Mungkin karena produk make up yang mereka ulas beragam, biasanya bermerek dan tak murah. Lalu hasil riasan yang membuat banyak mata takjub, belum lagi upaya mereka menyajikan sebuah tayangan yang enak dan nyaman dipandang juga ada ongkosnya. Semuanya, tanpa sadar bermuara pada sesuatu bernama materi.

Melihat beberapa video Suhay selama ini dengan gaya bicaranya yang santai dan blak-blakan, bahkan dia saja pernah bercerita soal ketakhadirannya di hari wisuda, maka keputusannya menikah hanya di KUA, tanpa gaun—bahkan hanya pakai celana jeans, tanpa riasan, dan pesta, sebetulnya masuk akal untuk menggambarkan kepribadiannya yang tak mau ribet.  Yves Saint Laurent sempat mengutarakan pandangannya soal blue jeans—busana yang di dalamnya memuat ekspresi, kesopanan, daya tarik, dan juga kesederhanaan. Kalau Suhay bersepakat, maka menikah dengan menggunakan jeans tentu jadi simbol yang meneguhkan prinsip tak mau ribet itu sendiri. Bahkan seorang Andy Warhol pernah bilang ingin mati dalam balutan blue jeans–entah apa karena punya pandangan serupa terhadap pakaian yang tak lekang zaman itu.

Tapi rupanya tak mau ribet dan segala yang sederhana kerap jadi sulit dipahami. Apalagi kalau bicara soal menggelar pernikahan di Negara ini. Dengan budaya yang kaya, beragam, juga aneka sistem kekerabatan yang terbentuk, pilihan untuk hanya ingin menikah di KUA, atau hanya ingin menggelar akad nikah saja—bagi muslim—bisa mengundang perdebatan dalam sebuah keluarga. Belum lagi pengaruh peer pressure atau tekanan rekan sebaya, kerap mempengaruhi sikap atau tindakan seseorang. Termasuk hal-hal yang selanjutnya ia pilih misal hanya untuk memenuhi ego atau agar tidak kalah dari lingkungannya.

Jangankan menikah, bicara soal wisuda juga bisa ribet seperti yang pernah Suhay alami. Dulu saya juga tak ingin hadir di wisuda, kalau pun harus saya sudah punya gambaran seperti apa wisuda saya kelak: tanpa kebaya, tanpa riasan, dan pakai sepatu kets. Lalu apa yang terjadi? Banyak pihak ‘menentang’. Dan membawa embel-embel ‘sekali seumur hidup’, ‘membahagiakan orang tua’, tampil spesial di hari penting’, dll. Realisasinya? Saya berhasil wisuda tanpa kebaya, saya hanya memakai wedges saat prosesi wisuda dan segera menggantinya dengan sneakers saat sudah berfoto-foto dan berjalan keluar gedung, wajah saya dipulas make up lantaran digempur beberapa kawan dengan sedikit ancaman tidak bisa keluar kosan sebelum dirias :D—dan akhirnya saya anggap saja ini buah kepedulian. Untungnya, sebelum prosesi dimulai make up sudah luntur—terima kasih wahai muka berminyakku :”

Bicara wisuda saja bisa serepot itu bukan? Apalagi menikah.

Pengalaman beberapa kali menjadi panitia pernikahan kawan pun membuka mata terhadap realitas betapa banyak orang ingin ‘ikut campur’ dalam momen penting seseorang. Dan ketika terlontar hanya ingin melakukan akad nikah tanpa resepsi, maka rumus ‘sekali seumur hidup’, ‘membahagiakan orang tua’, tampil spesial di hari penting’, dll akan kembali didengar.

Kadang semua itu keluar tanpa mempertimbangkan alasan mendasar mengapa seseorang punya keinginan sesederhana itu. Faktornya bisa macam-macam. Dari memang tak ingin repot, atau lebih baik menggunakan uang untuk memodali kehidupan rumah tangga, daripada habis hanya untuk menggelar pesta. Ada juga yang lebih memilih menggunakan uang yang ada untuk jalan-jalan setelah menyandang status baru sebagai suami-istri. Atas nama ‘momen penting, sehari selamanya’ kadang pesta digelar tanpa lagi mempertimbangkan apakah secara perekonomian memadai atau tidak. Dalam beberapa kasus, menggelar pernikahan tak dimungkiri kerap jadi ajang menunjukkan kelas sosial. Pertaruhan gengsi.

