Seribu Pura Seribu Cerita

Sebelum melanjutkan perjalanan sendiri, empat hari pertama saya habiskan bersama kawan-kawan tangguh ini. Kami memulai cerita di Kuta. Dengan malam berbagi ranjang, cerita-cerita ringan, diselingi kekonyolan, dan hiburan malam ala kadarnya di dalam kamar. 


Berlanjut ke Sanur, kembali berbagi kasur, antrean kamar mandi, dan cermin. Menikmati malam berikutnya dengan lebih banyak orang. Menyaksikan bagaimana seorang kawan baik kami mengikat janji sehidup semati. 



Lalu berburu pagi untuk mengejar tujuan berikutnya. Kali ini tiga lainnya turut bergabung meski tak semua satu tuju. Cerita pun bertambah lagi. Begitulah hari-hari kami. Mungkin banyaknya habis dengan obrolan dan cerita-cerita lama yang diulang, ada yang baru yang kadang ikut ditertawakan. Menentukan tuju hanya perlu tunjuk seadanya. Tak muluk-muluk. Tanpa seteru dan memaksa ingin satu sama lain.

Mencari hiburan dekat, mencari tempat makan untuk kembali berbagi hangat, atau memaksa cerita-cerita dilontar padahal sebelumnya mungkin ditutup rapat. Mungkin perlahan kami menyadari ada yang lebih subtil dari sekadar menjangkau banyak tempat.

Bagi saya kadang sebuah perjalanan memang bukan kunjung sana-sini. Anjangsana rasanya jadi lebih penting lantaran kami sudah tak serumah lagi. Temu tak mudah dirancang saat pagi untuk bertemu di malam hari.

Dan mungkin setelah ini kami akan perlu waktu lagi. Menyusun rencana temu atau tanpa sama sekali. Terima kasih kesayangan.


Advertenties

Adik kecil itu kebingungan. Ditariknya ujung baju orang dewasa di sampingnya. Lalu ia bertanya. “Aku melihat banyak orang di sekelilingmu, yang mana kawanmu?” Tanyanya demikian polos. Orang dewasa itu merasa tak bisa menjawabnya dengan mudah.

“Yang selalu meninggalkan jejaknya di setiap apa yang kau unggah, Namun tanpa kata?”

“Yang selalu mampir meninggalkan komentar dan berbasa-basi soal rindu namun saat temu absen jua?”

“Yang tiba-tiba menghubungimu saat ada perlu lalu menghilang lagi?”

“Yang tak sepakat dengan sikap atau tindakanmu tapi lebih memilih diam? Alih-alih bertanya. Alih-alih mengingatkan.”

“Yang selalu memantau tapi pura-pura tak tahu? Tapi membaginya dengan yang lain?”

“Yang cerewet. Menghubungimu selalu. Bercerita macam-macam tanpa ragu?”

“Kategori macam apa yang kamu buat adik kecil? Semestinya tak perlu banyak pengelompokan seperti itu. Mudahnya, hatimu sendiri yang bisa menakar semua. Memilihnya, menetapkannya. Cari juga yang memang menghadirkan dirinya saat bersama. Sisanya, biarkan saja. Hatimu akan condong sendiri.

“Tak perlu sebanyak itu, Kak?”

“Tak selalu. Kadang itu tak perlu.”

“Lalu aku harus bagaimana?”

“Bermain saja, Dik. Bermain.”

Kisah dari Bulan Ke Lima, 20 Tahun Lalu

Mei dan sejarah Indonesia punya hubungan erat. Kadang tanpa menyebut tahun, frasa ‘peristiwa Mei’ seakan sudah bisa menjurus arahnya sendiri: demonstrasi besar, kerusuhan, penjarahan, pendudukan MPR/DPR, turunnya Soeharto, Tragedi Semanggi. Semua tak terjadi satu waktu. Namun beberapa hal terjadi beriringan. Dalam satu garis peristiwa.

Menguji Kadar Pertemanan

Seorang kawan membuat sebuah postingan menarik tadi pagi. Soal permainan untuk mengetahui seberapa banyak hal tentang dia yang kita ketahui selama mengenalnya. Ada 10 pertanyaan yang diajukan. Saat saya mencoba, saya berhasil menjawab 9 dari 10. Meski sebetulnya saya bisa menjawab semuanya. Kesalahan yang saya lakukan karena jari terpeleset saat hendak memilih satu jawaban (yang sudah pasti benar) ke pilihan di atasnya. 

Usai menjawab, saya laporan langsung kepada si mpu soal. Tak lama saya coba buat pertanyaan serupa. 10 pertanyaan ringan, soal apa yang saya suka. Teman saya tersebut balik coba jawab, lalu katanya dia cuma mampu menjawab 4 pertanyaan dengan jawaban yang benar.

Lantas apakah kawan saya ini tak begitu mengenal saya? Sebaliknya, saya mengenal baik dia? Hanya lewat 10 pertanyaan saja? Dari nyaris 12 tahun perkenalan kami? Tentu tidak.

Tapi lucu juga, di satu sisi pertanyaan yang saya susun saya kira sangat umum dan siapa pun tanpa harus dekat dulu dengan saya bisa mengira dengan asal. Setidaknya kalau mengetahui saya seorang introvert, tak begitu suka keramaian, senang menyendiri, suka kabur-kaburan, kerap tak terdeteksi, yaaa… dan hidup yang nyaris minim drama apalagi melodrama. Datar benar.

Tapi dari ciri khas itulah saya coba menyimpulkan, “lo yang kayak gitu, makanya hal-hal remeh pun orang bisa luput.” Lalu bagaimana dengan hal besar? Misal? Mimpi lo, Cha? Keinginan terbesar lo, harapan lo? Yang lo suka, ketakutan lo, mungkin? Atau selama ini lo pernah suka sama siapa? Selama ini pernah deket sama siapa? Lo itu mau nikah apa enggak? Dll”

Setidaknya itu pertanyaan yang mungkin ada di benak beberapa orang, tanpa perlu saya sebut namanya. Tapi ada juga pertanyaan yang akhirnya terlontar dengan nada ‘agak takut salah nanya’

Sesungguhnya, pertanyaan-pertanyaan di atas buat saya bukan hal yang sangat pribadi dengan banyak tapi. Tapi?

Tapi saya simpan, tak merasa perlu diceritakan. Perlu atau tidak ditanyakan? Saya kira yang bertanya perlu berkaca, ada kepentingan apa dan punya kedekatan sejauh mana dengan saya :p

Dan pikiran soal ini nampak jadi menemukan sebuah titik simpang menarik saat semalam saya mampir ke Goethe. Menonton sebuah film Itali–jangan tanya kenapa enggak diputar di Pusat Kebudayaan Italia ya–berjudul The Perfect Strangers.

Ini cerita menarik. Sekelompok dewasa melakukan pertemuan, makan malam lalu melakukan sebuah permainan. Menaruh semua ponsel di meja makan. Agar bisa memiliki waktu berkualitas? Total lakukan komunikasi tanpa gadget? Lebih dari itu.

Kalau ada pesan atau telepon masuk harus dibaca dan diperdengarkan dengan lantang ke semua orang. Ini tantangan untuk mengetahui seberapa jauh masing-masing mereka yang katanya sudah kenal lama satu sama lain, bahkan ada yang sudah berteman sejak kecil itu cuek-cuek saja dengan segala pesan yang ada. Sudah seterbuka itukah mereka selama ini?

Sepanjang film penonton dihadapkan pada pertanyaan mendasar: sejauh mana kita berani jujur dan sedalam apa kita menyimpan rahasia dari yang namanya teman dekat, bahkan pasangan hidup sendiri.