Sebetulnya saya juga jadi penasaran kenapa sih harus ada pesta yang mengiringi sebuah pernikahan? Maka mulailah saya iseng Googling–eh enggak, saya cukup serius kalau meriset, enggak pernah iseng :p–dan ada beberapa referensi yang mengaitkan fase pernikahan itu linier dengan tahapan kehidupan seseorang dari lahir-menikah-berkembang biak-mati. Hal-hal yang ada dalam lingkup itu rata-rata perlu ditandai dengan sebuah ‘perayaan’. Dan kalau di agama saya rupanya resepsi dianjurkan ada (dalam hal ini berfungsi mengabarkan pernikahan agar tak mengundang fitnah)–bukan berarti harus pesta besar juga.

Kebahagiaan-untung-malang menjadi hal berkelindan dalam hidup seseorang. Sebuah pesta digelar sebagai upaya menghindari hal buruk dalam kehidupan. Harapan bisa menjalani hidup yang tak malang, maka hadirlah sebuah pesta diwarnai upacara dan pengorbanan hewan. Tak henti di situ, untuk mendapat kebahagiaan rupanya tak cukup dari mendapat restu orang tua, tapi juga turut mengantongi restu yang sudah tiada. Yang hidup akan senantiasa diikat dengan keberadaan yang telah mati. Hadirlah rangkaian upacara-upacara untuk menjembatani hal tersebut. Lalu ada juga upaya menyematkan nilai kehidupan rumah tangga dalam simbol-simbol aktivitas yang terbentuk dalam rangkaian upacara pernikahan.

Rupanya sejak dulu, pernikahan itu memang sudah diikat dengan sebuah tatanan kepentingan suku, politik keluarga (berkaitan dengan warisan harta juga nama), dan sebagainya. Dan kasus umum yang masih berlaku sampai saat ini, pernikahan memang kerap jadi alat juga terhadap kekuasaan. Menepikan soal kebahagiaan pengantinnya—dalam konteks terpaksa menikah.

Sampai di sini, jujur saya juga bingung dan pusing sendiri. Kerumitan itu rupanya memang dibangun dan dibentuk secara sistematis oleh manusia. Demikian halnya dengan konsep kesederhanaan yang dihadirkan mungkin untuk mengurai kerumitan itu sendiri. Sehingga untuk menjadi rumit atau sederhana akan kembali pada pilihan seseorang, tapi hal itu tak selamanya bersifat tunggal.

Orang yang dalam kehidupannya sudah mengurai hal kompleks antara penting-tidak penting, wajib-tak wajib, dan membangun itu dalam kesepakatan sosial misal dalam keluarga, mungkin akan lebih mudah untuk membentuk sebuah tatanan, sistem baru. Lain cerita dengan lingkungan yang begitu memegang teguh adat, dan wasiat leluhur. Maka sampai kapan pun semuanya akan selalu dibuat bertahan turun menurun.

Sebetulnya selain diikat kultur adat atau ajaran agama, manusia juga dipengaruhi hal lain yang perlahan di alam bawah sadarnya membentuk mimpi atau keinginan-keinginan indah. Mengetahui pernikahan adalah sakral, sekali seumur hidup, selain adat, akan muncul keinginan menjadikan segalanya istimewa. Hadirnya pernikahan impian pun tak terelakkan. Dan di titik ini sifatnya akan personal. Menikah di KUA dan enggak ribet adalah konsep impiannya Suhay Salim. Tapi lain cerita dengan Sandra Dewi yang punya pernikahan impian ala princess Disney. Atau sepupu saya yang sudah punya konsep ideal sejak lama soal pernikahan yang ingin ia wujudkan dan semuanya dia buat dalam daftar yang cukup detail. Dan ia bahagia bisa mewujudkannya.