Kisahnya sederhana saja. Berlatar di sebuah rumah, balkon-dapur-meja makan. Dialog yang hadir pun obrolan-obrolan ringan. Kadang ada bobotnya, ada humornya. Dan tentu yang membuat menarik adalah saat satu persatu pesan muncul, telepon berdering. Lebih utama akhir ceritanya sih. Twist plotnya juara. Dan patut kita renungkan kalau kata Ebiet G. Ade.

Tak ada salahnya bercerita dan tak ada salahnya juga menutup beberapa hal hanya untuk diri kita. Kecuali kalau ingin membuatnya sebagai sebuah rahasia. Saya selalu terngiang pernyataan Orwell, jika kau ingin menjaga sebuah rahasia, kau juga harus menyembunyikannya dari dirimu sendiri. Yang berarti ya rahasia itu enggak ada. Atau kecuali, ini murni kuasa langit.

Parameter pertemanan itu benar-benar bisa komplek juga ya. Siapakah teman, kawan, sahabat kita sebenarnya? Berapa banyak idealnya jumlah mereka? Benarkah makin banyak makin baik? Atau sebaliknya? Syarat apa yang layak dipenuhi seseorang untuk bisa masuk dalam lingkaran terdekat di hidupmu? Cuma masing-masing orang yang punya jawabannya. Karena ini berkaitan dengan kebutuhan dan kenyamanan. Di tulisan sebelumnya saya sempat menyinggung juga sih soal ‘pertemanan’ dan di sana tersirat juga soal pertemanan macam apa yang nyaman bagi saya saat ini.

Ah terima kasih hari ini! Di bagian ini saya juga teringat saat Ustad Nouman Ali Khan menyampaikan kuliahnya tadi siang di Istiqlal. Teman yang kita pilih cerminan diri dan juga yang akan memberi pengaruh terhadap diri kita masing-masing. Sedekat apapun kita saat ini, di hari penilaian kelak kita kembali asing. Tapi semoga pertemanan yang terjalin dan terhubung selama ini jadi salah satu pemberat amal baik serta membuka jalan kebaikan agar setelah dinilai, sempat lupa, kita bisa kembali ingat dan dikumpulkan sama-sama di surganya Allah ya :’)
*judulnya diedit biar lebih ringkas 😀

Embara

Ayahku berselingkuh saat aku berusia tiga atau empat tahun. Waktu di mana tiga adikku masih berebut jatah susu pada ibuku. Aku tak mengerti apa yang terjadi kecuali setiap hari kutemukan ibu menangis diam-diam. Entah saat menyiapkan sarapan, seringnya malam hari. Saat ia merasa kami semua sudah terlelap. Dan tentunya tak ada ayah di rumah.

Aku kembali mendengar kabar ini saat sudah usia sekolah. Kabar ayahku main dengan wanita lain semacam jadi hal yang bisa diketahui siapa saja. Dan perlahan aku lihat Ibu sudah tak peduli lagi. Sejak aku sekolah dasar, Ibu selalu bilang, “kalau kamu sudah dewasa hati-hati memilih pasangan. Jangan sampai bertemu seperti ayah. Ibu doakan kamu dijauhkan dari lelaki semacam itu,” lagi-lagi perkataan orang dewasa semacam itu baru bisa kupahami lagi di kemudian hari.

Tapi apakah kamu tahu pengaruhnya? Hingga kini aku sama sekali tak tertarik menjalin hubungan dengan lelaki. Aku bahkan kerap menghindar begitu ada yang mendekat. Padahal aku tahu bukan itu maksud ibuku padaku dulu. Tapi, apa yang dilakukan ayah dan kulihat sendiri membuatku benci padanya juga manusia sejenis ia.

Pernah kuutarakan maksud pada ibu untuk tak menikah. Ibu hanya menatapku lama lalu menangis. Ia lantas mengguncang bahuku. Ia sempat nyaris menamparku, tapi urung. Ia menangis, meraung. Perkataannya beradu dengan tangisan, raungan. Membuat adik bungsuku yang kebetulan ada di rumah ikut nimbrung ke kamar saat itu.

Malamnya, ibu mengumpulkan kami semua. Aku si sulung yang saat itu masih SMA kelas 2, adikku setahun di bawahku, dua adik lainnya masih di bangku SMP. Entahlah, mungkin pernyataanku jadi pemicunya. Malam itu menceritakan detail bagaimana ia mulai mengetahui ayah berselingkuh. Pertama kali diketahui ayah sempat minta maaf dan mengaku khilaf. Adegan meminta maaf sampai aju sumpah ia lakukan di hadapan Ibu yang saat itu sedang menete si bungsu. 

Usia pernikahan baru 7 tahun ujiannya sudah segila itu tutur Ibu. Tak lama, ayah ketahuan lagi. Ada saja cara Tuhan memberi tahu Ibu, demikian kata Ibu. “Selincah-lincahnya lelaki, ia selalu kalah dari insting perempuan,” kata Ibu menerawang. Cerita panjang Ibu dan segala sakit yang ia rasakan selama ini tertuang lengkap. Ditutup sebuah pesan “Ibu bisa saja memilih tak menikah saat itu. Toh ini pernikahan yang diatur, bisa dibilang dipaksakan. Karena pernikahan ini impian Ibu banyak yang harus pupus. Ibu tak melanjutkan sekolah, Ibu mengubur mimpi bisa kuliah, Ibu memenuhi keinginan orang tua. Menikah lelaki yang mereka tentukan. Ibu lahirkan kalian, dan diperlakukan seolah hanya sebuah pabrik anak. Ibu tak mau kalian seperti Ibu, tapi bukan berarti kalian trauma dengan kisah Ibu dan memilih untuk tak menjalani peran sebagai seorang Ibu, seorang istri.”

Ibu mengatakan lelaki brengsek seperti ayah kami mungkin masih ada dan banyak saja di muka bumi ini. Tapi untuk menghapus keberadaan mereka di muka bumi maka harus ada juga Ibu-ibu yang melahirkan lelaki baik, lelaki bertanggung jawab, lelaki yang tak hanya digerakkan nafsu, lelaki yang selalu merasa lebih tinggi dan superior. “Harus ada juga perempuan yang bisa membuktikan kalau lelaki semacam ayahmu itu pada akhirnya tak berguna dan tak akan jadi pilihan para perempuan.”

Ya, hanya perempuan dengan asam garam kehidupan yang bisa membuahkan pikiran seperti ini. Ia menyimpan dendam tapi bukan dibalut amarah tak wajar. Kemarahan, dendam Ibu kupahami sepenuhnya. Ia menyimpan itu dan membalutnya dengan sebuah mimpi besar yang ia titipkan pada kami, empat putrinya. Ah ya, ayah pernah menyalahkan Ibu juga yang dianggap mandul untuk bisa melahirkan anak laki-laki. Ayah tak pernah mau lagi bermain dengan kami semenjak kelahiran si bungsu, semenjak perselingkuhannya diketahui Ibu.

Ayah dan Ibu masih terikat pernikahan sampai aku kelas 1 SMP. setelah itu Ibu meminta cerai. Bukan karena tak sanggup lagi menghadapi suami semacam itu. Segala kebusukan ayah perlahan nampak sejak dua-tiga tahun pernikahan. Perselingkuhan dan main wanita semacam jadi lonceng keras bagi Ibu untuk mulai waspadai pernikahannya dan rumah tangganya. Ibu anak yang penurut kepada orang tuanya. Tapi ia juga pribadi yang keras. Perlahan apa yang ia hadapi di fase berumah tangga yang sudah tak ada campur tangan orang tua dan mertua, jadi hal yang ia anggap harus bisa ia kendalikan. Semakin lama Ibu sadar, ayah yang bejad ini tak bisa berlama-lama ada di lingkungan 4 anak perempuannya. Dengan segala keterbatasan perceraian ia ajukan. Dan dasar lelaki hidung belang dan tak mau menanggung beban, ia tak keberatan bahkan terang-terangan mempersilakan Ibu bawa kami semua.