Tak ada yang salah dengan keputusan siapa pun sebagai perwujudan pernikahan impian mereka. Keputusan-keputusan yang di luar pikiran seseorang lah yang menggiring sesuatu dianggap jadi luar biasa. Padahal, banyak saja orang yang berpikiran seperti Suhay Salim, ingin menikah hanya disahkan secara lembaga dan agama, tanpa pesta. Seperti banyak juga orang yang rela bekerja banting tulang, menabung bertahun-tahun agar bisa menggelar pesta untuk merayakan pernikahan mereka.

Mana yang lebih baik? Penilaian semacam itu akhirnya kembali kepada nilai apa yang dipegang dan diyakini seseorang. Tapi dari pilihan yang diambil Suhay—yang sebetulnya bisa saja menggelar pesta besar misal—saya belajar soal yang namanya mewujudkan keinginan pribadi dan merepresi ego, mengesampingkan tekanan sosial atau upaya memenuhi keinginan pihak yang sebetulnya tak begitu akan berperan dalam kehidupan pernikahan sepasang pengantin, dalam hidup mereka berikutnya.

Apakah sebuah pesta besar akan menjamin rumah tangga yang bahagia? Menikah di KUA juga tak memberi jaminan serupa. Namun pilihan-pilihan yang diambil akan membentuk simpulnya tersendiri.

Melihat beberapa reaksi kagum terhadap pilihan Suhay, saya mengira banyak orang yang sebetulnya juga ingin menikah tanpa harus direpotkan banyak hal. Tapi sulit mengutarakannya, atau masih ragu antara akankah keinginannya direstui, atau apakah itu benar-benar pilihan yang mereka inginkan. Pilihan dan impian Suhay yang terwujud akhirnya jadi patokan ukur bagi yang lain.

Jika setelah ini lebih banyak orang menikah di KUA atas alasan-alasan yang kuat dan bukan hanya soal memenuhi standar sosial yang absurd, mungkin kita harus berterima kasih kepada Suhay Salim yang tindakannya menjadi model umat manusia kalau kata Kant. Atau bisa saja Suhay hanya melakukan sesuatu lantaran menyadari eksistensinya untuk bisa bertindak sesuai kehendak tanpa terikat harus menjadi teladan bagi siapapun— Apa yang lebih penting? Kemampuan kita berpengaruh pada orang lain atau kita yang mudah dipengaruhi orang lain?

Seribu Pura Seribu Cerita

Sebelum melanjutkan perjalanan sendiri, empat hari pertama saya habiskan bersama kawan-kawan tangguh ini. Kami memulai cerita di Kuta. Dengan malam berbagi ranjang, cerita-cerita ringan, diselingi kekonyolan, dan hiburan malam ala kadarnya di dalam kamar. 


Berlanjut ke Sanur, kembali berbagi kasur, antrean kamar mandi, dan cermin. Menikmati malam berikutnya dengan lebih banyak orang. Menyaksikan bagaimana seorang kawan baik kami mengikat janji sehidup semati. 



Lalu berburu pagi untuk mengejar tujuan berikutnya. Kali ini tiga lainnya turut bergabung meski tak semua satu tuju. Cerita pun bertambah lagi. Begitulah hari-hari kami. Mungkin banyaknya habis dengan obrolan dan cerita-cerita lama yang diulang, ada yang baru yang kadang ikut ditertawakan. Menentukan tuju hanya perlu tunjuk seadanya. Tak muluk-muluk. Tanpa seteru dan memaksa ingin satu sama lain.

Mencari hiburan dekat, mencari tempat makan untuk kembali berbagi hangat, atau memaksa cerita-cerita dilontar padahal sebelumnya mungkin ditutup rapat. Mungkin perlahan kami menyadari ada yang lebih subtil dari sekadar menjangkau banyak tempat.

Bagi saya kadang sebuah perjalanan memang bukan kunjung sana-sini. Anjangsana rasanya jadi lebih penting lantaran kami sudah tak serumah lagi. Temu tak mudah dirancang saat pagi untuk bertemu di malam hari.

Dan mungkin setelah ini kami akan perlu waktu lagi. Menyusun rencana temu atau tanpa sama sekali. Terima kasih kesayangan.