Lewat cerita ini apakah ada yang bersimpati terhadap keberadaan lelaki macam itu?

Kisah hidupku ini juga ternyata masih belum seberapa dibanding kisah lain yang kudengar saat aku beranjak dewasa. Tapi tetap, Ibu adalah wanita paling tangguh dan luar biasa bagiku. Tapi pesan dia untuk menikah, itu benar-benar masih perlu aku pertimbangkan lagi, lebih dalam. Meski berkali-kali Ibu bilang, “mungkin ini cuma Ibu yang tak beruntung. Tapi Ibu tak akan biarkan ini jadi turun menurun.”

Hari 15

Malam itu usai menonton dia menolak untuk melanjutkan obrolan di warung kopi. Tapi obrolan berlangsung dalam perjalanan menuju stasiun. Untungnya saya tak bawa vespa, ia pun tak membawa sepeda.

Di stasiun kami berpisah karena berbeda arah. Saya ke Selatan, dia ke Utara.

Temu kami selanjutnya lebih terprediksi: saat jadwal tepat untuk menonton film bagus di bioskop alternatif–lagi-lagi. Kadang kami saling tukar info acara diskusi, acara musik, apa saja. Kadang artikel yang menarik. Secara selera sebetulnya banyak yang berbeda. Tapi sejak mengenal dia, kami–sebetulnya saya, tak keberatan untuk mencoba menikmati apa yang ia suka. Setidaknya untuk memperluas referensi.

Satu hal yang menarik, ternyata masa kecil kami sama-sama diperdengarkan lagu-lagu komposer Perancis, Paul Mauriat. Di titik temu itu kami bernostalgia. Menyenandungkan aransemen bersama sembarang nada. “Aku enggak pernah tahu judulnya. Tapi kalau dengar aku tahu itu lagu yang mana. Sebelumnya apa… setelahnya apa!” Ujarnya berapi-api.

Saya hanya tergelak. Perasaan yang terwakili tanpa perlu mengulangi ucapan serupa.

Hari 14

“Aku Farraz, kayaknya tempo lalu kita belum kenalan. Iya enggak sih?” Ia menggigit bibir bawahnya.

Saya mengangguk. Dia tersenyum. “Heran juga ya, kayak udah kenal lama aja sampai kenalan aja luput,” timpal saya. Dia tergelak. “Aku juga ngerasa gitu waktu itu. Kayak ketemu temen lalu makan bareng dan ya ngobrol apa aja…” Saya memperbaiki letak kacamata. Dia mengetuk jemari di atas meja. “Aku tahu nama kamu dari broadcast beberapa waktu lalu. Soal petisi…” “Ya, saya sama beberapa kawan menggagas itu. Kadang kantor perlu diperingatkan,” jawab saya sembari mengelus Tolstoy.

Matanya kini tertuju padanya. “Di mana ada cinta di sana Tuhan ada,” ucapnya halus. “Sudah bertemu Ivan?” Tanyanya.

Saya berpikir sejenak. “Oh lelaki malang itu…” “Aku suka cerita itu. Judulnya, kisahnya. Mirip dengan Shawsank Redemption enggak sih?” Matanya berbinar. “Ya, ada bagian yang mirip. Lelaki yang harus menanggung hukuman atas hal yang tak dia lakukan sama sekali.” “Itu film bagus. Aku enggak pernah bosan.” “Genre favorit?” Tembak saya. “Aku sebetulnya lebih suka dokumenter. Hal yang real. Tapi kadang beberapa film laga atau drama bisa kunikmati. Ya selama ada hal menarik saja. Kamu?” “Ya… mirip lah. Saya enggak begitu suka cerita alien.” “Pernah nonton District 9? Enggak semua film alien menyebalkan,” senyum setipis itu saja sudah menghadirkan dua lekuk sempurna di wajahnya. “Kalau ada waktu setelah nonton mungkin kita bisa lanjut obrolan ini?” @30haribercerita