Adik kecil itu kebingungan. Ditariknya ujung baju orang dewasa di sampingnya. Lalu ia bertanya. “Aku melihat banyak orang di sekelilingmu, yang mana kawanmu?” Tanyanya demikian polos. Orang dewasa itu merasa tak bisa menjawabnya dengan mudah.

“Yang selalu meninggalkan jejaknya di setiap apa yang kau unggah, Namun tanpa kata?”

“Yang selalu mampir meninggalkan komentar dan berbasa-basi soal rindu namun saat temu absen jua?”

“Yang tiba-tiba menghubungimu saat ada perlu lalu menghilang lagi?”

“Yang tak sepakat dengan sikap atau tindakanmu tapi lebih memilih diam? Alih-alih bertanya. Alih-alih mengingatkan.”

“Yang selalu memantau tapi pura-pura tak tahu? Tapi membaginya dengan yang lain?”

“Yang cerewet. Menghubungimu selalu. Bercerita macam-macam tanpa ragu?”

“Kategori macam apa yang kamu buat adik kecil? Semestinya tak perlu banyak pengelompokan seperti itu. Mudahnya, hatimu sendiri yang bisa menakar semua. Memilihnya, menetapkannya. Cari juga yang memang menghadirkan dirinya saat bersama. Sisanya, biarkan saja. Hatimu akan condong sendiri.

“Tak perlu sebanyak itu, Kak?”

“Tak selalu. Kadang itu tak perlu.”

“Lalu aku harus bagaimana?”

“Bermain saja, Dik. Bermain.”

Kisah dari Bulan Ke Lima, 20 Tahun Lalu

Mei dan sejarah Indonesia punya hubungan erat. Kadang tanpa menyebut tahun, frasa ‘peristiwa Mei’ seakan sudah bisa menjurus arahnya sendiri: demonstrasi besar, kerusuhan, penjarahan, pendudukan MPR/DPR, turunnya Soeharto, Tragedi Semanggi. Semua tak terjadi satu waktu. Namun beberapa hal terjadi beriringan. Dalam satu garis peristiwa.

Menguji Kadar Pertemanan

Seorang kawan membuat sebuah postingan menarik tadi pagi. Soal permainan untuk mengetahui seberapa banyak hal tentang dia yang kita ketahui selama mengenalnya. Ada 10 pertanyaan yang diajukan. Saat saya mencoba, saya berhasil menjawab 9 dari 10. Meski sebetulnya saya bisa menjawab semuanya. Kesalahan yang saya lakukan karena jari terpeleset saat hendak memilih satu jawaban (yang sudah pasti benar) ke pilihan di atasnya. 

Usai menjawab, saya laporan langsung kepada si mpu soal. Tak lama saya coba buat pertanyaan serupa. 10 pertanyaan ringan, soal apa yang saya suka. Teman saya tersebut balik coba jawab, lalu katanya dia cuma mampu menjawab 4 pertanyaan dengan jawaban yang benar.

Lantas apakah kawan saya ini tak begitu mengenal saya? Sebaliknya, saya mengenal baik dia? Hanya lewat 10 pertanyaan saja? Dari nyaris 12 tahun perkenalan kami? Tentu tidak.

Tapi lucu juga, di satu sisi pertanyaan yang saya susun saya kira sangat umum dan siapa pun tanpa harus dekat dulu dengan saya bisa mengira dengan asal. Setidaknya kalau mengetahui saya seorang introvert, tak begitu suka keramaian, senang menyendiri, suka kabur-kaburan, kerap tak terdeteksi, yaaa… dan hidup yang nyaris minim drama apalagi melodrama. Datar benar.

Tapi dari ciri khas itulah saya coba menyimpulkan, “lo yang kayak gitu, makanya hal-hal remeh pun orang bisa luput.” Lalu bagaimana dengan hal besar? Misal? Mimpi lo, Cha? Keinginan terbesar lo, harapan lo? Yang lo suka, ketakutan lo, mungkin? Atau selama ini lo pernah suka sama siapa? Selama ini pernah deket sama siapa? Lo itu mau nikah apa enggak? Dll”

Setidaknya itu pertanyaan yang mungkin ada di benak beberapa orang, tanpa perlu saya sebut namanya. Tapi ada juga pertanyaan yang akhirnya terlontar dengan nada ‘agak takut salah nanya’

Sesungguhnya, pertanyaan-pertanyaan di atas buat saya bukan hal yang sangat pribadi dengan banyak tapi. Tapi?

Tapi saya simpan, tak merasa perlu diceritakan. Perlu atau tidak ditanyakan? Saya kira yang bertanya perlu berkaca, ada kepentingan apa dan punya kedekatan sejauh mana dengan saya :p

Dan pikiran soal ini nampak jadi menemukan sebuah titik simpang menarik saat semalam saya mampir ke Goethe. Menonton sebuah film Itali–jangan tanya kenapa enggak diputar di Pusat Kebudayaan Italia ya–berjudul The Perfect Strangers.

Ini cerita menarik. Sekelompok dewasa melakukan pertemuan, makan malam lalu melakukan sebuah permainan. Menaruh semua ponsel di meja makan. Agar bisa memiliki waktu berkualitas? Total lakukan komunikasi tanpa gadget? Lebih dari itu.

Kalau ada pesan atau telepon masuk harus dibaca dan diperdengarkan dengan lantang ke semua orang. Ini tantangan untuk mengetahui seberapa jauh masing-masing mereka yang katanya sudah kenal lama satu sama lain, bahkan ada yang sudah berteman sejak kecil itu cuek-cuek saja dengan segala pesan yang ada. Sudah seterbuka itukah mereka selama ini?

Sepanjang film penonton dihadapkan pada pertanyaan mendasar: sejauh mana kita berani jujur dan sedalam apa kita menyimpan rahasia dari yang namanya teman dekat, bahkan pasangan hidup sendiri.

Kisahnya sederhana saja. Berlatar di sebuah rumah, balkon-dapur-meja makan. Dialog yang hadir pun obrolan-obrolan ringan. Kadang ada bobotnya, ada humornya. Dan tentu yang membuat menarik adalah saat satu persatu pesan muncul, telepon berdering. Lebih utama akhir ceritanya sih. Twist plotnya juara. Dan patut kita renungkan kalau kata Ebiet G. Ade.

Tak ada salahnya bercerita dan tak ada salahnya juga menutup beberapa hal hanya untuk diri kita. Kecuali kalau ingin membuatnya sebagai sebuah rahasia. Saya selalu terngiang pernyataan Orwell, jika kau ingin menjaga sebuah rahasia, kau juga harus menyembunyikannya dari dirimu sendiri. Yang berarti ya rahasia itu enggak ada. Atau kecuali, ini murni kuasa langit.

Parameter pertemanan itu benar-benar bisa komplek juga ya. Siapakah teman, kawan, sahabat kita sebenarnya? Berapa banyak idealnya jumlah mereka? Benarkah makin banyak makin baik? Atau sebaliknya? Syarat apa yang layak dipenuhi seseorang untuk bisa masuk dalam lingkaran terdekat di hidupmu? Cuma masing-masing orang yang punya jawabannya. Karena ini berkaitan dengan kebutuhan dan kenyamanan. Di tulisan sebelumnya saya sempat menyinggung juga sih soal ‘pertemanan’ dan di sana tersirat juga soal pertemanan macam apa yang nyaman bagi saya saat ini.

Ah terima kasih hari ini! Di bagian ini saya juga teringat saat Ustad Nouman Ali Khan menyampaikan kuliahnya tadi siang di Istiqlal. Teman yang kita pilih cerminan diri dan juga yang akan memberi pengaruh terhadap diri kita masing-masing. Sedekat apapun kita saat ini, di hari penilaian kelak kita kembali asing. Tapi semoga pertemanan yang terjalin dan terhubung selama ini jadi salah satu pemberat amal baik serta membuka jalan kebaikan agar setelah dinilai, sempat lupa, kita bisa kembali ingat dan dikumpulkan sama-sama di surganya Allah ya :’)
*judulnya diedit biar lebih ringkas 😀